Di balik pesona alam Pulau Dewata yang selama ini dikenal luas, di ujung utara Pulau Dewata, tepatnya di perairan Desa Les, laut menyimpan sebuah pesona yang selama ini luput dari pandangan mata awam. Ketika banyak wisatawan sibuk mengagumi keindahan air terjun Yeh Mampeh yang menjulang di pegunungan, ada pahlawan lingkungan yang bekerja dalam sunyi di dasar air.
Namun, di balik keindahan yang terlihat dari permukaan, beberapa tahun lalu keindahan bawah laut itu menyimpan kesedihan mendalam karena di dasar air yang tak terlihat, sebuah kehidupan perlahan mati. Warga desa mulai kehilangan kekayaan samudra mereka, yakni hamparan terumbu karang. Rusaknya habitat laut dangkal yang lekat dengan tradisi luhur Nyegara Gunung ini bukan sekadar hilangnya pemandangan. Hal tersebut menjadi tanda bahaya bahwa perairan mereka sedang sakit parah.
Di tengah kerusakan yang terus terjadi, kerusakan akibat maraknya penggunaan bahan peledak ikan dan timbunan sampah dari daratan telah menghancurkan rumah lautan tersebut. Tanpa disadari, hancurnya ekosistem ini membawa dampak fatal karena ikan pelagis kehilangan tempat berkembang biak, membuat laut menjadi sepi seolah kehilangan jiwanya.
Di tengah situasi yang menyedihkan, muncullah seorang pemuda biasa yang memilih untuk tidak tinggal diam menunggu bantuan turun dari langit. Namanya Nyoman Nadiana, yang bukan seorang sarjana kelautan maupun pembuat kebijakan daerah. Ia hanyalah anak pesisir yang tumbuh membaur dengan deburan ombak, namun hatinya terasa perih melihat rimba bawah air desanya hancur berantakan. Ia menyadari bahwa menunggu orang lain bergerak adalah kesia-siaan belaka.
Saat potensi wisata di daratan mulai menjadi tumpuan pengembangan desa, laut justru menyimpan perhatian yang berbeda bagi Nadiana. Ia memilih merawat bibit karang yang selama ini sering dinilai sebagai batu mati, bahkan dianggap penghalang bagi jaring nelayan.
Di balik anggapan bahwa karang hanyalah batu mati, fakta sains justru berbicara sebaliknya. Terumbu karang mampu meredam ombak dan menjadi rumah bagi seperempat spesies lautan global. Mereka adalah pelindung kawasan pesisir yang paling vital, namun paling sering diabaikan dan dirusak.
Dari Keraguan Warga Menuju Harapan di Dasar Laut
Untuk mengubah pandangan tersebut, mulailah ia bergerak dengan langkah sunyi, merangkul para pemuda desa dan tetua adat untuk kembali menengok ke laut. Tantangannya sungguh berat, bahkan lebih sulit daripada menanam pohon di darat. Meyakinkan orang untuk menjaga sesuatu yang tidak terlihat dari permukaan air membutuhkan kesabaran yang luar biasa.
Perlahan, perjuangan itu mulai ia lakukan dari lingkungan terdekat. Hari demi hari dihabiskan untuk meyakinkan warga. Mulai dari warung pesisir hingga rapat desa, ia berusaha menjelaskan betapa pentingnya hamparan karang. Sayangnya, tidak ada tepuk tangan yang menyambutnya kala itu karena Nadiana justru sering dipandang sebelah mata. Banyak yang mencibir dan merasa usahanya sia-sia karena dianggap kurang kerjaan mengurusi bongkahan batu di dasar air.
Meski berbagai pandangan meremehkan usahanya, Nadiana tidak menyerah. Melalui dukungan pilar lingkungan binaan Desa Sejahtera Astra, ia membuktikan kapasitasnya. Bersama Kelompok Sadar Wisata Segara Gunung yang ia rintis, ia tetap menetapkan zona konservasi. Mereka menggunakan inovasi Eka Dempul untuk merekatkan karang dan mengelola limbah lewat gerakan Les Grow agar aktivitas manusia tidak merusak sembarangan di area dangkal.
