M. Reza Sulaiman | Daffa Wijaya
Ilustrasi lapangan padel. (Pexels)
Daffa Wijaya

Demam olahraga padel yang sempat meledak di kalangan anak muda, selebritas, hingga pebisnis urban kini mulai memunculkan tanda tanya besar. Media sosial belakangan ramai membicarakan unggahan penjualan lapangan padel dengan harga miring. Fenomena ini memicu spekulasi bahwa tren olahraga yang sebelumnya dianggap “gaya hidup baru” itu mulai kehilangan pamor.

Perbincangan bermula dari unggahan akun X yang menampilkan satu set lapangan padel indoor dijual seharga Rp199 juta, lengkap dengan fasilitas bongkar pasang. Harga tersebut dinilai jauh lebih murah dibanding biaya pembangunan lapangan padel yang bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Unggahan itu langsung viral dan memancing berbagai komentar netizen soal masa depan bisnis padel di Indonesia.

Spekulasi Kejenuhan Pasar dan Seleksi Alami

Banyak warganet menilai bisnis padel mulai jenuh karena terlalu cepat berkembang dalam waktu singkat. Tidak sedikit yang menyebut olahraga ini sebelumnya tumbuh karena faktor hype dan gengsi sosial, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali. Saat tren mulai melandai, sejumlah pemilik lapangan disebut kesulitan menjaga tingkat okupansi tetap tinggi.

Namun, di sisi lain, sejumlah pelaku industri menilai fenomena penjualan lapangan murah belum tentu menjadi tanda runtuhnya tren padel. Beberapa pengusaha justru menganggap pasar sedang memasuki fase seleksi alami. Artinya, hanya bisnis dengan konsep kuat, lokasi strategis, dan komunitas aktif yang akan bertahan.

Padel sendiri memang mengalami pertumbuhan luar biasa dalam dua tahun terakhir. Olahraga yang mirip perpaduan tenis dan squash ini menjadi gaya hidup baru kalangan urban. Menurut laporan industri properti dari Knight Frank Indonesia, lapangan padel bahkan diprediksi menjadi salah satu tren properti olahraga yang berkembang pesat pada 2026. Indonesia disebut menguasai sebagian besar pertumbuhan pasar padel di Asia Tenggara.

Meski demikian, pertumbuhan yang terlalu cepat juga memunculkan masalah baru. Di Jakarta, ratusan lapangan padel sempat mendapat sanksi hingga penyegelan karena persoalan izin dan keluhan warga terkait kebisingan. Situasi ini membuat sebagian investor mulai berhitung ulang terhadap bisnis padel yang sebelumnya dianggap menjanjikan.

Biaya Sewa Tinggi dan Fase Normalisasi Tren

Muncul pula perdebatan mengenai biaya bermain padel yang dianggap cukup mahal untuk pasar umum. Tarif sewa lapangan yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah per jam membuat olahraga ini identik dengan kalangan menengah atas. Ketika tren sosial mulai bergeser, minat masyarakat disebut ikut menurun.

Meski begitu, komunitas padel menilai olahraga ini belum benar-benar kehilangan daya tarik. Beberapa pengamat menyebut kondisi sekarang lebih tepat disebut sebagai fase normalisasi setelah ledakan popularitas yang terlalu tinggi. Sebelumnya, olahraga seperti golf simulator, sepeda mahal, hingga bowling premium juga sempat mengalami lonjakan popularitas sebelum akhirnya memasuki pasar yang lebih stabil.

Fenomena penjualan lapangan padel murah saat ini akhirnya dianggap sebagai sinyal bahwa industri mulai memasuki tahap persaingan nyata. Investor yang hanya ikut tren kemungkinan akan tersingkir, sementara pelaku usaha yang mampu membangun komunitas diyakini masih punya peluang besar bertahan.

Untuk saat ini, belum ada data resmi yang menunjukkan penurunan drastis jumlah pemain padel di Indonesia. Namun viralnya penjualan lapangan dengan harga “jual rugi” jelas menjadi alarm bahwa bisnis berbasis tren tidak selalu berjalan mulus dalam jangka panjang.