Komunitas Indo Harry Potter (IHP) merupakan salah satu komunitas fandom yang terbilang sudah cukup lama berdiri. Sejak didirikan pada tahun 2001, komunitas ini telah bertahan selama 25 tahun. Bertahan selama itu tentu bukan perkara mudah bagi sebuah komunitas fandom. Di tengah tren budaya pop yang terus berubah dan kemunculan berbagai fandom baru, Indo Harry Potter harus terus beradaptasi dan menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan komunitas.
Perjalanan panjang IHP diiringi dengan berbagai tantangan yang terus berubah dari waktu ke waktu. Salah satu tantangan terbesar yang dirasakan komunitas adalah perubahan karakter anggota di setiap generasi. Salah satu pengurus Indo Harry Potter, Paman Hadi, mengatakan bahwa setiap periode memiliki kebiasaan dan cara berkomunitas yang berbeda.
“Setiap generasi punya kegiatannya masing-masing, punya gayanya, punya budayanya masing-masing juga sih,” ujarnya kepada Yoursay.id.
Menurutnya, pada masa awal komunitas berdiri, kegiatan yang paling diminati adalah diskusi buku dan nonton bareng film Harry Potter. Namun, seiring berjalannya waktu, minat anggota mulai berubah. Para anggota juga mulai tertarik mengoleksi berbagai merchandise Harry Potter seiring semakin meluasnya penggemar Harry Potter di Indonesia.
Pasca pandemi, komunitas mulai membuat kegiatan yang lebih beragam agar tetap menarik bagi generasi baru. Terlebih, kini komunitas tidak hanya diisi oleh generasi milenial yang tumbuh bersama novel dan film Harry Potter, tetapi juga generasi muda yang mengenal Harry Potter melalui media sosial maupun berbagai produk kolaborasi.
Selain perubahan generasi, tantangan lain yang cukup dirasakan adalah membagi waktu. Banyak anggota lama yang kini sudah memasuki usia dewasa, bekerja, bahkan berkeluarga. Hal itu membuat waktu untuk mengikuti kegiatan komunitas menjadi lebih terbatas dibanding dulu.
“Tantangannya waktu kali ya. Apalagi buat yang udah millennial kan udah pada kerja. Belum yang sudah berkeluarga juga gitu,” ujar salah satu pengurus IHP, Ananda Yunika.
Namun, antusiasme para anggota justru menjadi alasan komunitas tetap bertahan hingga sekarang. Para pengurus mengaku senang karena banyak anggota yang tetap menyempatkan hadir di berbagai acara meski harus datang sepulang kerja atau membawa pasangan dan anak mereka.
“Tapi kadang bikin kita happy juga kalau mereka beneran nyempetin waktu buat tetap ikutan, tetap hadir ke event-event yang kita adain,” tambah Nanda.
Tidak hanya itu, IHP juga menghadapi tantangan dalam menjaga eksistensi komunitas di tengah banyaknya acara bertema Harry Potter yang digelar berbagai brand. Oleh karena itu, mereka berusaha aktif menjalin kolaborasi agar komunitas tetap terlibat langsung dalam berbagai kegiatan bertema Harry Potter di Indonesia.
“Pengen apa pun yang acara Harry Potter, kalau ada brand-brand, ayo sama kita aja, karena kita yang mungkin lebih ngerti gimana meramunya,” ujar Paman.
Bagi para pengurus, menjaga komunitas tetap sustain bukan hanya soal mempertahankan jumlah anggota, tetapi juga menjaga rasa kebersamaan di dalamnya. Mereka berusaha menciptakan ruang yang nyaman bagi semua generasi, mulai dari penggemar lama hingga anggota baru yang baru mengenal dunia sihir Hogwarts.
“Jadi kita tetap berusaha untuk mempelajari gimana sih habit atau behavior dari yang beda generasi sama kita sebagai pengurus,” ucap Nanda.
Selain itu, salah satu pengurus IHP, Tyo Putra, juga mengungkapkan bahwa masih ada anggapan bahwa penggemar Harry Potter identik dengan sosok nerdy atau kutu buku. Padahal, menurutnya, pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar, terlebih ketika para anggota melakukan cosplay menggunakan atribut khas Harry Potter.
