Perang antara Iran serta Amerika Serikat vs. Israel kian memanas. Gencatan senjata terus diupayakan meski sampai saat ini, konflik tersebut belum kunjung mendapatkan titik terang.
Dilansir dari Suara.com (11/3/2026), perang ini dimulai pada 28 Februari 2026. Di mana tentara Israel dan Amerika melancarkan misi Lion’s Roar (auman singa). Operasi ini menargetkan serangan ke pangkalan militer dan fasilitas pertahanan Iran. Namun, serangan ini tidak hanya berdampak pada kekuatan militer di sana, tetapi juga kepada bandara, rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur lainnya.
Serangan balik pun dilancarkan oleh Iran tidak hanya kepada Israel dan Amerika, tetapi juga kepada negara sekutu A.S. yang berada di kawasan Timur Tengah.
Serangan yang terus terjadi dapat memberikan dampak negatif bagi masyarakat, terutama pada bagian kesehatan. Untuk membahas lebih lanjut terkait dampak kesehatan selama masa perang, Prof. Tjandra Yoga Aditama, seorang pakar pulmonologi dan kesehatan masyarakat asal Indonesia, menyebutkan setidaknya ada lima dampak kesehatan yang dihasilkan melalui perang antara Iran serta Amerika Serikat vs. Israel.
1. Meninggal, Sakit, dan Cedera
Dampak kesehatan yang paling terlihat adalah jumlah korban jiwa yang berjatuhan. Hingga saat ini, total korban tewas yang diakibatkan oleh perang ini ada sejumlah 1.230 di Iran, 486 orang di Lebanon, dan 11 orang di Israel.
Angka ini menunjukkan bahwa perang membawa dampak serius bagi kesehatan serta keselamatan di wilayah terdampak. Belum lagi korban akibat cedera dan luka-luka yang diakibatkan oleh perang ini. Kurangnya sanitasi di wilayah konflik juga bisa menyebabkan penyakit mudah menyebar.
2. Terjadinya Serangan terhadap Rumah Sakit
Di masa-masa krusial seperti perang, rumah sakit menjadi salah satu hal yang sangat penting. Prof. Tjandra menyebutkan bahwa ada setidaknya lima dampak utama dari serangan terhadap rumah sakit.
Pertama, petugas kesehatan bisa jadi terluka dan menjadi korban. Perang adalah saat-saat krusial di mana tenaga medis sangat dibutuhkan untuk mengobati para korban. Menurut laporan Al Jazeera (11/3), Wakil Menteri Kesehatan Iran, Ali Jafarian menyatakan bahwa serangan A.S.-Israel telah menewaskan kurang lebih 11 petugas kesehatan.
Kedua, kerusakan pada fasilitas khusus seperti Intensive Care Unit (ICU), ruang kemoterapi, serta fasilitas lainnya. Hal ini tentunya akan berdampak kepada pasien dengan penyakit-penyakit tertentu yang membutuhkan fasilitas tersebut.
Selanjutnya, kerusakan gedung rumah sakit juga membuat pasien harus dievakuasi ke tempat yang lebih aman dan terhindar dari serangan bom serta senjata lainnya. Tentunya hal ini dengan kondisi fasilitas yang sangat terbatas dan tidak dapat menunjang pelayanan medis secara optimal.
Keempat, pasien yang datang ke rumah sakit akan semakin banyak dibandingkan kondisi normal. Akibatnya, rumah sakit mengalami kelebihan kapasitas dan tenaga medis sering kali kewalahan. Terakhir, gangguan aliran listrik yang membuat alat kesehatan tidak dapat berfungsi dengan baik.
Selain itu, World Medical Association menyebutkan bahwa serangan terhadap rumah sakit termasuk melanggar hukum internasional. Sehingga, penyerangan terhadap rumah sakit termasuk tindakan yang ilegal.
3. Sumber Daya dan Prasarana Kesehatan di Daerah Perang
Dampak lain dari perang adalah terganggunya ketersediaan sumber daya serta sarana dan prasarana kesehatan di wilayah konflik. Dalam kondisi perang, tenaga kesehatan sering kali terbatas karena harus menangani korban jiwa dalam jumlah besar.
