Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
Ilustrasi menulis sambil mendengarkan musik [pexels/Pavel Danilyuk]
Sherly Azizah

Beberapa malam lalu, saya menatap kursor yang berkedip di layar laptop dengan rasa muak yang menjalar hingga ke tenggorokan. Sebuah draf tulisan tentang keresahan filosofis yang jujur baru saja saya hapus tanpa sisa. Alasannya pengecut: saya takut tulisan itu tidak akan "laku".

Suara di kepala saya berbisik sinis, "Jangan sok idealis, algoritma tidak peduli pada kejujuranmu jika judulnya tidak mengandung kata kunci yang sedang dipuja massa."

Akhirnya, saya menyerah. Saya menggantinya dengan topik dangkal yang sedang trending, menyuntikkan bumbu clickbait yang manipulatif, dan seketika statistik melonjak. Ada kepuasan yang menjijikkan saat melihat angka interaksi naik, namun di saat yang sama, saya merasa baru saja menjual sukma saya pada sebuah entitas tak kasat mata bernama algoritma.

Keresahan pribadi ini sebenarnya adalah cermin dari tragedi sosial yang sedang kita rayakan secara massal. Kita hidup di era di mana "kualitas" hanyalah kasta paria di bawah kaki "viralitas". Lihatlah linimasa kita; semuanya terasa seragam, membosankan, dan mekanis.

Saya melihat para penulis, pemikir, hingga kreator kini terdegradasi menjadi sekadar buruh pabrik digital yang memproduksi konten-konten fast-food. Kita tidak lagi menulis untuk menyentuh kedalaman nurani manusia, melainkan untuk memberi makan robot-robot pengatur arus informasi yang rakus.

Kreativitas tidak lagi menjadi ruang suci untuk bereksplorasi, melainkan ruang interogasi di mana kita dipaksa patuh pada kehendak mesin jika ingin tetap relevan.

Secara data, kegilaan ini memiliki basis logika yang sangat dingin. Laporan dari Reuters Institute menunjukkan bahwa mayoritas audiens digital kini lebih memilih mengonsumsi konten yang memicu emosi primitif—seperti kemarahan kolektif atau tawa receh, dibandingkan narasi yang mengajak refleksi mendalam.

Algoritma media sosial dirancang secara picik untuk mengunci atensi kita selama mungkin dengan cara menyodorkan konten serupa secara berulang. Akibatnya, keberagaman perspektif mati secara perlahan dalam echo chamber yang kita ciptakan sendiri. Sebagai penulis, saya merasa dikerdilkan; setiap kali saya mencoba menyelam lebih dalam, algoritma akan dengan sigap mengubur karya saya di dasar palung digital yang tak tersentuh cahaya.

Analisis saya terhadap situasi ini membawa pada satu kesimpulan pahit: kita sedang menuju kiamat orisinalitas. Ketika kreativitas sepenuhnya didikte oleh pasar dan angka, maka idealisme hanyalah dongeng usang yang tidak laku digadaikan.

Saya merasa miris melihat bagaimana teknik SEO dan optimalisasi kata kunci telah merampas estetika dari setiap susunan kata. Kita terlalu sibuk menghitung frekuensi keyword sampai lupa bagaimana cara merangkai kalimat yang mampu membuat pembaca menahan napas.

Urgensi masalah ini bukan sekadar soal konten yang seragam, melainkan soal erosi identitas. Ada kehampaan eksistensial yang luar biasa ketika saya terus-menerus memproduksi sesuatu yang sebenarnya saya benci, hanya karena saya takut "mati" di mata publik.

Mari kita bicara jujur dari hati ke hati, pernahkah Anda—seperti saya—merasa menjadi manusia paling bodoh karena menghabiskan energi untuk riset dan menulis karya yang bernyawa, namun kalah telak oleh video sepuluh detik tanpa substansi yang meledak dalam semalam?

Rasa iri dan frustrasi itu adalah bukti valid bahwa kita telah menuhankan angka di atas makna. Kita terjebak dalam perlombaan lari di atas treadmill digital; kita berkeringat, kita kehabisan napas, tapi kita tidak bergerak ke mana pun.

Kita hanya berputar di labirin yang sama, mengikuti algoritma yang aturannya berubah setiap minggu tanpa pernah peduli pada proses kreatif yang kita bangun dengan air mata dan integritas.

Saya ingin melontarkan sebuah refleksi satir untuk diri saya sendiri dan juga Anda: sampai kapan kita mau menjadi budak yang sujud pada berhala digital ini?

Apakah kita benar-benar merasa menang saat mendapatkan ribuan like pada karya yang sebenarnya tidak memiliki "ruh"?

Jangan biarkan algoritma yang dingin dan tak berperasaan itu mematikan percik keunikan yang Tuhan titipkan dalam jemari Anda. Sesekali, beranilah untuk berontak.

Tuliskan sesuatu yang benar-benar Anda cintai tanpa peduli apakah ia akan berakhir dengan nol interaksi atau sejuta penayangan. Karena pada akhirnya, harga diri seorang penulis terletak pada kejujurannya, bukan pada statistik di dashboard admin.

Jadi, hari ini, Anda ingin tetap menjadi buruh mesin, atau kembali menjadi manusia yang merdeka?