“Tenang aja, Singapura dan Jepang juga masuk sepuluh besar negara dengan belanja pendidikan terendah, tapi buktinya pendidikan mereka tetap yang terbaik di Asia.”
Pernyataan itu benar dan tidak bisa dibantah. Namun, kita perlu kembali membaca data yang diperoleh dari UNESCO Institute for Statistics secara detail. Selain tercantum nama negara, tertera juga persentase belanja pendidikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan populasi generasi muda yang berumur di bawah 24 tahun. Inilah sisi dari data yang perlu kita cermati bersama.
Ilusi Anggaran Raksasa dalam Angka
Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF), PDB Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan berada di angka sekitar USD 1,54 triliun. Dengan belanja pendidikan sebesar 1,3 persen dari PDB, berarti pemerintah hanya membelanjakan sekitar USD 20,02 miliar. Sementara itu, jumlah penduduk berusia di bawah 24 tahun di Indonesia mencapai 40,2 persen dari total penduduk, yakni sekitar 115,3 juta jiwa. Artinya, dari anggaran tersebut, setiap anak muda di Indonesia hanya mendapatkan alokasi dana pendidikan sekitar USD 173,53 per tahun.
Secara nominal, angka USD 20,02 miliar milik Indonesia mungkin terlihat begitu raksasa dan terkesan mewah. Nyatanya, uang ini harus digunakan untuk menghidupi 115 juta anak muda, menggaji jutaan pendidik, merenovasi ratusan ribu gedung, hingga membiayai listrik dan internet sekolah.
Berbeda halnya dengan Singapura dan Jepang. Pada laporan penilaian Global Education Report per 2025, Singapura menduduki peringkat kedua (skor 73,28) dan Jepang di peringkat keenam (skor 70,10). Sebaliknya, Indonesia masih tertinggal jauh di bawahnya.
Singapura, misalnya, mengalokasikan 2,2 persen dari PDB-nya yang mencapai USD 659,57 miliar, sehingga menghasilkan belanja pendidikan sebesar USD 14,51 miliar. Dengan populasi anak muda yang hanya sekitar 1,51 juta jiwa (25,6 persen dari total penduduk), anggaran tersebut setara dengan investasi sebesar USD 9.619,31 per anak setiap tahunnya. Ini berarti, investasi riil per siswa di Singapura hampir 55 kali lipat lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
Di sisi lain, Jepang mengalokasikan 3,3 persen dari PDB-nya yang bernilai USD 4,38 triliun, setara dengan anggaran pendidikan sebesar USD 144,52 miliar. Akibat krisis penurunan tingkat kelahiran, porsi generasi muda di Jepang sangat kecil, yakni hanya 25,47 juta jiwa (20,8 persen dari total penduduk). Alhasil, setiap anak muda di Jepang dapat menikmati dana pendidikan yang fantastis mencapai USD 5.674,13 per tahun, atau sekitar 32,7 kali lipat lebih tinggi daripada Indonesia.
Realita Satu Kue Mini untuk Jutaan Anak
Saya tahu deretan angka triliunan dan miliaran di atas mungkin akan membuat pening. Mari kita bedah masalah ini lewat analogi yang jauh lebih sederhana. Bayangkan anggaran pendidikan adalah sebuah kue ulang tahun.
Selama ini, kita sering mengira bahwa kehebatan suatu negara dinilai dari seberapa besar “kue ekonomi” yang dimiliki, padahal tidak demikian. Penentu kesejahteraan bukan hanya soal seberapa besar kuenya, melainkan seberapa banyak mulut yang harus ikut menikmatinya. Indonesia memiliki jumlah anak muda yang sangat masif, yang jumlahnya bahkan melampaui total seluruh penduduk Singapura.
Ironisnya, anggaran pendidikan kita yang disisihkan dari total pendapatan begitu kecil. Alhasil, kue ulang tahun yang ukurannya biasa saja harus dipotong sedemikian rupa sampai menjadi remah-remah demi bisa dibagikan ke ratusan juta anak.
Sementara itu, kedua negara dengan pendidikan terbaik tersebut memiliki jumlah anak muda yang sangat minim di tengah kapasitas finansial yang luar biasa. Hasilnya, satu anak bisa mendapatkan satu porsi kue utuh yang mewah dan berkualitas tinggi.
