Tunjangan Hari Raya atau THR selalu hadir sebagai simbol kegembiraan menjelang Idulfitri. Ia dinanti pekerja, diperbincangkan di kantor, dan sering kali sudah memiliki daftar alokasi bahkan sebelum cair.
Di atas kertas, THR dimaksudkan untuk membantu memenuhi kebutuhan hari raya, dari pakaian baru hingga hidangan khas Lebaran.
Namun di balik euforia itu, ada tekanan sosial yang kerap luput dibicarakan. THR tidak jarang berubah menjadi sumber kecemasan, terutama ketika ia bertemu dengan gengsi keluarga.
Standar tidak tertulis tentang seberapa besar amplop untuk keponakan, seberapa mewah suguhan di meja tamu, atau seberapa pantas penampilan saat mudik, menciptakan beban tersendiri. Hari raya yang seharusnya menjadi momen kembali ke fitrah justru bisa berubah menjadi panggung pembuktian status.
Antara Kewajiban dan Ekspektasi
Secara regulasi, THR merupakan hak pekerja yang diatur negara dan wajib diberikan pengusaha menjelang hari raya keagamaan. Tujuannya jelas, membantu pekerja menghadapi peningkatan kebutuhan musiman. Namun dalam praktik sosial, THR sering kali melampaui fungsi ekonominya.
Di banyak keluarga, khususnya dalam tradisi urban dan kelas menengah, THR identik dengan berbagi rezeki kepada anggota keluarga yang lebih muda.
Tradisi memberi amplop kepada anak-anak dan sanak saudara adalah bagian dari kegembiraan Lebaran. Tidak ada yang keliru dengan itu. Masalah muncul ketika tradisi berubah menjadi kompetisi terselubung.
Perbandingan nominal menjadi percakapan yang sensitif. Siapa memberi lebih besar, siapa tampak lebih dermawan, siapa terlihat sukses.
Tekanan ini terasa lebih kuat bagi mereka yang baru bekerja, pekerja kontrak, atau tulang punggung keluarga dengan penghasilan terbatas. THR yang seharusnya menjadi bantalan finansial justru terkuras demi memenuhi ekspektasi sosial.
Di sinilah batas antara kewajiban moral dan tuntutan gengsi menjadi kabur. Banyak orang merasa tidak enak hati jika memberi dalam jumlah kecil, walau kondisi keuangan sedang sempit. Ada ketakutan dinilai pelit atau kurang berhasil. Padahal kondisi ekonomi setiap orang berbeda dan tidak selalu tampak di permukaan.
Budaya Pamer dan Perbandingan Sosial
Tekanan gengsi keluarga tidak berdiri sendiri. Ia diperkuat oleh budaya perbandingan sosial yang kini semakin intens melalui media digital. Foto baju baru, hampers mahal, dan suasana rumah yang ditata mewah beredar di linimasa. Tanpa sadar, standar kebahagiaan hari raya bergeser dari kesederhanaan menjadi kemewahan visual.
Dalam situasi ini, THR sering diposisikan sebagai alat untuk menjaga citra. Bukan lagi semata soal berbagi, tetapi tentang terlihat mampu. Sebagian orang bahkan rela berutang demi memenuhi ekspektasi Lebaran. Setelah hari raya usai, yang tersisa adalah cicilan dan beban finansial yang berlarut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada THR itu sendiri, melainkan pada konstruksi sosial tentang kesuksesan. Kita hidup dalam masyarakat yang masih menilai capaian seseorang dari simbol simbol materi. Lebaran, yang mestinya menjadi ruang saling memaafkan, terkadang berubah menjadi ajang evaluasi diam diam atas karier dan penghasilan.
Padahal esensi Idulfitri adalah kembali pada kesederhanaan dan ketulusan. Memberi seharusnya lahir dari kelapangan hati, bukan keterpaksaan. Jika amplop THR menjadi ukuran harga diri, maka ada nilai yang bergeser dari tujuan awalnya.
Menata Ulang Makna Berbagi
Menghadapi tekanan gengsi keluarga bukan perkara mudah, terutama dalam budaya kolektif yang menjunjung harmoni. Namun perubahan bisa dimulai dari komunikasi yang jujur dan pengelolaan keuangan yang realistis.
Pertama, penting bagi setiap individu menyusun prioritas penggunaan THR. Kebutuhan pokok, tabungan, dan kewajiban finansial jangka panjang seharusnya tetap menjadi pertimbangan utama. Berbagi kepada keluarga dapat dilakukan sesuai kemampuan, bukan berdasarkan standar orang lain.
Kedua, keluarga besar juga perlu membangun kesadaran bersama bahwa nilai kebersamaan tidak diukur dari besar kecilnya amplop. Orang tua dan tokoh keluarga dapat memberi teladan dengan menekankan makna silaturahmi dibanding simbol materi. Tradisi bisa dipertahankan tanpa harus menjadi beban.
Ketiga, perlu ada literasi finansial yang lebih kuat di masyarakat. Mengelola THR dengan bijak adalah bagian dari tanggung jawab ekonomi. Jika setiap tahun pola yang sama terulang dan menimbulkan stres, itu tanda bahwa ada yang perlu diubah.
Lebaran seharusnya menghadirkan kelegaan, bukan kecemasan. THR adalah sarana, bukan tujuan. Ia dapat menjadi berkah jika digunakan dengan bijak dan proporsional. Namun ia juga bisa menjadi sumber tekanan jika dibiarkan tunduk pada gengsi.
Pada akhirnya, yang dikenang dari hari raya bukanlah nominal dalam amplop, melainkan hangatnya pertemuan dan tulusnya maaf yang terucap. Jika kita mampu menempatkan THR pada fungsinya yang semula, maka tekanan gengsi perlahan akan mereda. Idulfitri mengajarkan keseimbangan antara berbagi dan menjaga diri. Dalam keseimbangan itulah kebahagiaan yang lebih tenang dapat ditemukan, tanpa harus terjebak dalam perlombaan yang melelahkan.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Fenomena Iklan Sirup Ramadan dan Romantisisasi Keluarga Ideal
-
Puasa sebagai Jeda: Mengurai Burnout Digital di Bulan Ramadhan
-
Mungkinkah Mewujudkan Ramadan Tanpa Plastik?
-
Opini Publik yang Dibentuk Algoritma For Your Page, Apakah Masih Organik?
-
Autentisitas dan Anti-Mainstream sebagai Mata Uang di Ekonomi Platform
Artikel Terkait
Kolom
-
Fenomena Iklan Sirup Ramadan dan Romantisisasi Keluarga Ideal
-
Zakat Digital dan Filantropi Generasi Cashless
-
Ngabuburit di Ujung Jempol: Kala Menunggu Magrib Berpindah ke Ruang Digital
-
Buka Puasa Bisa Dinanti, Buka Notifikasi Sulit Berhenti
-
Polemik Paspor Asing: Refleksi Nasionalisme atau Krisis Kepercayaan?
Terkini
-
Drama China Shine on Me: Berjalan Beriringan Bersama Orang yang Tepat
-
4 Chemical Sunscreen Panthenol, Rawat Skin Barrier Tetap Sehat Selama Puasa
-
Sinners: Horor Vampir Penuh Makna, Bukan Sekadar Teror
-
Bursa Kerja atau Seremonial? Menyoal Job Fair yang Tidak Fair
-
Makin Selektif, Konsumen Kini Pilih Double Check Sebelum Belanja Online