Kabar Ari Basuki, jurnalis Merdeka.com yang hilang kontak saat meliput Gunung Anak Krakatau, masih dinantikan keluarganya. Ari merupakan satu dari lima jurnalis yang berada dalam speedboat Aripadhatu 1 bersama tiga orang lainnya. Sebelum berangkat menuju kawasan Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026), Ari disebut sudah meminta izin kepada istrinya meski kondisi tubuhnya sedang kurang fit.
Speedboat tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, sekitar pukul 14.00 WIB. Hingga kini, keberadaan delapan orang di dalam kapal tersebut masih dalam pencarian tim SAR gabungan.
Ari Sempat Pamit Sebelum Berangkat
Sebelum berangkat, Ari masih sempat berkomunikasi dengan keluarganya. Sang kakak, Lintang (47), mengatakan komunikasi terakhir Ari dengan anaknya terjadi pada Senin (7/9/2026) pukul 13.43 WIB. Saat itu, Ari masih menanyakan kabar anaknya.
“Terakhir ke anaknya hari Senin pukul 13.43 WIB. Itu terakhir menanyakan ke anak, setelah itu tidak ada (kabar) sampai sekarang,” kata Lintang.
Lintang juga mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan Ari sebenarnya sedang kurang fit. Namun, Ari tetap berangkat setelah lebih dulu meminta izin kepada istrinya karena mendapat tugas untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Ari diketahui tinggal bersama istri dan keluarganya di Cinere, Depok. Ia memiliki dua anak laki-laki. Anak sulungnya sudah bekerja di Sidoarjo, sedangkan anak keduanya masih duduk di bangku SMP. Sebelum bergabung dengan Merdeka.com, Ari juga pernah bekerja sebagai jurnalis di Tempo.
Keluarga kini hanya bisa menunggu perkembangan pencarian. Mereka berharap Ari bersama seluruh rombongan dalam kondisi selamat dan segera ditemukan.
“Ya, semoga begitu. Semoga dalam keadaan selamat,” ujar Lintang.
Pencarian Berlanjut dengan Drone Termal
Ari tidak sendirian dalam rombongan tersebut. Selain dirinya, empat jurnalis lain yang ikut dalam perjalanan adalah M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Yudhis atau Yudistiro Pranoto dari iNews, Daus atau Firman Daus dari Anadolu, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis freelance.
Sementara tiga orang lainnya terdiri dari Warta (55) sebagai nakhoda, Surakman (60) sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.
Setelah speedboat berangkat pada Senin siang, Bagus sempat membagikan lokasi kepada rekannya sekitar pukul 14.42 WIB. Namun, komunikasi kemudian terputus sekitar pukul 15.04 WIB. Beberapa jam setelahnya, sekitar pukul 18.13 WIB, Heriyanto masih sempat mengirimkan foto dari kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau. Setelah itu, tidak ada lagi komunikasi dari rombongan.
Tim SAR kemudian melakukan pencarian di sekitar perairan Anak Krakatau dan sejumlah wilayah di sekitarnya. Pencarian sempat berlangsung hingga malam, tetapi kondisi laut dan jarak pandang yang terbatas membuat operasi dihentikan sementara.
Pada Rabu (9/9/2026) pukul 07.00 WIB, operasi pencarian kembali digelar. Tim SAR memperluas area pencarian dan mengerahkan sejumlah armada laut serta dua drone termal untuk membantu penyisiran di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Drone termal disiapkan dari KN SAR Tetuka untuk membantu pencarian dari udara. Penggunaan teknologi tersebut menjadi alternatif karena pencarian menggunakan helikopter atau pesawat terkendala abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Tim juga masih menyisir sejumlah kemungkinan lokasi, termasuk perairan di sekitar pulau-pulau kecil. Armada seperti KN SAR Tetuka, RIB 02 Banten, RIB Lampung, serta sejumlah unsur pendukung lainnya dikerahkan untuk menemukan keberadaan speedboat Aripadhatu 1.
Pencarian terhadap Ari dan tujuh orang lainnya pun masih terus dilakukan. Di tengah upaya tim SAR memperluas penyisiran, keluarga masing-masing korban masih menunggu satu kabar yang paling diharapkan: seluruh rombongan bisa ditemukan dalam keadaan selamat.
Baca Juga
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
Tayang 4 November, Intip Sinopsis Drakor Fantasi The Remarried Empress
-
Birokrasi No Viral No Justice: Kenapa Pelayanan Publik Selalu Dipersulit?
-
Refleksi Mariposa 2: Belajar Mengerti Komitmen & Kedewasaan dalam Asmara
-
Dijejali Jargon NKRI tapi Warga Perbatasan Melarat: Di Mana Keadilan Itu?
Artikel Terkait
-
Anak Krakatau Kembali Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Tertinggi 500 Meter
-
Laut Itu Terlalu Luas, Ketika Anak-anak Firdaus Wajidi Menatap Titik Terakhir Sang Ayah Berkarya
-
Tim SAR Sisir Kalimalang hingga 1 Kilometer, Ramadhan Masih Belum Ditemukan
-
Kapal Wisata KM Feronia Tenggelam di Labuan Bajo: 29 Orang Dievakuasi, 1 Penumpang Hilang
-
Sentuhan Magis Wanda Ponika di Panggung Anggun hingga Van Ness Wu
News
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
-
Tembus Grand Final, 5 Tim Futsal Putri Maju ke Puncak AXIS Nation Cup 2026
-
Dari Aspal Kampung Ke Panggung Asia: 3 Bintang Muda Futsal AXIS 2026
-
AXIS Nation Cup 2026 Memasuki Puncak, 16 Tim Berebut Gelar Juara di Jakarta
-
Bingung Mulai Investasi? New BIONS by BNI Sekuritas Bikin Semua Jadi Mudah
Terkini
-
Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled
-
Awas Kena PHP Perusahaan! Ini Bahaya Terselubung Tren Ghost Job bagi Pencari Kerja
-
Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang
-
Malaikat Maut Juga Bisa Galau? Sisi Lain Kematian di Novel Setelah Melompat Aku Ingin Hidup
-
Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z