Pukul lima pagi, lampu dapur rumah Lina sudah menyala. Sarapan untuk ketiga anaknya mulai dimasak. Di meja, buku catatan cicilan pelanggan sudah menunggu. Sebelum matahari meninggi, ia harus mengantar anak ke sekolah, merapikan rumah, lalu berkeliling menawarkan kredit elektronik kepada pelanggannya.
Rutinitas itu nyaris tak pernah berubah. Pagi diisi pekerjaan rumah tangga, siang hingga sore bekerja, malam ditutup dengan menghitung setoran dan menyiapkan pesanan untuk hari berikutnya.
Lina (44) menjalani semua itu seorang diri. Sebagai ibu dari tiga anak sekaligus kepala keluarga, ia membagi waktunya antara mengurus rumah dan menjalankan usaha kredit elektronik di kawasan Gempolsari.
"Jam lima saya sudah bangun menyiapkan anak sekolah. Setelah pekerjaan rumah selesai, baru mulai keliling ke pelanggan. Malam sebelum tidur, saya masih menghitung setoran dan menyiapkan pesanan untuk besok," ujarnya.
Rutinitas itu telah dijalani Lina selama lima tahun, jauh sebelum nilai tukar rupiah melemah. Namun, sebagai orang tua tunggal, setiap kenaikan biaya hidup kini terasa lebih berat. Seluruh kebutuhan keluarga bergantung pada penghasilan yang ia peroleh setiap hari, sementara pekerjaan di rumah tak pernah berkurang.
Lina bukan satu-satunya perempuan yang menghadapi beban ganda. Survei ILO pada 2023 menunjukkan 79,3 persen perempuan pekerja di Indonesia memikul tanggung jawab serupa.
Mereka bekerja untuk memperoleh penghasilan, lalu pulang untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Meski tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan terus meningkat, angkanya masih 56,42 persen, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 84,66 persen.
Bagi sebagian perempuan, bekerja bukan sekadar menambah penghasilan keluarga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan 14,37 persen perempuan pekerja merupakan kepala keluarga sekaligus pencari nafkah utama. Ketika biaya hidup meningkat, tekanan ekonomi pun mereka rasakan lebih dulu.
Ketika Biaya Hidup Naik, Nafas Usaha Makin Pendek
Situasi itu semakin berat ketika rupiah terus melemah. Pada awal April 2026, nilai tukar sempat menyentuh Rp18.095,70 per dolar Amerika Serikat atau melemah sekitar 7,86 persen dibandingkan setahun sebelumnya. Pelemahan ini diikuti kenaikan harga berbagai kebutuhan, mulai dari bahan bakar, pangan, hingga obat-obatan.
Bagi Lina, dampaknya datang melalui para pelanggannya. Sebelum membuka usaha kredit elektronik, ia bekerja sebagai buruh pabrik.
Relasi yang terjalin saat itu membuat sebagian besar pelanggannya kini merupakan buruh pabrik perempuan di Gempolsari, Sewan, dan Bayur. Namun, ketika sejumlah pabrik melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengurangan jam kerja, cicilan mereka ikut tersendat.
"Banyak pelanggan kena PHK. Yang tadinya buat bayar cicilan akhirnya dipakai buat kebutuhan sehari-hari. Kalau mereka sudah bisa bayar setengah saja, saya sudah bersyukur karena modal saya sudah kembali," katanya.
Padahal, modal usaha itu bukan berasal dari tabungannya sendiri, melainkan pinjaman. Sementara cicilan pinjaman tetap berjalan, pemasukan justru semakin tidak menentu. Keuntungan yang dulu masih bisa disisihkan untuk dirinya kini hampir habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Dulu masih ada sisa sekitar lima juta buat saya. Sekarang paling dua juta, itu pun belum buat ongkos anak sekolah, kebutuhan rumah, semuanya naik. Rasanya sudah mepet, hampir tidak ada sisa."
Bertahan dengan Menambah Dagangan
Tekanan serupa juga dirasakan Irma (49), pedagang makanan di Jelupang. Setiap hari ia bangun pukul tiga dini hari untuk menyiapkan dagangan. Awalnya ia hanya menjual risoles, tetapi kenaikan harga bahan baku dan menurunnya daya beli membuatnya mencari cara agar usahanya tetap bertahan.
"Harga sayur, telur, cabai, sampai plastik naik. Waktu harga jual ikut naik, pembelinya malah berkurang. Akhirnya saya tambah jualan bakmi supaya tetap ada pemasukan."
Irma pernah bekerja di sebuah kantor. Namun, setelah menjadi orang tua tunggal, ia memilih berhenti demi merawat anak-anaknya. Kini hari-harinya dihabiskan bergantian antara dapur, tempat berjualan, dan pekerjaan rumah. Tak jarang ia berada di dapur sejak dini hari hingga malam.
Tubuhnya mulai memberi tanda. Ia mengaku semakin sering sakit, tetapi berobat bukan menjadi prioritas. Baginya, yang lebih penting adalah memastikan anak-anaknya tetap terpenuhi kebutuhannya.
"Kalau masih bisa ditahan, ya ditahan saja. Yang saya pikirkan kalau saya kenapa-kenapa, nanti anak-anak bagaimana," katanya.
'Baik-baik Saja', Meski Tubuh Mulai Menyerah
Kerentanan itu juga diperbesar oleh minimnya perlindungan sosial. Data yang dikutip dari Kontan (2025) menunjukkan, dari lebih dari 61 juta pekerja informal di Indonesia, hanya sekitar 9,9 juta atau 16,2 persen yang telah terlindungi BPJS Ketenagakerjaan. Lina dan Irma termasuk di antara jutaan pekerja yang berada di luar perlindungan tersebut.
