Krisis iklim kini bukan lagi isu yang terasa jauh bagi generasi muda. Dampaknya semakin nyata hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cuaca ekstrem, banjir, polusi udara, hingga berkurangnya ruang hijau akibat alih fungsi lahan.
Berbagai survei menunjukkan kesadaran anak muda terhadap isu lingkungan juga terus meningkat. Laporan Youth Sustainability Index 2025 yang melibatkan sekitar 1.000 responden mencatat banyak generasi muda memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap persoalan lingkungan dan keberlanjutan.
Sementara itu, Indonesia Gen Z Report 2022 mengungkapkan sebanyak 79 persen anak muda di Indonesia menganggap krisis iklim sebagai isu serius yang perlu segera ditangani.
Di tengah meningkatnya keresahan itu, berbagai komunitas anak muda mulai bermunculan sebagai ruang untuk bergerak bersama. Salah satunya adalah Generasi Peduli Iklim.
Lahirnya Generasi Peduli Iklim
Koordinator Generasi Peduli Iklim, Muhammad Asyrof Naf’il atau Asyrof, mengatakan komunitas ini lahir dari pengalaman para pengurus yang mengikuti Sekolah Iklim yang diadakan WALHI Jawa Tengah.
“Komunitas ini lahir karena kami mengikuti sekolah iklim dari WALHI Jawa Tengah. Jadi, sebagian besar pengurus merupakan alumni sekolah iklim tersebut,” ujarnya.
Namun bagi mereka, memahami krisis iklim lewat teori saja tidak cukup. Ada kebutuhan untuk menghadirkan ruang kolektif agar masyarakat, khususnya anak muda, bisa ikut terlibat dalam aksi nyata.
“Kami merasa pengetahuan saja tidak cukup. Harus ada ruang untuk bergerak bersama, menyuarakan isu, dan mengajak masyarakat ikut terlibat menghadapi krisis iklim,” kata Asyrof.
Menurutnya, anak muda memiliki posisi penting dalam gerakan lingkungan karena dekat dengan teknologi, media sosial, dan budaya populer yang mampu mempercepat penyebaran kesadaran publik.
“Anak muda punya potensi besar menyebarkan kesadaran lingkungan secara lebih luas dan cepat,” tambahnya.
Tidak Hanya Berfokus Pada Anak Muda
Gerakan yang dilakukan Generasi Peduli Iklim tidak berhenti di media sosial. Komunitas ini rutin mengadakan berbagai kegiatan seperti penanaman mangrove, beach cleanup, edukasi publik, hingga kampanye gaya hidup zero waste.
Asyrof mengatakan pendekatan yang mereka gunakan sengaja dibuat dekat dengan kehidupan sehari-hari agar lebih mudah dipahami dan diterapkan masyarakat, terutama anak muda.
“Kita mainnya lebih soft. Fokusnya bagaimana mengedukasi, mengubah gaya hidup, dan mengajak masyarakat berkontribusi positif di lingkungan,” jelasnya.
Selain menyasar anak muda, komunitas ini juga aktif membuka ruang kolaborasi dengan warga lokal, komunitas lingkungan lain, mahasiswa, hingga pemerintah daerah. Mereka menilai krisis iklim merupakan persoalan bersama yang tidak bisa diselesaikan sendirian.
“Krisis iklim bukan cuma dirasakan anak muda, tapi semua orang di bumi ini,” ujarnya.
Bagi Asyrof, hal paling berkesan selama membangun komunitas adalah melihat semakin banyak anak muda mulai sadar dan mau ikut bergerak menjaga lingkungan.
“Sekarang makin banyak anak muda yang peduli dan mau terlibat dalam isu lingkungan. Itu bikin kami merasa usaha yang dilakukan tidak sia-sia,” katanya.
Melalui berbagai kegiatan dan kolaborasi yang terus dilakukan, Generasi Peduli Iklim berharap kesadaran menjaga lingkungan tidak berhenti sebagai tren sesaat, tetapi menjadi kebiasaan bersama demi masa depan yang lebih baik.
Penulis: Natasha Suhendra
Baca Juga
-
Pohon Tidak Lagi Cukup Jadi Solusi Atasi Panas Ekstrem di Perkotaan
-
4,5 Miliar Puntung Rokok Berakhir di Laut Setiap Tahun: Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
-
Main Karet di GBK Bareng Komunitas Bermain: Nostalgia Seru yang Kadang Terbentur Ribetnya Izin
-
Kurangi Ketergantungan Diesel, IESR Desak Prioritaskan PLTS di Daerah Terpencil
-
Over Tourism Mengancam, Seberapa Efektif Pembatasan di Taman Nasional Komodo?
Artikel Terkait
News
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya
-
Membaca Kelakar Madura Buat Gus Dur: Sebuah Buku Tentang Indonesia yang Menggelitik
-
Menolak Romantisasi Seni Gratisan yang Mematikan Seniman: Jeritan Jaran Abang dari Kota Budaya
-
Tembus Beasiswa Petra Future Leaders 2026, Inilah Sosok Christopher Kevin Yuwono
-
Masih Banyak yang Menganggap Sama, Apa Bedanya Paskah dan Kenaikan Yesus Kristus?
Terkini
-
Manajemen Hati Agar Tak Mudah Iri: Pelajaran di Buku Hujan Duit Dari Langit
-
Wande: Tempat Jadul Bertukar Informasi yang Kian Ditelan Kemajuan Zaman
-
Sandiaga Uno Resmi Jadi Kakek, Atheera Uno Melahirkan Anak Pertamanya
-
Ironi Literasi di Indonesia: Buku Masih Terlalu Mahal bagi Banyak Orang
-
Review A Sad And Beautiful World: Romansa Drama di Beirut yang Menggugah