“Kesannya yang suka Harry Potter kayak nerdy gitu kali ya. Kayak nerd-nerd kutu buku gitu. Padahal itu sebenernya engga gitu. Justru banyak yang cool gitu. Apalagi ketika cosplay jadi karakter,” tutur Tyo.
Komunitas IHP juga merasa jauh dari pandangan kebarat-baratan yang kerap dilekatkan pada fandom luar negeri. Bahkan, ketika mereka pernah mengadakan acara naik kereta dengan mengenakan jubah Harry Potter, respons masyarakat justru sangat positif.
“Justru malah waktu itu kita pernah ada satu event, kita pake jubah naik kereta dan orang-orang tuh kayak wow seru banget ya, amaze banget,” ungkap salah satu pengurus lainnya, Alam Putra.
Harapan untuk Lebih Merangkul, Membersamai, dan Bertahan
Potret Kegiatan Cosplay Read di Indonesia International Book Fair ( Dok.pribadi/Indo Harry Potter )
Para pengurus IHP juga berharap komunitas ini dapat terus menjadi tempat berkumpul bagi para penggemar Harry Potter lintas generasi. Kehadiran serial Harry Potter terbaru dari HBO juga dianggap membuka peluang hadirnya generasi penggemar baru yang akan meramaikan komunitas di masa mendatang.
“Harapannya pastinya komunitas ini tetap bisa membersamai temen-temen. Jadi Harry Potter gak berhenti di sini doang gitu, karena sejauh ini memang aku ngeliat fans-nya semakin banyak, fans lamanya pun tetap bertahan,” ujar Nanda.
“Kalau aku bisa ngerangkul semua dari kalangan dan yang penting bisa solid,” tegas Alam.
“Harapannya bisa terus sustain dan tetap bertahan dan berkelanjutan,” jawab Tyo.
Baca Juga
-
Generasi Peduli Iklim, Komunitas yang Ubah Keresahan Jadi Aksi Nyata
-
Pohon Tidak Lagi Cukup Jadi Solusi Atasi Panas Ekstrem di Perkotaan
-
4,5 Miliar Puntung Rokok Berakhir di Laut Setiap Tahun: Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
-
Main Karet di GBK Bareng Komunitas Bermain: Nostalgia Seru yang Kadang Terbentur Ribetnya Izin
-
Kurangi Ketergantungan Diesel, IESR Desak Prioritaskan PLTS di Daerah Terpencil
Artikel Terkait
-
Bukan Sekadar Olahraga, Footgolf Jadi Cara Baru Cari Sehat Sekaligus Bangun Relasi
-
Tak Sekadar Riding, Begundal War Wer Tunjukkan Sisi Positif Komunitas Motor
-
Generasi Peduli Iklim, Komunitas yang Ubah Keresahan Jadi Aksi Nyata
-
Menjaga Nostalgia Hogwarts Tetap Hidup Lewat Indo Harry Potter
-
Yamaha dan JMC Eksplor Lampung Lewat Touring MAXI Tour Boemi Nusantara
News
-
Connect Community: Bergerak dari Kampus, Berdampak bagi Remaja Desa
-
Mengayuh Inspirasi ke Sekolah: Konsistensi Guru Matematika dalam Gaya Hidup Bike to Work
-
The Alana Yogyakarta Hadirkan "Alana Langgam Rasa", Destinasi Kuliner Authenthic Jawa di Yogyakarta
-
Petir Cup 2026 Usai, Semangat Menendang Masih Menggelegar
-
Tak Sekadar Riding, Begundal War Wer Tunjukkan Sisi Positif Komunitas Motor
Terkini
-
Sukses Besar, Emily in Paris Resmi Berakhir di Season 6
-
Review Signal: Drama Korea Crime-Thriller Legendaris yang Masih Eksis hingga Kini
-
Bye Kulit Kusam Akibat Polusi! 4 Low pH Facial Wash Niacinamide Rp20 Ribuan
-
Pasar Padukuhan Eyang Putri, Sentra Kuliner yang Seolah Melawan Arus Modernitas Kabupaten Tuban
-
Operasi Memikat Hati Bakal Mentua: Romcom Sederhana yang Menyentuh Hati