Selain itu, ketersediaan obat-obatan, alat kesehatan, dan fasilitas medis juga menjadi minim dikarenakan kerusakan infrastruktur, mobilitas pengiriman yang terbatas, dan jumlah pasien yang semakin membeludak.
Kondisi ini juga diperparah dengan memburuknya sanitasi lingkungan yang dapat menyebabkan penyakit lebih mudah menyebar.
4. Krisis Kesehatan Mental
Banyak masyarakat yang tinggal di daerah konflik mengalami dampak negatif terhadap kondisi kesehatan mentalnya. Menurut World Health Organization (WHO), satu dari lima orang yang tinggal di daerah konflik atau perang mengalami depresi, anxiety, Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), atau skizofrenia.
Oleh karena itu, penting sekali untuk memperhatikan kondisi kesehatan mental para warga yang terdampak di wilayah perang. Dukungan dari komunitas, akses terhadap layanan kesehatan mental, serta lingkungan yang aman merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh para korban konflik agar dapat kembali pulih.
5. Gangguan Kesehatan Secara Luas
Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa salah satu akibat perang adalah memburuknya sanitasi lingkungan yang dapat menyebabkan epidemi di masyarakat. Kurangnya ketersediaan air bersih merupakan salah satu faktor mengapa bisa terjadi penyebaran penyakit secara luas.
Selain itu, program vaksinasi rutin juga menjadi terhambat akibat adanya perang. Akibatnya, virus dan penyakit lebih cepat menyebar dan berkembang menjadi wabah. Kondisi yang kurang higienis di tempat pengungsian juga dapat menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya infeksi saluran cerna dikarenakan jumlah toilet yang terbatas.
Banyaknya dampak negatif yang dihasilkan melalui perang. Oleh karena itu, Prof. Dr. Tjandra mengatakan bahwa solusi terbaik untuk saat ini adalah damai.
“The best medicine is peace,” ujar Prof. Dr. Tjandra.
Organisasi Dokter Dunia pun turut menyampaikan solidaritasnya kepada petugas kesehatan di daerah perang.
Baca Juga
-
Over Tourism Mengancam, Seberapa Efektif Pembatasan di Taman Nasional Komodo?
-
Makin Autentik! Kenalan Yuk Sama Spotlight, Wajah Baru Yoursay yang Siap Curi Perhatian
-
Terhindar dari Macet dan Polusi: Alasan Mal Jadi Tempat Ngabuburit Paling Nyaman
-
Dilema Window Shopping: Ketika Mal Cuma Jadi Katalog Fisik Buat Belanja Online
-
Lagu Location Unknown Masih Jadi Juara: Tutorial Galau Tanpa Harus Kehilangan Arah
Artikel Terkait
-
Bantu AS Serang Iran, Israel Kena Batunya Sendiri: Turnamen Sepak Bola Terhenti
-
Mantan Penasihat Keamanan Amerika: Trump Bisa Jadikan Netanyahu Kambing Hitam
-
Akhirnya! Rudal Kiamat Iran Meluncur Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait
-
Serangan ke Pulau Mungil Ini Akan Lumpuhkan Iran, Mengapa Belum Dilakukan AS dan Israel?
-
Muka Dua Inggris: Ngaku Tak Dukung Serangan AS-Israel tapi Larang Aksi Damai Pro Iran
News
-
UI Green Marathon 2026: Saleh Husin Siap Taklukkan 42 KM demi Masa Depan Mahasiswa
-
Avec le Temps: Harmoni Puitis Prancis dan Arab di Jantung Yogyakarta
-
Penyuluh Agama Islam Perkuat Kolaborasi, Tebar Toleransi dari Karanganyar
-
Mimpi yang Terparkir: Saat Ekonomi Menjadi Rem Bagi Ambisi Generasi Muda
-
Ichigo Ichie: Seni Menikmati Hidup di Era Distraksi Digital
Terkini
-
Ulasan Film Kupilih Jalur Langit: Kisah Nyata Viral yang Menguras Air Mata
-
Ruang Tenang: Validasi untuk Jiwa yang Lelah dan Hati yang Ingin Rehat
-
Kuroko no Basket: Persahabatan, Persaingan Sehat, Pengakuan, & Bola Basket
-
Perempuan Bermata Kelam yang Menjanjikan Kemakmuran
-
Sinopsis We Are Worse at Love than Pandas, Drama yang Dibintangi Ikuta Toma