Hayuning Ratri Hapsari | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi perempuan belanja (Pexels.com/Andrea Piacquadio)
Yayang Nanda Budiman

Ramadan selalu menghadirkan suasana yang khas. Selain menjadi momentum spiritual, bulan ini juga identik dengan geliat konsumsi yang meningkat. Pusat perbelanjaan, platform digital, hingga pelaku usaha kecil berlomba menawarkan potongan harga dengan berbagai label menarik. Diskon Ramadan pun menjelma menjadi daya tarik yang sulit diabaikan.

Di satu sisi, diskon memberikan peluang bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dengan harga lebih terjangkau. Namun di sisi lain, ia juga menyimpan potensi jebakan konsumtif. Tidak sedikit orang yang akhirnya membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, hanya karena tergiur harga yang lebih murah. Di titik inilah muncul dilema klasik: apakah kita sedang memenuhi kebutuhan, atau justru terjebak dalam godaan konsumsi?

Lonjakan Konsumsi dan Strategi Psikologis

Fenomena diskon Ramadan tidak bisa dilepaskan dari strategi pemasaran yang semakin canggih. Pelaku usaha memahami bahwa Ramadan adalah momen emosional, di mana masyarakat cenderung lebih terbuka untuk berbelanja, baik untuk kebutuhan pribadi maupun berbagi dengan orang lain.

Diskon, cashback, bundling, hingga flash sale dirancang untuk menciptakan rasa urgensi. Konsumen didorong untuk mengambil keputusan cepat dengan narasi “kesempatan terbatas”. Dalam kondisi ini, rasionalitas sering kali tersisih oleh dorongan emosional.

Secara psikologis, potongan harga memberikan ilusi penghematan. Padahal, pengeluaran tetap terjadi. Bahkan, dalam banyak kasus, total belanja justru meningkat karena konsumen membeli lebih banyak dari yang direncanakan. Diskon tidak selalu mengurangi pengeluaran, tetapi sering kali hanya mengubah pola belanja.

Selain itu, ada faktor sosial yang turut berperan. Ramadan identik dengan tradisi berbagi, seperti memberi hadiah atau menyiapkan hidangan istimewa. Tekanan sosial untuk “tidak ketinggalan” dapat mendorong seseorang untuk berbelanja lebih banyak. Diskon kemudian menjadi justifikasi yang memperkuat keputusan tersebut.

Antara Kebutuhan Riil dan Konsumsi Impulsif

Membedakan antara kebutuhan dan keinginan menjadi tantangan tersendiri di tengah banjir promosi. Kebutuhan bersifat esensial dan terencana, sementara keinginan sering kali muncul secara spontan.

Dalam konteks Ramadan, kebutuhan biasanya berkaitan dengan bahan makanan, perlengkapan ibadah, atau kebutuhan keluarga. Namun, diskon sering kali memperluas definisi ini. Barang-barang yang sebelumnya tidak masuk daftar belanja tiba-tiba terasa “perlu” hanya karena harganya turun.

Konsumsi impulsif menjadi fenomena yang sulit dihindari. Dengan kemudahan teknologi, proses pembelian menjadi semakin cepat. Hanya dengan beberapa sentuhan, transaksi dapat selesai tanpa banyak pertimbangan. Hal ini memperkecil ruang refleksi yang sebenarnya penting dalam pengambilan keputusan.

Lebih jauh, konsumsi berlebihan juga memiliki dampak jangka panjang. Dari sisi finansial, pengeluaran yang tidak terkontrol dapat mengganggu stabilitas ekonomi rumah tangga. Dari sisi lingkungan, peningkatan konsumsi berkontribusi pada produksi limbah yang lebih besar.

Padahal, esensi Ramadan justru mengajarkan pengendalian diri. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih disiplin dalam mengelola keinginan. Dalam konteks ini, perilaku konsumtif menjadi kontradiktif dengan nilai yang seharusnya dijalankan.

Membangun Kesadaran Konsumsi yang Bijak

Menghadapi derasnya arus diskon Ramadan, diperlukan kesadaran yang lebih reflektif. Konsumen perlu kembali pada prinsip dasar: membeli sesuai kebutuhan, bukan sekadar keinginan.

Langkah pertama adalah perencanaan. Menyusun daftar belanja sebelum melihat promosi dapat membantu menjaga fokus. Dengan demikian, diskon hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan yang memang sudah direncanakan.

Kedua, penting untuk memberikan jeda sebelum membeli. Tidak semua penawaran harus direspons secara instan. Memberikan waktu untuk berpikir dapat membantu mengurangi keputusan impulsif.

Ketiga, literasi keuangan perlu diperkuat. Memahami kondisi keuangan pribadi, termasuk batas pengeluaran, menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan. Diskon seharusnya menjadi alat untuk efisiensi, bukan pemicu pemborosan.

Di sisi lain, pelaku usaha juga memiliki tanggung jawab moral. Promosi yang dilakukan sebaiknya tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial. Transparansi harga dan informasi yang jelas dapat membantu konsumen membuat keputusan yang lebih rasional.

Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan, baik dengan sesama maupun dengan diri sendiri. Dalam hal konsumsi, ini berarti belajar untuk lebih bijak dan tidak mudah tergoda.

Pada akhirnya, diskon bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi perlu disikapi dengan kesadaran. Ia bisa menjadi peluang jika dimanfaatkan dengan tepat, tetapi juga bisa menjadi jebakan jika tidak dikendalikan.