M. Reza Sulaiman | Fauzah Hs
Ilustrasi gajah Sumatera (Pexels/Wolfgang Schlaifer)
Fauzah Hs

Sobat Yoursay, coba bayangkan kamu sedang duduk di teras rumah, menikmati udara pagi yang sejuk, lalu tiba-tiba dari balik rimbunnya pohon di kebun belakang, sepasang mata tajam milik seekor macan tutul menatapmu dengan dingin. Rasanya mustahil, kan? Sayangnya, bagi warga Desa Maruyung di Kabupaten Bandung, kengerian ini adalah kenyataan yang baru saja terjadi pada Kamis, 5 Februari 2026 kemarin.

Sebuah drama kepanikan pecah di permukiman warga ketika predator puncak itu "bertamu" tanpa diundang. Beruntung, satwa malang itu berhasil diamankan tanpa luka. Namun, kejadian ini meninggalkan kebingungan: mengapa penghuni hutan kini lebih memilih berjalan-jalan di gang desa daripada bersembunyi di balik semak rimba?

Kabar dari Bandung itu hanya separuh dari potret buram ekologi kita pekan ini. Mari kita terbang sejenak ke Pelalawan, Riau, di mana sebuah pemandangan yang jauh lebih menyayat hati ditemukan di area konsesi perusahaan.

Seekor gajah sumatera, sang raksasa yang bijak, ditemukan tewas mengenaskan tanpa kepala. Baunya yang menyengat mengantar seorang saksi menemukan bangkai itu pada Senin malam, 2 Februari 2026. Tidak butuh ahli forensik jenius untuk menebak apa yang terjadi; hilangnya kepala gajah tersebut menjadi bukti kuat adanya perburuan gading yang terorganisasi dan keji.

Kedua kasus ini adalah potongan mosaik dari satu masalah besar yang terus kita abaikan, yakni krisis relasi manusia dan alam. Satu satwa membuat warga panik karena "masuk kampung", satu satwa lain mati mengenaskan di tengah hutan yang katanya masih menjadi rumahnya. Pertanyaannya, Sobat Yoursay, siapa sebenarnya yang sedang "menyerobot" wilayah siapa?

Jangan salah sangka, macan tutul bukanlah satwa yang gemar bersosialisasi dengan manusia. Ia turun gunung bukan karena keingintahuan, melainkan karena habitatnya semakin terdesak. Hutan yang dulu menyediakan ruang berburu, berlindung, dan berkembang biak, kini terfragmentasi oleh vila, jalan, kebun, dan proyek pembangunan.

Penyempitan ruang hidup ini memaksa satwa liar keluar dari zona nyamannya dan terjebak di area permukiman yang merupakan sisa-sisa dari jalur alami mereka yang telah hilang.

Berbeda dengan kisah macan tutul yang masih berujung penyelamatan, tragedi gajah sumatera di Riau menunjukkan wajah paling brutal dari konflik ini. Seekor gajah ditemukan tewas tanpa kepala di areal konsesi perusahaan. Kepala yang terpotong kuat mengarah pada dugaan perburuan gading. Ini bukan lagi soal satwa "mengganggu" manusia, melainkan manusia yang secara sadar dan sistematis menghabisi satwa demi keuntungan ekonomi.

Sobat Yoursay, kita perlu berhenti berpura-pura bahwa konflik satwa dan manusia adalah masalah alam semata. Tragedi ini adalah produk nyata dari carut-marut politik ruang, ambisi ekonomi, dan tumpulnya penegakan hukum. Gajah sumatera tidak punah karena seleksi alam; mereka binasa karena ada permintaan pasar yang rakus dan celah hukum yang menganga. Selama perburuan dianggap sebagai peluang bisnis yang minim risiko, selama itu pula satwa kita akan terus menjadi tumbal.

Sangat ironis melihat lahan konsesi yang mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi perusahaan justru menjadi "kuburan" bagi satwa dilindungi. Lokasi temuan ini menjadi bukti nyata adanya lubang besar dalam pengawasan internal mereka.

Kewajiban menjaga alam tidak bisa hanya diselesaikan dengan memasang papan larangan berburu, sementara birokrasi keamanan mereka membiarkan kejahatan sistematis terjadi begitu saja.

Sobat Yoursay, pemerintah kita sangat ahli dalam hal penanganan pascakejadian. Mereka hadir dengan seragam lengkap untuk olah TKP dan merilis pernyataan penyelidikan yang klise. Namun, kehadiran ini sering kali terasa seperti pemadam kebakaran yang datang saat rumah sudah menjadi abu.

Kita luput membahas masalah utamanya, yaitu pemberian izin konsesi yang begitu murah hati tanpa mempertimbangkan sisa-sisa ruang hidup satwa. Negara seolah lebih sibuk mengurus administrasi kematian satwa daripada menjaga agar mereka tetap hidup di habitatnya.

Di satu sisi, warga yang panik menghadapi macan tutul juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka sebenarnya adalah korban dari sistem yang tidak pernah dirancang untuk hidup berdampingan dengan alam.

Ketika edukasi mitigasi masih menjadi barang langka dan respons darurat otoritas kerap terlambat, rasa takut warga menjadi hal yang manusiawi. Akibatnya, kemunculan satwa liar di permukiman selalu dipandang sebagai ancaman keamanan yang harus segera disingkirkan, bukan sebagai sinyal bahaya dari ekosistem yang sedang sekarat.

Berbeda dengan warga yang takut, pemburu gajah sumatera digerakkan oleh keserakahan. Gading gajah adalah incaran pasar gelap yang menjanjikan kekayaan instan. Jika hukum kita tidak bisa memberi efek jera dan pasar ilegalnya tidak diputus, pembunuhan satwa akan terus terjadi. Jangan tertipu oleh sunyinya berita; selama ada uang di baliknya, gajah-gajah kita tetap tidak pernah aman.

Sobat Yoursay, berhentilah menyalahkan satwa yang turun gunung. Tanyakan pada diri kita sendiri: sudah seberapa jauh kita menghancurkan rumah mereka?

Tanpa empati ekologis dalam setiap kebijakan pembangunan, yang tersisa hanyalah konflik berdarah. Jangan biarkan masa depan kita hanya diisi oleh kepanikan warga dan cerita tentang satwa yang punah karena keserakahan manusia.

Mari kita kawal terus isu ini, karena suara kita adalah harapan terakhir bagi mereka yang tidak bisa bicara.