Sekar Anindyah Lamase | Leonardus Aji Wibowo
Kegiatan Menonton bersama Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia dalam acara Tilem ing Tentrem, program Corporate Social Responsibility (CSR) dari Hotel Tentrem Group (Dok pribadi)
Leonardus Aji Wibowo

Proses pengobatan kanker pada anak tidak hanya menguras kondisi fisik, tetapi juga berdampak pada kehidupan sehari-hari mereka, termasuk pendidikan. Di tengah jadwal kemoterapi dan perawatan medis yang panjang, dukungan caregiver menjadi salah satu hal penting agar anak tetap bisa menjalani aktivitas seperti belajar dan sekolah.

Caregiver sendiri merupakan pendamping pasien yang membantu proses perawatan selama pengobatan berlangsung. Dalam konteks anak penderita kanker, caregiver umumnya berasal dari orang tua, keluarga, maupun pendamping yang menemani anak selama menjalani terapi dan pemulihan.

Dukungan tersebut juga diperkuat oleh keberadaan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia atau YKAKI. YKAKI merupakan yayasan sosial yang bergerak dalam pendampingan anak penderita kanker dengan menyediakan berbagai layanan seperti rumah singgah, bantuan pengobatan, hingga pendampingan pendidikan.

Ketua Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia cabang Yogyakarta, Eka Wibawa, mengatakan kanker pada anak memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kanker pada orang dewasa.

“Kanker pada anak itu tidak bisa dicegah dan bisa tumbuh atau muncul begitu saja,” ujar Eka saat ditemui Yoursay.id pada Sabtu (9/5/2026).

Wawancara tersebut dilakukan dalam acara Tilem ing Tentrem, program Corporate Social Responsibility (CSR) dari Hotel Tentrem Group yang dirancang sebagai ruang jeda dan dukungan bagi anak-anak pejuang kanker serta caregiver atau pendamping mereka.

Menurut Eka, penanganan medis harus menjadi prioritas utama ketika anak sudah terdiagnosis kanker. Ia mengingatkan keluarga pasien untuk tidak mengambil risiko dengan mengutamakan pengobatan alternatif.

“Kalau terjadi kanker, segera jangan pakai alternatif. Harus medis nomor satu,” katanya.

Selain mendampingi proses pengobatan, YKAKI Jogja juga menyediakan rumah singgah bagi pasien anak dari luar daerah yang menjalani pengobatan di Yogyakarta. Fasilitas tersebut memungkinkan anak dan orang tua tinggal sementara selama masa terapi berlangsung.

“Rumah singgah itu diperuntukkan untuk anak-anak dan orang tua bisa stay selama pengobatan di Jogja,” ujar Eka.

Ia mengatakan pasien yang datang tidak hanya berasal dari wilayah sekitar Yogyakarta, tetapi juga dari berbagai daerah lain seperti Cilacap hingga Kalimantan.

Tak hanya fokus pada pengobatan, YKAKI juga memiliki program pendidikan bernama Sekolahku untuk membantu anak tetap belajar selama menjalani terapi kanker. Program tersebut dilakukan dengan cara berkoordinasi langsung dengan sekolah asal anak.

“Guru-guru kami akan menghubungi wali kelas maupun kepala sekolah untuk mereka tetap bisa belajar juga,” jelas Eka.

Melalui pendampingan itu, anak-anak tetap dapat mengikuti ujian sekolah dan melanjutkan pendidikan mereka meski harus menjalani kemoterapi.

“Kalau ada ujian kelulusan mereka bisa tetap ikut dan bisa naik dan bisa lulus,” lanjutnya.

Eka menegaskan dukungan terhadap anak penderita kanker tidak bisa hanya berfokus pada pengobatan medis semata. Menurutnya, perhatian dari caregiver, keluarga, lingkungan, hingga komunitas pendamping memiliki peran penting dalam menjaga semangat dan kondisi mental anak selama menjalani terapi.

Dukungan tersebut dinilai membantu anak tetap memiliki harapan, merasa tidak sendirian, dan terus menjalani pendidikan di tengah proses pengobatan yang panjang.

“Pengobatan itu tidak putus, dia terus berlanjut dan bisa selesai dan berhasil,” tutupnya.