M. Reza Sulaiman | Rizka Aneira
KRL Commuter Line (Pixabay/Satia)
Rizka Aneira

"Naik transportasi umum capek, ya?"

Entah sudah berapa kali aku mendengar pertanyaan itu. Biasanya disusul dengan, "Semangat ya," seolah perjalanan yang kutempuh setiap hari adalah sesuatu yang berat.

Lucunya, aku justru sering bingung harus menjawab apa. Karena kenyataannya, sejauh ini aku menikmatinya.

Mungkin karena mereka membayangkan berpindah-pindah moda transportasi, berjalan kaki menuju halte, atau berdiri di kereta saat jam sibuk sebagai sesuatu yang melelahkan. Padahal buatku, semua itu sudah menjadi bagian dari rutinitas yang lama-kelamaan terasa biasa. Bahkan, ada banyak hal yang justru membuatku bersyukur memilih transportasi umum.

Kalau dipikir-pikir lagi, awalnya aku bukan orang yang memang berniat menggunakan transportasi umum setiap hari. Alasannya sederhana: kampusku jauh dari rumah. Kalau berangkat naik kendaraan pribadi, rasanya badan sudah lelah duluan sebelum masuk kelas. Belum lagi harus menghadapi macet Jakarta yang waktu tempuhnya sulit diprediksi. Hari ini bisa satu jam, besok bisa dua jam hanya karena hujan atau ada kendala di jalan.

Akhirnya aku mencoba.

Awalnya hanya KRL dan TransJakarta. Modal nekat, Google Maps, dan rasa khawatir takut salah turun.

Sebagai orang yang bisa dibilang cukup buta arah, naik transportasi umum terdengar seperti tantangan besar. Aku tipe orang yang sebelum berangkat harus membuka maps berkali-kali, memastikan harus turun di mana, naik dari halte mana, sampai menghitung kira-kira butuh waktu berapa lama berjalan kaki menuju tujuan.

Ternyata semuanya tidak sesulit yang kubayangkan.

Justru sistem transportasi umum di Jakarta membuat orang sepertiku merasa cukup "dipandu". Rutenya jelas, petunjuk arahnya mudah dipahami, dan kalaupun bingung, hampir selalu ada petugas atau sesama penumpang yang bersedia membantu.

Lalu aku mulai mencoba moda lain, Mikrotrans atau yang lebih sering dikenal sebagai JakLingko.

Jujur, ini salah satu "penemuan" favoritku.

Selain gratis, Mikrotrans ternyata menjangkau banyak wilayah yang sebelumnya kupikir sulit diakses transportasi umum. Jalan-jalan kecil, permukiman, sampai daerah yang dulu menurutku harus ditempuh dengan ojek, ternyata bisa dilewati angkutan ini. Dari situ aku sadar, transportasi umum bukan hanya soal bus besar atau kereta. Ada sistem yang saling terhubung sehingga perjalanan terasa lebih mudah.

Sejak saat itu, tanpa sadar aku mulai mengandalkan transportasi umum untuk hampir semua aktivitas. Bukan cuma kuliah, tapi juga pergi bermain, menghadiri acara organisasi, bahkan sekadar mencoba tempat makan baru.

Lucunya lagi, sekarang kalau teman-teman mengajakku pergi, pertanyaan pertamaku bukan lagi, "Tempatnya bagus nggak?"

Tapi, "Akses transportasi umumnya gampang nggak?"

Kalau bisa dijangkau KRL, TransJakarta, MRT, LRT, atau JakLingko, biasanya aku langsung mengiyakan. Rasanya lebih tenang karena aku sudah bisa memperkirakan waktu perjalanan, biaya yang dikeluarkan, bahkan alternatif rute kalau sewaktu-waktu ada kendala.

Transportasi umum ternyata membuatku lebih berani mengeksplorasi kota.

Yang dulu rasanya jauh, sekarang terasa mungkin.

Yang dulu terasa rumit, sekarang tinggal mencari rute terbaik.

Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan ketika melihat seseorang spontan memberikan kursinya kepada lansia, membantu menunjukkan arah kepada penumpang yang kebingungan, atau sekadar mengucapkan "terima kasih" kepada pengemudi Mikrotrans saat turun.

Hal-hal kecil seperti itu membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.

Aku juga semakin sadar bahwa memilih transportasi umum bukan hanya keputusan yang menguntungkan diriku sendiri. Setiap orang yang memilih naik bus atau kereta berarti mengurangi satu kendaraan di jalan. Mungkin dampaknya tidak langsung terlihat. Namun, jika semakin banyak orang mengambil keputusan yang sama, kemacetan bisa berkurang, kualitas udara menjadi lebih baik, dan kota menjadi lebih nyaman untuk semua.

Sebagai warga Jakarta, aku merasa cukup beruntung karena memiliki pilihan transportasi umum yang semakin berkembang dan saling terintegrasi. Memang belum sempurna. Masih ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Namun, dibandingkan beberapa kota lain di Indonesia, kesempatan untuk bepergian tanpa kendaraan pribadi di Jakarta sudah jauh lebih terbuka.

Menurutku, sayang sekali kalau fasilitas itu tidak dimanfaatkan.

Hari ini aku memang masih mahasiswa yang setiap pagi harus berpindah dari halte ke stasiun, lalu berganti moda sebelum sampai kampus.

Namun, kalau mengingat lagi diriku yang dulu sempat ragu mencoba transportasi umum karena takut ribet, aku hanya bisa tersenyum.

Ternyata perjalanan ini membawaku ke tempat yang lebih jauh dari sekadar kampus.

Ia mengajarkanku cara mengatur waktu, membaca arah, mengenal kotaku sendiri, hingga menyadari bahwa pilihan-pilihan sederhana ternyata bisa membawa dampak yang lebih besar.

Jadi, kalau sekarang masih ada yang bertanya, "Naik transportasi umum capek, ya?"

Aku mungkin akan menjawab, "Capek sih, kadang. Tapi lebih banyak senangnya. Karena sejak mencoba, aku justru menemukan cara baru untuk menikmati perjalanan."

Baca Juga