Di tengah kondisi alam yang terus berubah, kesiapsiagaan menjadi kebutuhan yang perlu diperhatikan. Salah satu pesan penting yang sering terlupakan adalah untuk melakukan persiapan matang dan upaya simulasi evakuasi, terutama bagi teman-teman disabilitas Apa itu?
Kasihan, Unit Layanan Inklusi Disabilitas (LIDi) menjelaskan urgensi memiliki Tas Siaga Bencana. Tas ini tidak harus mewah atau bermerek karena fungsinya bukan sekadar wadah pakaian, melainkan sebagai sistem pendukung kehidupan ketika tiba-tiba terjadi bencana.
"Tas siaga itu adalah, sebenarnya ada sebuah tempat yang bisa membawa barang-barang kebutuhan urgent, kebutuhan penting kita setiap hari untuk mendukung keselamatan. Kita kalau berbicara tas siaga itu, sebenarnya tidak harus berupa tas betulan. Misalnya, oh punya kita karung. Ya sudah, tidak apa-apa. Kita punyanya kantong, tapi kuat. Ya sudah, itu dipakai saja. Tetapi memang referensinya adalah wadah atau tempat yang lebih aman, terutama dari air," terangnya dalam diskusi daring Lunch Talk yang digelar oleh Gelitik pada Rabu (4/2/2026).
Komponen Penyelamat Nyawa
Ia menjelaskan ada beberapa komponen krusial wajib masuk dalam daftar, yakni:
- Kesehatan: Prioritas utama yang harus dimasukkan dalam tas adalah obat-obatan pribadi.
- Kebutuhan dasar: Air minum, makanan tahan lama, dan pakaian secukupnya.
- Alat penanda keberadaan: Peluit untuk memberi penanda suara dan senter sebagai penanda cahaya. Ini sangat diperlukan bagi teman-teman disabilitas yang membutuhkan sinyal berupa suara atau cahaya.
- Dokumen: Surat-surat berharga yang telah dilindungi plastik kedap air.
Komponen-komponen itu saja belum cukup, karena kesiapan fisik tanpa rencana komunikasi juga akan berujung kepanikan ketika terjadi bencana.
Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah melakukan diskusi untuk kesepakatan keluarga ketika secara tiba-tiba terjadi situasi darurat. Di saat seperti itu, setiap anggota keluarga harus tahu tugasnya, mulai dari yang membawa tas, yang membantu anggota keluarga dengan kebutuhan tertentu, hingga mengetahui jalur evakuasi yang harus ditempuh.
Tas Siaga yang sudah disiapkan tadi juga harus dicek secara berkala. Kasihan mengingatkan setiap tiga bulan sekali, isinya harus diperiksa. Makanan dan obat-obatan pasti memiliki masa kedaluwarsa. Oleh karena itu, kita tidak boleh lupa.
Sementara itu, dokumen fisik juga bisa saja rusak karena tas terlalu lembap atau terdapat gangguan hama. Pastikan isi tas tetap bisa dimanfaatkan apabila terjadi bencana secara tiba-tiba.
Rencana Evakuasi Inklusif
Bagi keluarga dengan anggota disabilitas, pembagian tugas harus jelas dan jalur evakuasi harus sudah disepakati. Bila perlu, lakukan simulasi untuk menanggulangi bencana yang mungkin rawan terjadi.
Terakhir, Kasihan mengingatkan penyandang disabilitas untuk memahami sistem peringatan dini dan berani merespons tanda-tanda alam secara mandiri sebelum bantuan datang. Simulasi evakuasi bukan sekadar latihan formalitas, melainkan sebuah cara tubuh mengingat apa yang harus dilakukan ketika benar-benar terjadi bencana.
Baca Juga
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
Artikel Terkait
-
Tidak Terdata, Tidak Terlindungi: Mengapa Disabilitas Kerap Tertinggal dalam Penanganan Bencana?
-
Respons Cepat Kemensos, Bantuan dan Dapur Umum Disiapkan untuk Korban Bencana di Tegal
-
Urgensi Pendidikan Mitigasi Bencana Sejak Bangku Sekolah
-
Kemensos - BGN Matangkan Program MBG Lansia dan Disabilitas
-
Wamensos Beberkan Rincian Bantuan Bencana Sumatra: Santunan Rp15 Juta hingga Modal Usaha Rp5 Juta
News
-
Kembangkan Literasi Digital Siswa, Dosen UNP Kediri Ciptakan Model Belajar Berbasis AR dan AI
-
Menumbuhkan Rimba Bawah Laut: Perjuangan Sunyi Nyoman Nadiana dari Desa Les
-
Di Tangan Nyoman Nadiana, Tradisi Garam Desa Les Terus Hidup dan Lekat dengan Masyarakat
-
Kasus Pertanahan Capai 56.844, Mengapa Masyarakat Perlu Melek Soal Tanah?
-
Dari Kemiren untuk Kemiren: Kiprah Kang Edai Bersama Astra
Terkini
-
Membongkar Dosa Besar Para Anak Rantau Lewat Lagu Sesi Potret
-
Period Poverty dalam Ketimpangan Kelas: Menggugat Hak Dasar Tubuh Perempuan
-
Viral Karena TikTok, Menkes Ungkap Manfaat Luar Biasa Umbi Kimpul untuk Kesehatan
-
HUT ke-81 RI dan Kebebasan Digital: Saatnya Merdeka dari Scroll Tanpa Henti
-
4 Facial Wash Anti-Aging Rawat Elastisitas Kulit, Harga Murah Rp30 Ribuan