Indonesia memiliki manusia yang melimpah, tetapi tidak didukung oleh modal finansial yang memadai. Kita kalah telak dari Singapura dan Jepang bukan karena ekonominya lebih kecil, melainkan akibat beban populasi muda yang raksasa, sementara komitmen anggaran kita masih setengah hati.
Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Pada akhirnya, tingginya investasi pendidikan per anak di Singapura dan Jepang bukanlah sulap atau sihir. Itu adalah akibat logis dari kombinasi yang kontras: anak muda yang sedikit, dompet negara yang tebal, dan komitmen anggaran yang serius.
Dengan demikian, angka 1,3 persen untuk Indonesia memang menjadi alarm keras bahwa investasi riil negara terhadap masa depan anak bangsa masih sangat minim secara nominal per kapita. Kita memiliki tantangan demografi yang luar biasa berat dengan 40,2 persen populasi muda yang harus dididik dengan layak.
Namun, masuknya Singapura dan Jepang ke dalam daftar belanja terendah bukanlah bukti bahwa kualitas pendidikan mereka buruk. Sebaliknya, hal itu merupakan bukti nyata dari efisiensi sistem pendidikan mereka, jumlah populasi muda yang lebih terkendali, serta ukuran ekonomi yang luar biasa besar sehingga persentase kecil saja sudah mampu menghadirkan standar pendidikan kelas dunia.
Bagi Indonesia, pekerjaan rumah terbesarnya bukan sekadar memperdebatkan angka persentase, melainkan bagaimana caranya untuk memperbesar kapasitas ekonomi nasional dan memastikan setiap rupiah dari APBN untuk pendidikan benar-benar mengalir efektif langsung ke ruang-ruang kelas di seluruh penjuru negeri dari Sabang sampai Merauke.
Baca Juga
-
Pendidikan Dianaktirikan: Mengapa Indonesia Masih Pelit Investasi pada Otak Rakyatnya?
-
Review Bebek Boedjang Karawang: Sensasi Bebek Jumbo Daging Empuk Rp50 Ribu
-
Kereta Api Bukan Dapur Berjalan! Alasan Logis Mengapa Stopkontak KAI Haram untuk Rice Cooker
-
Validasi Sosial Mengalahkan Literasi: Mengapa Kita Lebih Takut Kusam daripada Bodoh?
-
"Diutus" Presiden: Mengapa Ucapan Ketua MPR Ahmad Muzani Picu Kontroversi Konstitusi?
Artikel Terkait
-
Tak Sesuai UUD 45, Purbaya Akui Realisasi Anggaran Pendidikan 2025 Tak Capai 20%
-
Note of Mothership: Pesan Kemanusiaan Karya Anyar Legenda Musik Jepang Haruomi Hosono
-
Jawab Kritik DPR, Menkeu Purbaya Pastikan Dana Pendidikan 20 Persen Tak Diganggu
-
Monarki Jepang Terancam Punah, Akankah Wanita Jadi Kaisar?
-
Sinopsis Legal Beat: Gyakuten no Houtei, Drama Jepang Terbaru Suzuka Ouji
Kolom
-
Antara Hemat dan Takut Keluar Uang: Saat Belanja Bikin Kita Merasa Bersalah
-
Viral Hair Croissant yang Menjijikkan: Kreativitas atau Pelecehan Berkedok Gimmick?
-
Glorifikasi Budaya Kerja Lembur: Mengapa Tenggo Masih Dipandang Negatif?
-
Objektifikasi Tubuh Perempuan di Balik Hair Croissant yang Viral
-
Mimpi Jadi Raksasa Semikonduktor: Mampukah Indonesia Lepas dari Candu Batu Bara?
Terkini
-
Argentina di Ambang Sejarah, Mampukah Albiceleste Wujudkan Back-to-Back?
-
Sudah Saatnya Night Eating Syndrome Menjadi Perhatian Nasional
-
5 Fakta Menarik Kafka Bintang, Mahasiswa UNHAN yang Jadi MVP Lips Recall COC Season 3!
-
Review The Oddysey: Saat Nolan Mengubah Mitologi Jadi Potret Trauma Manusia
-
Film Taste of Prison Rilis Potret Perdana, Chemistry Pemain Jadi Sorotan