Dari perjuangan panjang tersebut, ia menanamkan pemahaman baru bahwa menjaga karang berarti menjaga "dapur" ikan, yang pada akhirnya akan menyelamatkan periuk nasi para nelayan itu sendiri. Perjuangan sunyi itu berjalan cukup lama karena Nadiana yakin bahwa alam tidak butuh janji manis, tetapi butuh tindakan nyata.
Ketika Laut Mulai Menjawab Perjuangan Nadiana
Setelah perjuangan panjang yang dilakukan tanpa banyak sorotan, akhirnya, waktu menjawab ketulusan Nadiana. Perlahan tapi pasti, koloni bibit karang tumbuh membesar menutupi dasar perairan. Lanskap bawah air itu kembali berwarna dan melambai, seolah menari menyambut kehidupan yang bangkit.
Tanda-tanda kehidupan itu akhirnya mulai terlihat oleh warga. Kabar bahagia itu akhirnya datang ketika para nelayan mulai melihat kembali kawanan ikan perairan dangkal yang asyik mencari makan di zona konservasi Desa Les. Satwa samudra itu akhirnya pulang karena rumah dan makanannya telah tersedia lagi. Kembalinya rantai ekosistem ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan wujud nyata keberhasilan pilar pemberdayaan Desa Sejahtera Astra yang mengantarkan warga memenangkan Anugerah Desa Wisata Indonesia.
Kini, setelah kehidupan bawah laut perlahan kembali tumbuh, Desa Les tidak hanya dikenal karena pesona air terjunnya, tetapi juga sebagai tempat perlindungan (konservasi) andalan bagi terumbu karang.
Perjuangan Nyoman Nadiana menjaga terumbu karang Desa Les akhirnya menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari sosok yang memiliki nama besar. Kepedulian terhadap lingkungan justru dapat tumbuh dari keberanian seseorang untuk memperhatikan sesuatu yang selama ini luput dari pandangan. Apa yang tampak kecil dan tersembunyi di dasar laut ternyata mampu membawa perubahan bagi kehidupan di sekitarnya dan membuka harapan bagi masa depan alam yang lebih baik.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Menjaga Tradisi, Menggerakkan Desa: Perjalanan Kang Edai di Kemiren
-
Kang Edai, Penjaga Adaptasi Perubahan Iklim dari Desa Kemiren
-
Di Tangan Nyoman Nadiana, Tradisi Garam Desa Les Terus Hidup dan Lekat dengan Masyarakat
-
Tak Punya Pantai, Kemiren Punya Budaya: Edy Menggerakkan Ekonomi Desa
-
Gema Lesung Kemiren: Menenun Asa dan Wirausaha di Jantung Suku Osing
News
-
Di Tangan Nyoman Nadiana, Tradisi Garam Desa Les Terus Hidup dan Lekat dengan Masyarakat
-
Kasus Pertanahan Capai 56.844, Mengapa Masyarakat Perlu Melek Soal Tanah?
-
Dari Kemiren untuk Kemiren: Kiprah Kang Edai Bersama Astra
-
Nyoman Nadiana: Sosok di Balik Kebangkitan Garam Tradisional Bali yang Tembus Pasar Modern
-
Desa Les Buleleng: Saat Tradisi Garam Kuno Berpadu dengan Inovasi Modern
Terkini
-
Ulasan Jakarta Sebelum Pagi: Menelusuri Misteri di Balik Kiriman Bunga
-
Putuskan Hengkang dari JYP Entertainment, Jeongyeon: TWICE Pusat Hidup Saya
-
Usaha Mencintai Hidup: Belajar Bangkit Ketika Hidup Tak Lagi Seperti Dulu
-
The Last House Seharusnya Menjadi Film Tentang Keluarga Bukan Monster
-
Terharu! Marco Bezzecchi Sukses Raih Podium Walau Sambil Menahan Sakit