M. Reza Sulaiman | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi keluarga sedang sahur [freepik]
Yayang Nanda Budiman

Setiap menjelang Ramadan dan Idulfitri, layar televisi dan media sosial kita dibanjiri iklan sirup dengan pola yang nyaris seragam. Sebuah keluarga besar berkumpul di meja makan. Ayah tersenyum bijak, ibu sigap menyajikan hidangan, anak-anak pulang dari perantauan, lalu segelas sirup berwarna merah atau hijau dituangkan perlahan ke dalam gelas berisi es batu. Kamera menyorot tawa, pelukan, dan suasana hangat yang seolah sempurna.

Sejak dekade 1990-an, beberapa merek terkemuka secara konsisten menghadirkan narasi serupa. Iklan mereka tidak sekadar menjual minuman manis, melainkan menjual perasaan tentang rumah, rindu, dan kebersamaan. Bahkan, bagi banyak orang, kemunculan iklan sirup tertentu telah menjadi penanda tidak resmi bahwa Ramadan segera tiba.

Konstruksi Keluarga Sempurna dalam Bingkai Sinematik

Strategi ini cerdas. Produk ditempatkan bukan sebagai pusat cerita, melainkan sebagai medium pemersatu. Sirup menjadi simbol cair dari kasih sayang keluarga. Ia hadir di meja makan, di ruang tamu, bahkan di teras rumah saat momen berbuka. Dalam bingkai sinematik yang hangat, minuman sederhana berubah menjadi jembatan emosional.

Namun, di balik kemasan estetis itu, terselip konstruksi tentang seperti apa keluarga yang dianggap ideal: keluarga yang utuh, harmonis, lengkap dengan ayah, ibu, dan anak-anak yang berbakti. Tidak ada konflik berarti, tidak ada perceraian, dan tidak ada jarak emosional. Semua terselesaikan dalam durasi 30 hingga 60 detik.

Antara Imaji Iklan dan Realitas Sosial

Romantisisasi keluarga dalam iklan sirup membentuk imaji kolektif tentang kebahagiaan domestik. Kebahagiaan digambarkan sebagai sesuatu yang sederhana namun terstruktur. Ada peran yang jelas antara ayah sebagai figur pemimpin, ibu sebagai penjaga kehangatan rumah, dan anak sebagai penerus yang patuh. Struktur ini terasa akrab, tetapi juga menyederhanakan kompleksitas realitas sosial.

Data menunjukkan bahwa struktur keluarga hari ini semakin beragam. Ada keluarga dengan orang tua tunggal, keluarga tanpa anak, pasangan yang tinggal berjauhan karena pekerjaan, hingga individu yang memilih hidup sendiri. Dalam konteks urbanisasi dan mobilitas tinggi, momen berkumpul saat Lebaran pun tidak selalu mudah diwujudkan. Biaya perjalanan, tuntutan pekerjaan, dan dinamika personal sering kali membuat reuni keluarga tidak seindah yang digambarkan iklan.

Ketika iklan terus-menerus memproduksi gambaran keluarga ideal, tanpa disadari hal itu menciptakan standar emosional. Mereka yang tidak memiliki pengalaman serupa bisa merasa kurang, bahkan gagal. Bagi anak yang tumbuh tanpa figur ayah, atau orang tua yang berjuang sendiri membesarkan anak, narasi keluarga sempurna bisa terasa seperti cermin yang memantulkan kekosongan.

Pemasaran Emosional dan Tanggung Jawab Representasi

Di sisi lain, kita juga perlu mengakui bahwa iklan bekerja dengan bahasa simbol. Ia menyederhanakan agar pesan mudah diterima. Dalam teori komunikasi, simbol yang berulang akan membentuk asosiasi kuat. Sirup menjadi identik dengan kebersamaan, sebagaimana ketupat identik dengan Lebaran. Persoalannya bukan pada penyederhanaan itu sendiri, melainkan pada dominasi satu model keluarga yang terus direproduksi.

Sebagai produk komersial, wajar jika perusahaan membangun citra yang menyenangkan demi meningkatkan penjualan. Mengaitkan produk dengan momen emosional terbukti efektif. Setiap kali seseorang melihat botol sirup di rak toko, yang terbayang bukan sekadar rasa, melainkan memori tentang kebersamaan. Namun, di era ketika publik semakin kritis terhadap representasi media, perusahaan juga dihadapkan pada tuntutan tanggung jawab sosial.

Menuju Makna Kebersamaan yang Lebih Inklusif

Representasi yang lebih inklusif dapat menjadi langkah maju. Menggambarkan keluarga dengan latar berbeda, atau bahkan merayakan kebersamaan dalam komunitas nontradisional, dapat memperluas makna silaturahmi. Beberapa iklan belakangan mulai menampilkan variasi cerita, seperti anak yang merayakan Lebaran bersama teman indekos atau tetangga karena tidak bisa mudik. Ini merupakan sinyal bahwa narasi keluarga dapat diperluas tanpa kehilangan esensi kehangatan.

Kita sebagai penonton juga memiliki peran. Alih-alih menelan mentah-mentah gambaran ideal, kita bisa memaknainya sebagai aspirasi, bukan standar mutlak. Iklan sirup adalah cerita pendek yang dirancang untuk menyentuh emosi, bukan sebuah dokumenter sosial.

Pada akhirnya, manisnya sirup mungkin hanya bertahan beberapa teguk, tetapi manisnya relasi sosial jauh lebih kompleks dan menuntut usaha nyata. Jika iklan mampu mengingatkan kita tentang pentingnya berkumpul dan saling memaafkan, itu adalah nilai positif. Namun, kita juga perlu ruang untuk mengakui bahwa setiap keluarga memiliki dinamika unik yang tidak selalu seindah adegan di layar. Tantangannya adalah bagaimana merayakan kebersamaan tanpa menafikan keberagaman bentuk keluarga di masyarakat kita.