Bimo Aria Fundrika | Natasha Suhendra
Potret Pepohonan di Perkotaan (Pexels/Huy Phan)
Natasha Suhendra

Pepohonan selama ini dikenal sebagai “AC alami” yang mampu membantu menurunkan suhu di kawasan perkotaan. Di tengah meningkatnya cuaca panas ekstrem di berbagai kota besar, penanaman pohon kerap menjadi solusi utama untuk menghadirkan udara yang lebih sejuk dan nyaman bagi masyarakat.

Namun, studi global terbaru menunjukkan bahwa pohon saja ternyata tidak cukup untuk mengatasi panas ekstrem di perkotaan.

Penelitian yang dikutip dari Phys.org menganalisis hampir 9.000 kota di dunia yang dihuni sekitar 3,6 miliar orang. Hasil penelitian menunjukkan pepohonan memang memiliki dampak signifikan dalam mengurangi panas perkotaan. Secara global, keberadaan pohon mampu menurunkan efek panas kota hingga hampir 50 persen atau sekitar 0,5 derajat Celcius.

Peneliti menjelaskan pohon bekerja dengan memberikan keteduhan serta membantu proses pendinginan alami melalui pelepasan uap air dari daun. Di kawasan padat bangunan dan aspal, keberadaan pohon dapat mengurangi paparan langsung sinar matahari sekaligus membantu menjaga kualitas udara.

Pengurangan suhu tersebut dinilai penting karena saat ini lebih dari separuh populasi dunia tinggal di kawasan perkotaan. Bahkan, United Nations memperkirakan sekitar 68 persen penduduk dunia akan tinggal di kota-kota besar pada 2050.

Kondisi ini juga dirasakan di berbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, suhu harian di DKI Jakarta berkisar antara 25 hingga 33 derajat Celcius. Di sejumlah wilayah padat, suhu terasa lebih panas akibat minimnya ruang terbuka hijau dan tingginya kepadatan bangunan.

Meski demikian, penelitian tersebut menemukan bahwa pepohonan di perkotaan hanya mampu mengimbangi sekitar 10 hingga 20 persen dari peningkatan panas berlebih yang diperkirakan akan terus terjadi di masa depan akibat perubahan iklim dan urbanisasi.

Artinya, penanaman pohon tidak bisa dijadikan satu-satunya solusi untuk menghadapi ancaman panas ekstrem di kota besar.

Para peneliti menilai dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh melalui desain kota yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Salah satu langkah yang disarankan adalah penggunaan material reflektif pada bangunan dan jalan raya agar panas matahari tidak terserap berlebihan dan dapat dipantulkan kembali.

Selain itu, penambahan ruang hijau, pengurangan dominasi beton, serta perbaikan aliran udara antarbangunan juga dinilai penting untuk membantu menurunkan suhu kawasan perkotaan.

Penanaman pohon sendiri dinilai tetap perlu dilakukan, tetapi harus lebih terarah. Wilayah dengan suhu lebih tinggi dan minim ruang terbuka hijau menjadi prioritas utama agar manfaat pendinginan dapat dirasakan lebih efektif oleh masyarakat.

Di sisi lain, pengurangan emisi gas rumah kaca juga menjadi langkah penting untuk mengatasi akar persoalan kenaikan suhu global. Tanpa upaya mengurangi emisi, suhu perkotaan diperkirakan akan terus meningkat meskipun penghijauan dilakukan secara masif.

Studi ini menunjukkan bahwa menghadapi panas ekstrem tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Kota-kota besar membutuhkan perubahan tata ruang, pembangunan yang lebih ramah iklim, serta kebijakan pengurangan emisi yang berkelanjutan agar lingkungan perkotaan tetap layak dihuni di masa depan.