M. Reza Sulaiman | Reynita Khafha
Foto halte Transjakarta (Dokumen Pribadi/Reynita KN)
Reynita Khafha

"In this economy..." rasanya kalimat itu udah jadi pembuka buat hampir semua keluhan di kalangan anak muda zaman sekarang. Mau nongkrong mikir dua kali, mau belanja lihat saldo dulu, bahkan sekadar berangkat kuliah pun sekarang udah harus mulai berhitung. Ditambah lagi di situasi sekarang dengan harga BBM yang naik, parkir makin mahal, biaya servis kendaraan juga terus bertambah. Belum lagi macet yang rasanya nggak pernah kenal waktu, di mana pun, dan kapanpun.

Di tengah biaya hidup yang terus naik, ternyata ada satu kebiasaan yang mulai berubah. Kalau dulu naik transportasi umum sering dianggap pilihan terakhir, sekarang justru makin banyak orang yang sengaja memilih KRL, MRT, LRT, atau TransJakarta. Mungkin alasan mereka cukup sederhana, yakni lebih masuk akal.

Menurutku di kondisi ekonomi seperti sekarang, definisi "keren" juga mulai bergeser. Bukan lagi soal siapa yang datang pakai mobil paling mahal atau motor paling baru, tapi siapa yang bisa tetap menjalani aktivitas dengan cara yang lebih efisien. Karena itu, gak berlebihan rasanya buat bilang sekarang kalau transum is the new flex

Gengsi Nggak Bisa Bayarin Bensin

Dokumen Pribadi

Dulu, punya kendaraan pribadi sering dianggap sebagai simbol kesuksesan. Semakin mahal kendaraannya, semakin dianggap berhasil. Bahkan, ada anggapan kalau naik transportasi umum berarti belum mampu membeli kendaraan sendiri.

Tapi sekarang rasanya pola pikir itu mulai berubah.

Anak muda mulai sadar kalau menghabiskan banyak uang hanya demi terlihat keren belum tentu itu adalah keputusan yang bijak. Justru yang mulai dianggap keren adalah orang yang tahu cara mengatur uangnya. Hal itu dilakukan agar tetap bisa produktif, datang tepat waktu, tapi nggak menghabiskan banyak biaya untuk transportasi. 

Menurutku, itu jauh lebih masuk akal loh! Karena pada akhirnya, uang yang berhasil dihemat bisa dipakai buat hal lain yang lebih penting. Entah untuk dana darurat, investasi, atau sesekali diisi dengan self reward tanpa merasa bersalah.

Satu Perjalanan ternyata Dampaknya Besar

Dokumen Pribadi

Apa kalian punya pikiran yang sama? Dulu aku berpikir jika naik kendaraan pribadi atau transum itu sama aja, nggak akan terlalu berpengaruh. Tapi ternyata pemikiran itu kurang tepat jika dipikir lebih dalam lagi. 

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, sektor transportasi menyumbang sekitar 8,18% emisi gas rumah kaca nasional dan sekitar 22% dari total emisi sektor energi. Angka itu menunjukkan kalau aktivitas mobilitas sehari-hari ternyata ikut memberikan dampak terhadap lingkungan.

Artinya ketika kita memilih naik transportasi umum, kita bukan cuma sedang menghemat uang. Kita juga ikut mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang menghasilkan emisi lebih besar. Mungkin, kontribusi satu orang memang terlihat kecil. Tapi kalau dilakukan oleh jutaan orang setiap hari, dampaknya tentu jauh lebih berbeda.

Bukan Sekadar Tren, tapi Memang Arah Masa Depan

Dokumen Instagram KEMENHUB

Menariknya, dorongan menggunakan transportasi umum ternyata bukan cuma datang dari masyarakat.

Kementerian Perhubungan bersama Pemerintah Inggris sedang menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Targetnya juga bukan main-main. Tahun 2030 diarahkan untuk mendukung pencapaian Enhanced Nationally Determined Contribution (Enhanced NDC), sedangkan tahun 2060 Indonesia menargetkan tercapainya Net Zero Emission.

Ini menunjukkan bahwa penggunaan transportasi umum bukan tren sesaat yang akan hilang begitu saja. Justru ini menjadi arah pembangunan Indonesia dalam jangka lebih panjang sehingga orang-orang yang mulai terbiasa naik transum dari sekarang sembari beradaptasi lebih dulu dengan perubahan tersebut.

Yang Paling Terasa tetap Dompet

Dokumen pngtree

Walaupun isu lingkungan penting, tapi jujur saja alasan pertama banyak orang memilih transportasi umum tetap soal biaya. 

Coba bayangkan kalau setiap hari membawa kendaraan pribadi. Ada bensin yang harus diisi, parkir yang kadang lebih mahal dari harga makan siang, biaya servis berkala, sampai pengeluaran tak terduga kalau kendaraan rusak.

Bandingkan dengan transportasi umum yang tarifnya jauh lebih stabil.

Mungkin selisihnya kelihatan kecil, tetapi justru dari pengeluaran-pengeluaran kecil itu kita bisa lebih sadar ke mana uang kita pergi. Lama-kelamaan, kebiasaan memilih transportasi yang lebih hemat bisa membantu kondisi keuangan jadi lebih sehat. Kemampuan mengatur pengeluaran seperti ini justru bentuk flex yang sesungguhnya.

Jadi, Siapa Sebenarnya yang Sedang Flexing?

Dokumen Pribadi

Menurutku, flexing hari ini sudah punya arti yang berbeda.

Bukan lagi soal kendaraan paling mahal atau paling mewah, melainkan soal bagaimana seseorang mengambil keputusan yang cerdas. Bisa menghemat uang, menghemat waktu, sekaligus ikut memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Di kondisi ekonomi yang serba mahal seperti sekarang, kemampuan mengelola pengeluaran justru menjadi sesuatu yang patut dibanggakan.

Karena pada akhirnya, naik transportasi umum bukan berarti kita tidak mampu membeli kendaraan pribadi. Bisa jadi, justru karena kita tahu mana yang lebih masuk akal.

Jadi kalau ada yang bertanya kenapa sekarang lebih sering naik transum, jawabannya sederhana.

In this economy, orang yang benar-benar keren bukan yang paling mahal kendaraannya, tapi yang paling pintar mengatur uang, waktu, dan masa depannya.

Baca Juga