Meski memikul beban yang tidak ringan, jawaban mereka nyaris selalu sama ketika ditanya kabarnya.
"Baik-baik saja."
Jawaban itu bukan berarti mereka tidak lelah. Bagi keduanya, mengeluh tidak akan mengurangi pekerjaan yang harus diselesaikan.
Mengapa Beban Itu Lebih Banyak Jatuh kepada Perempuan?
Peneliti The SMERU Research Institute, Utari, mengatakan pengalaman Lina dan Irma mencerminkan pola yang banyak ditemukan dalam penelitiannya.
Perempuan cenderung menempatkan kebutuhan keluarga di atas kebutuhan diri sendiri. Bahkan dalam urusan sederhana, seperti makan, mereka sering memastikan anggota keluarga kenyang lebih dulu sebelum memikirkan dirinya.
"Perempuan mengutamakan kebutuhan orang lain lebih dulu, bahkan dibanding kebutuhan dirinya sendiri," ujar Utari.
Menurut Utari, kecenderungan tersebut bukan sekadar pengalaman individu. Dalam jangka panjang, pola itu dapat menggerus kesehatan fisik, kesehatan mental, hingga kualitas hidup mereka, terutama ketika tekanan ekonomi semakin besar.
Data Komnas Perempuan menunjukkan, sepanjang 2025 terdapat 5.942 kasus kekerasan ekonomi terhadap perempuan. Jumlah itu meningkat 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bagi Utari, tekanan ekonomi tidak hanya mengurangi pendapatan keluarga, tetapi juga memperberat beban perawatan yang selama ini lebih banyak dipikul perempuan.
Ketika biaya hidup meningkat, banyak perempuan yang sebelumnya hanya mengurus rumah tangga akhirnya ikut mencari nafkah. Namun, pekerjaan domestik tidak ikut berkurang. Setelah pulang bekerja, mereka tetap memasak, mencuci, mengasuh anak, dan merawat anggota keluarga.
"Sosiolog Arlie Russell Hochschild menyebutnya the second shift. Perempuan bekerja di ruang publik, tetapi ketika pulang mereka masih menjalankan pekerjaan perawatan di rumah. Akhirnya mereka menanggung beban ganda, bahkan bisa menjadi tiga lapis," ujar Utari.
Kerja Perawatan yang Tak Pernah Dianggap Pekerjaan
Menurut Utari, kondisi tersebut berakar pada cara masyarakat memandang pekerjaan perawatan. Aktivitas seperti memasak, mengasuh anak, merawat anggota keluarga yang sakit, atau mengantar keluarga ke fasilitas kesehatan masih dianggap sebagai kewajiban perempuan, bukan sebagai pekerjaan yang memiliki nilai ekonomi.
Padahal, kata Utari, tanpa pekerjaan perawatan, aktivitas ekonomi di luar rumah tidak akan berjalan.
"Kerja perawatan adalah kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian, tetapi sering kali tidak pernah dihitung dan jarang mendapatkan penghargaan."
Karena itu, menurutnya, solusi tidak cukup berhenti pada peningkatan pendapatan keluarga. Negara juga perlu memperkuat kebijakan yang mendukung pembagian kerja perawatan, seperti penyediaan layanan penitipan anak yang terjangkau dan berkualitas, serta mendorong pembagian cuti pengasuhan yang lebih setara antara ayah dan ibu.
Harapan agar Beban Tak Selalu Dipikul Sendirian
Bagi Lina dan Irma, perubahan kebijakan mungkin masih terasa jauh. Yang mereka lakukan hari ini adalah tetap bangun sebelum fajar, bekerja hingga malam, lalu berharap esok sedikit lebih ringan dari hari ini.
"Semoga ekonomi bisa stabil lagi, usaha juga membaik. Biar kalau anak-anak butuh sesuatu, saya nggak harus menahan mereka," kata Lina.
Karena bagi perempuan yang memikul seluruh beban seorang diri, berhenti bukanlah pilihan. Mereka terus berjalan, sembari berharap ruang untuk bernapas suatu hari nanti menjadi lebih lega.
Baca Juga
Artikel Terkait
News
-
Sudah Saatnya Night Eating Syndrome Menjadi Perhatian Nasional
-
Realita Generasi Bertahan: Gaji Jalan di Tempat, Kebutuhan Lari Kencang
-
Teringat Rekan Kerja Cantik yang Selalu Menunduk: Pahitnya Menjadi Target Catcalling
-
Pemuda Trash Ranger Indonesia sebagai Delegasi Puncak IGYLS 2026
-
Ritel Adalah Cermin Sosial: Membaca Karakter Pelanggan dari Gaya Belanja Mereka
Terkini
-
4 Inspirasi OOTD Y2K Summer Style ala Asa BABYMONSTER yang Playful Abis!
-
Mitos Anggaran Pendidikan Kecil ala Singapura dan Jepang: Kenapa Indonesia Tidak Bisa Meniru?
-
Argentina di Ambang Sejarah, Mampukah Albiceleste Wujudkan Back-to-Back?
-
Antara Hemat dan Takut Keluar Uang: Saat Belanja Bikin Kita Merasa Bersalah
-
5 Fakta Menarik Kafka Bintang, Mahasiswa UNHAN yang Jadi MVP Lips Recall COC Season 3!