M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Humas UAJY (Dokumentasi/Humas UAJY)
Vicka Rumanti

Kamu pernah nggak mengalami penolakan? Ditolak itu rasanya seperti mencapai sebuah akhir dari perjalanan yang sebenarnya belum kita mulai. Rasanya sedih dan kecewa, apalagi ketika kita sudah menaruh ekpektasi yang tinggi dan pengin banget sama sesuatu yang ingin kita dapatkan itu. Seperti itulah yang saya rasakan di awal semester 4 dunia perkuliahan.

Jadi saat itu, di awal bulan Februari sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi, saya memutuskan untuk melamar sebagai student staff di Kantor Humas Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Saya mendaftar pada posisi press person yang tugasnya melakukan liputan, wawancara, dokumentasi acara, hingga merangkum itu semua menjadi tulisan press release.

Posisi tersebut rasanya adalah jalur yang paling linier dengan passion saya. Namun, kenyataan pahit menghampiri saya saat itu. Saya ditolak. Hampir satu minggu penuh saya merasa sedih dan kecewa. Pertanyaan seperti, “Kenapa? Apakah saya kurang layak? Apakah pengalaman saya belum cukup?” itu berulang kali berputar di kepala. Atau karena saya terlihat terlalu sibuk dengan dua organisasi lain yang saya ikuti?

Ternyata, jawaban itu akhirnya datang bukan lewat lisan, melainkan lewat keadaan. Benar saja, semester 4 saya terasa sangat sibuk.

Rasa Syukur di Balik Penolakan

Seiring berjalannya waktu di semester 4, saya mulai menyadari bahwa penolakan itu adalah cara semesta menyelamatkan saya. Saat itu, jadwal saya meledak, membludak. Saya harus menjadi panitia inti di belakang layar untuk konser paduan suara, dan di saat yang hampir bersamaan, saya harus menjalankan peluncuran majalah di organisasi pers yang saya ikuti.

Saya tidak bisa membayangkan jika saja saat itu saya diterima di Humas, mungkin saya akan kewalahan untuk membagi waktu antara tugas kuliah yang menumpuk dan tanggung jawab organisasi yang begitu besar. Saya pun belajar satu hal bahwa terkadang, jawaban "belum" dari Tuhan adalah cara-Nya memberi kita ruang untuk bernapas dan mengatur waktu.

Kesempatan Kedua di Tengah UAS

Singkat cerita bulan Juni tiba. Saya tidak menyerah. Artinya, saya memutuskan lagi untuk melamar yang kedua kalinya. Prosesnya terasa begitu cepat. Seminggu setelah seleksi berkas, saya dipanggil wawancara tepat di tengah hiruk-pikuk pekan UAS semester 4. Rasa tegangnya berlipat ganda, tapi tekad saya tidak terhalang oleh huru-hara sibuknya.

Dan akhirnya, 1 Juli menjadi hari pertama saya bekerja. Saya diterima! Di semester 5, dengan organisasi pers yang sudah selesai, saya bisa mencurahkan fokus saya sepenuhnya di Humas dan paduan suara.

Belajar Lagi Soal Gaya Penulisan

Masuk ke dunia Humas ternyata tidak semudah yang ada di pikiran. Di sini ada tantangan baru yang kemudian saya temukan. Sebagai orang yang terbiasa dengan gaya penulisan jurnalistik, saya sempat kaget. Menulis press release ternyata punya pola dan rasa yang berbeda dengan berita biasanya. Butuh waktu sekitar satu bulan bagi saya untuk benar-benar bisa beradaptasi.

Tak hanya menulis, saya yang sebelumnya buta soal kamera, mulai diajarkan cara dokumentasi foto berita yang benar. Beruntungnya, di semester 5 saya juga mengambil mata kuliah Fotografi. Teori di kelas dan praktik langsung saat liputan membuat kemampuan memotret saya menjadi meningkat.

Lebih dari Sekadar Pekerjaan, Ini Adalah Keluarga di Dunia Perantauan

Tim liputan LDI (Dokumentasi/Humas UAJY)

Bekerja di Kantor Humas UAJY bukan hanya soal menjalankan penugasan. Di bawah arahan Ibu Ike Devi selaku Kepala Kantor Humas, serta bimbingan staf yang luar biasa sabar, saya menemukan keluarga baru.

Salah satu momen paling berkesan adalah saat UAJY dipercaya menjadi tuan rumah Lomba Debat Indonesia (LDI) 2025, sebuah kompetisi debat tingkat nasional. Selama seminggu penuh, kami meliput perjuangan siswa SMA/MA/SMK dari seluruh Indonesia. Ada rasa haru saat melihat peserta yang tidak lolos, dan ada rasa bangga ketika mereka menjadi juara. Rasanya, kami ikut masuk ke dalam perjalanan emosional mereka.

Selain liputan, momen yang tidak akan saya lupakan adalah sesi mindfulness dan pelatihan pembuatan konten. Di sana, kami diajak sejenak keluar dari beban pekerjaan dan bayang-bayang tugas kuliah. Dan tentu saja, sebagai anak rantau yang tinggal di kos, sesi makan-makan bersama adalah bonus yang selalu berhasil membuat kami bersyukur.

Oh iya, kami juga menjadi model untuk foto kalender 2026. Masih terbayang begitu hectic dan serunya persiapan serta eksekusi kala itu. Bahkan, di akhir 2025, saking berasa keluarganya, kami menghias kantor bersama dengan dekorasi natal yang penuh lampu kerlap-kerlip dengan sukacita.

Menjadi student staff telah memberi saya bekal yang sangat banyak, mulai dari wawancara, liputan hingga penulisan. Saya bangga bisa menjadi bagian dari tim ini. Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa kegagalan hanyalah jeda untuk mempersiapkan diri menjadi versi yang lebih baik.