Pernah melihat bapak-bapak poskamling yang ronda sambil bermain catur? Atau pernah terlibat adu strategi catur dengan kawan sampai lupa makan?
Nah, siapa sangka di balik keseruan mengadu strategi dan menjalankan pion, catur ternyata memiliki kemampuan untuk mencegah penurunan fungsi kognitif seperti demensia dan Alzheimer, lho! Kok bisa?!
Catur Bisa Memperlambat Penurunan Fungsi Kognitif Otak
Mengutip laman The University of Chicago, catur dianggap bisa meningkatkan fungsi kognitif bagi masyarakat. Penurunan fungsi kognitif sendiri bisa terjadi karena alasan klinis yang tidak jelas, dan seringnya melibatkan kehilangan ingatan, defisit perhatian, hingga gangguan bicara dan penalaran. Gejala ini terkait dengan gangguan neurodegeneratif seperti demensia yang secara tidak proporsional memengaruhi populasi lansia.
Prevalensi penurunan kognitif tidak hanya menimbulkan kekhawatiran di kalangan para profesional medis saja, melainkan juga masyarakat umum. Walau sudah ada beragam suplemen, vitamin, diet Mediterania, dan sejumlah tren lain yang konon mampu menjaga kesehatan otak.
Namun, beberapa tahun belakangan ini, catur muncul sebagai salah satu solusi potensial untuk memperlambat timbulnya penurunan kognitif otak.
Beragam Studi dan Penelitian Seputar Catur
Artikel di tahun 2019 oleh Lillo-Crespo dkk.
Catur ternyata sangat manjur sebagai aktivitas pelindung terhadap perkembangan demensia. Mereka menemukan bahwa aktivitas mental yang menantang dari catur menghasilkan dan menguatkan koneksi sinaptik serta merangsang neurogenesis. Koneksi sinaptik yang menguat mampu menghasilkan perubahan di otak dan memperlambat demensia.
Beberapa penelitian lain juga mengusulkan bahwa aktivitas yang merangsang kognitif bisa mengurangi penumpukan amiloid di otak dan memperlambat Alzheimer.
Makalah penelitian tahun 2003 oleh Dowd et al.
Berdasarkan dokumentasi kegunaan catur dalam mencegah Alzheimer, penelitian ini menyimpulkan bahwa catur mungkin bermanfaat karena telah terbukti sebagai permainan berbasis keterampilan yang tidak bergantung pada kecerdasan umum.
Studi de Groot tahun 1946
Studi ini adalah studi tentang proses pengambilan keputusan pemain catur yang menunjukkan bahwa pengenalan pola adalah penentu utama keahlian daripada pencarian. Pengenalan pola bergantung pada memori dan visualisasi, yang mana keduanya terganggu pada penderita demensia.
Makalah tahun 2011 oleh Connors dkk.
Mereka berusaha mereplikasi penelitian de Groot (1946) dengan menguji secara empiris tingkat pengenalan pola pemain catur dengan berbagai tingkat keahlian.
Temuan ini menunjukkan bahwa grandmaster dan master internasional catur yang diteliti bisa melakukan pencarian pola yang lebih cepat ketimbang para ahli dan pemain kelas A. Dan, bahwa kedua kelompok tersebut saat ini melakukan pencarian secara substansial lebih cepat daripada pemain dalam penelitian sebelumnya.
Makanya, bagi mereka yang berisiko terkena demensia, bisa melakukan pelatihan mengambil keputusan lewat catur. Di mana aktivitas berulang dari koneksi saraf yang terkait pengambilan keputusan bisa berfungsi untuk menjaga kognitif mereka.
Catur Sebagai Cabang Perlombaan Internasional
Dewasa ini, catur tidak hanya dijadikan sebagai permainan masyarakat umum saja, melainkan berhasil menjadi salah satu cabang perlombaan internasional. Tentu saja, lawan yang dihadapi dari berbagai negara bakal memiliki strategi dan gertakan tersendiri.
Selalu ada manipulasi pikiran dan gerakan pion untuk mengecoh lawan. Di sisi lain, penonton bakal dag-dig-dug karena tidak bisa membaca gerakan para pemain. Mereka bermain dalam senyap dan senyum, tetapi otak mereka bekerja keras.
Catur Sebagai Perekat Budaya Kekeluargaan
Catur sendiri juga hadir dengan nama lain skak. Umumnya istilah ini terkenal di Jawa, ya. Permainan ini umum dimainkan oleh anak-anak, remaja, hingga dewasa di mana kadang kita dapati bapak-bapak di poskamling atau warung kopi memainkannya.
Sering kali, aduan catur ini dipilih sebagai aktivitas kebersamaan sekaligus perang harga diri. Mereka tidak segan melupakan kopi yang tersaji demi menangkis gertakan dan langkah-langkah lawan.
Selain itu, kadang orang-orang dewasa juga mengajarkan permainan catur kepada anak-anak, sehingga transfer ilmu dipraktikkan secara langsung, bukannya sekadar teori. Hal inilah yang menambah nilai kekeluargaan masyarakat dan semangat gotong royong berbasis strategi.
Baca Juga
-
Pocong Berdarah di Dahan Sengon Buto yang Dilihat oleh Lek Salim
-
Dimensi Mimpi: Bocah Bertopi Gendut yang Menganggapku Gila
-
Dari Jarum Turun ke Hati: Menyulam Ternyata Bisa Bikin Dopamin Happy!
-
Friska, Lift Aneh, dan Lelaki Berbaju Hitam Pencari Gula Pasir
-
Secuil Kebahagiaan, Soal Adrian dan Minuman Oplosan dari Kak Lita
Artikel Terkait
-
Pulih dari Cedera, Catur Pamungkas Siap Kembali Bela Persebaya Surabaya
-
Nyepi 2026, Bali Hening Total, Jalanan dan Tol Sepi Tanpa Aktivitas
-
Bidak Catur Tia dan Hilangnya Rama
-
Menopause dan Risiko Demensia: Perubahan Hormon yang Tak Bisa Diabaikan
-
Power Couple Baru Dunia Catur, Irene Sukandar dan Eric Rosen Resmi Menikah
News
-
Bukan Sekadar Melindungi Rakyat, Ini Alasan Pemerintah Menahan Kenaikan BBM
-
STY Hadir! Intip Keseruan Pacuan Kuda Triple Crown 2026 di Jogja Bareng 12 Ribu Penonton
-
Yoursay Class: Tak Sekadar Curhat, Ini Cara Menulis Opini Personal yang Relatable dan Berdampak
-
Soleh Solihun Akhirnya Kasih Standing Ovation untuk 2 Peserta Indonesian Idol
-
Kaget Pas Lagi Jalan? Drama Baliho "Aku Harus Mati" yang Berujung Turun Panggung
Terkini
-
Novel Pasta Kacang Merah: Menebus Luka Masa Lalu
-
Ada Kim Seon Ho dan Lee Ki Taek, Variety Show Bonjour Bakery Siap Tayang 8 Mei
-
Memahami Ulang Makna 'Pulang' dan 'Rumah' dalam Project Hail Mary
-
Geser Status Calon Juara ke Marco Bezzecchi, Marc Marquez Atur Strategi?
-
Rekomendasi HP Vivo 1 Jutaan 2026, Ada RAM 8 GB dan Fitur IP65