Menaiki KRL adalah suatu hal yang sudah menjadi kebiasaan bagiku sejak masih kecil. Saat itu, aku hampir selalu mendapatkan kursi untuk duduk. Mendapatkan tempat duduk bukanlah hal yang sulit menurutku, karena aku masih seorang anak kecil.
Namun, ketika beranjak menjadi perempuan dewasa, ternyata dunia berubah. Privilege pun tidak sepenuhnya lagi berpihak kepada kita, termasuk dalam urusan sederhana seperti mendapatkan kursi di kereta.
Semakin dewasa, semakin banyak pula tuntutan dan tekanan agar kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Awalnya, aku bersikap acuh tak acuh terhadap hal kecil seperti ini. Sampai suatu hari, aku merasakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah kurasakan.
Sebuah Kursi yang Mengubah Cara Pandang
Saat itu, aku melihat seorang nenek membawa banyak barang menaiki kereta. Posisi kereta sedang cukup penuh, dan aku sedang duduk di kursi yang bisa dibilang "hasil bertempur" untuk mendapatkannya. Rasanya ada kebanggaan tersendiri karena berhasil memperoleh tempat duduk di tengah padatnya penumpang.
Namun entah mengapa, berbeda dari biasanya, hatiku seperti tergerak. Pandanganku spontan menoleh ke arah pintu kereta hingga menemukan sosok nenek tersebut. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menawarkan tempat dudukku kepadanya. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Bahkan setelah melakukannya, aku sendiri sempat bingung dengan apa yang baru saja kulakukan.
Nenek itu pun duduk sambil mengucapkan terima kasih kepadaku. Namun yang membuatku benar-benar tersentuh bukan hanya ucapan terima kasihnya, melainkan doa yang beliau panjatkan.
"Neng, terima kasih ya, Neng. Semoga Allah melancarkan segala urusan Eneng, dilancarkan rezekinya, dan jadi anak yang sukses."
Belum selesai sampai di situ, beliau kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku. Seketika aku hanya bisa terdiam. Tenggorokanku terasa sesak, dan mataku hampir meneteskan air mata.
Tak pernah kubayangkan akan merasakan pengalaman seperti ini saat berada di dalam kereta, tempat yang selama ini hanya kuanggap sebagai alat transportasi untuk berpindah dari satu tujuan ke tujuan lainnya. Ternyata, di tempat yang sesederhana itu, aku mendapatkan pelajaran yang begitu dalam.
Lebih dari Sekadar Transportasi
Sejak hari itu, aku menyadari bahwa transportasi umum seperti kereta bukan hanya membantu menyambungkan satu tujuan ke tujuan lainnya. Lebih dari itu, kereta juga mampu menyambungkan silaturahmi, mempertemukan orang-orang yang tak saling mengenal, dan bahkan menyambungkan hati dari satu insan kepada insan lainnya.
Mungkin, titik balik itu bukan terjadi karena aku kehilangan sebuah kursi. Justru, titik balik itu hadir ketika aku memilih untuk memberikannya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Sejak 1999, Ini 5 Alasan Kenapa Pilih Naik Transportasi Umum Hingga Sekarang
-
Suara Komunitas Menuju Transportasi yang Inklusif
-
Hadirnya Sebuah Ruang Inklusif bagi Pengguna Commuter Perempuan
-
Naik Transum, Aku Belajar Jatuh Cinta dengan Jakarta
-
Dari Motor ke KRL: Langkah Kecil Anak Rantau untuk Bumi yang Lebih Baik
News
-
Di Balik Gerakan Tanpa Kata, Bagaimana Pantomim Jadi Ruang Memulihkan Diri?
-
Di Balik Jendela TransJakarta: Ada Cerita Perjuangan yang Sering Kita Lewatkan
-
Paradoks Transportasi Jakarta: Penumpang Naik Pesat, Kenapa Macet Makin Parah?
-
In This Economy: Gengsi Nggak Bisa Bayarin Bensin, Naik Transum Is The New Flex!
-
90 Mahasiswa Indonesia Lanjut S2 Lewat Erasmus Mundus, Uni Eropa Perkuat Investasi pada Talenta Muda
Terkini
-
Netflix Buka Suara soal Rumor Produksi Season 2 Drakor Teach You a Lesson
-
Prime Video Rilis Teaser Carrie, Serial Terbaru Adaptasi Novel Stephen King
-
Wajib Dihindari! Ini 7 Kesalahan yang Sering Dilakukan Mahasiswa saat KKN
-
Sejak 1999, Ini 5 Alasan Kenapa Pilih Naik Transportasi Umum Hingga Sekarang
-
Tidak Harus Rapi, Inilah Keindahan Taman dalam Buku "The Weedy Garden"