Bimo Aria Fundrika | Vicka Rumanti
Seorang pemuda enjoy mendengarkan musik (Freepik/freepik)
Vicka Rumanti

Pernah nggak sih kamu ngerasa awalnya nggak suka satu lagu, tapi usai seharian scroll TikTok, tiba-tiba malah ikut-ikutan nyanyi? Ternyata ada penjelasan psikologinya, kenapa telinga kita seperti “dipaksa” jatuh cinta sama nada tertentu.

Selera musik memang kelihatannya personal banget. Tapi di era algoritma, batas antara selera kamu dan apa yang terus diputar ke kamu jadi makin tipis. Ada riset klasik dari psikolog Robert Zajonc yang bilang, manusia cenderung menyukai sesuatu hanya karena sering terpapar. Fenomena ini disebut mere-exposure effect.

Di TikTok, hal ini terasa banget. Lagu yang sama diputar berulang-ulang sampai akhirnya terasa familiar. Dan anehnya, rasa familiar itu pelan-pelan berubah jadi suka.

Efek Paparan Belaka

Menariknya, proses berulangnya sebuah lagu menjadi hal yang kita suka ini sering kali terjadi tanpa kesadaran kognitif. Artinya, otak kita mulai menyukai sesuatu bahkan sebelum kita sempat berpikir mengapa kita menyukainya.

Mengutip dari The Decision Lab, efek ini juga sering disebut sebagai Prinsip Keakraban. Manusia memiliki kecenderungan alami untuk mengembangkan preferensi terhadap hal-hal yang sudah familiar. Sesuatu yang terasa asing sering kali dianggap sebagai ancaman atau hal yang membingungkan, sementara sesuatu yang sudah dikenal bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi otak.

Bagaimana TikTok Memanfaatkan Kenyamanan Otak Kita?

Di sinilah peran algoritma For You Page (FYP) bekerja. Saat sebuah potongan lagu diputar berulang-ulang melalui berbagai video yang lewat di beranda, otak kita mulai mengenali polanya. Rasa familiar yang muncul setiap kali lagu itu terdengar menciptakan respons positif di otak. Kita sering kali salah mengartikan respons nyaman karena kenal ini menjadi rasa suka terhadap lagunya.

Kenyataannya, algoritma TikToklah yang menjajah pendengaran kita dengan pengulangan-pengulangan itu. Sebuah lagu mungkin tidak memiliki komposisi yang sangat baik, tapi karena ia terus menerus berputar, maka kita mau tidak mau jadi kenal dan akrab dengan nada-nada tersebut. Kita menjadi terbiasa, kemudian membentuk preferensi semu untuk suka.

Lalu, Lagu Apa yang Kita Suka?

Jika kita terus-menerus terpapar pada jenis musik yang sama, selera kita cenderung menyempit. Kita tidak lagi mencari musik berdasarkan kualitas artistik yang personal, melainkan mengonsumsi apa yang disediakan oleh mesin dan media.

Namun, sebenarnya rasa suka yang muncul akibat efek paparan semata ini juga memiliki titik jenuh. Meskipun keakraban meningkatkan rasa suka, paparan yang terlalu berlebihan justru bisa memicu kebosanan. Itulah sebabnya lagu yang sangat viral di TikTok sering kali menghilang sama cepatnya dengan ketika ia muncul. Kita mendadak muak dengan lagu-lagu yang ada.

Jadi, ketika kamu menemukan lagu baru di daftar putar favorit, cobalah bertanya, “Apakah saya benar-benar menyukai lagu ini, atau hanya karena sudah terlalu sering mendengarnya?"

Dengan memahami cara kerja Mere-Exposure Effect ini, kita sebagai pendengar bisa jadi lebih kritis di tengah gempuran algoritma. Selera musik adalah identitas. Mungkin sudah saatnya kita mengambil alih kendali atas apa yang benar-benar ingin kita dengarkan sesuai kesukaan kita, di luar apa yang sedang viral di FYP.