Kita pasti sudah akrab dengan jargon Woman Support Woman. Sebuah utopia di mana kaum hawa saling pasang badan, saling mengingatkan, dan saling merangkul. Kampanyenya ada di mana-mana, bertebaran di utas Twitter, feeds Instagram, hingga FYP TikTok, menuntut dunia agar perempuan berhenti saling sikut.
Dari sana, lahirlah sebuah pertanyaan yang cukup ironis bahwa kalau kaum hawa Woman Support Woman, lalu para kaum adam punya apa? Ternyata, solidaritas kaum adam sering kali cuma dihargai lewat satu keplokan keras di bahu, plus petuah legendaris: “Santai, bro. Jangan lembek. Masa gitu doang nangis.”
Ketika laki-laki sedang hancur-hancurnya, masyarakat bukannya merangkul, malah kasih ceramah kilat soal ketangguhan. Doktrin “cowok nggak boleh cengeng” atau “harus kuat” itu sudah jadi sarapan sejak balita. Kelihatannya sederhana, tapi pelan-pelan kalimat itu jadi aturan baku yang mengikat raga.
Di titik inilah teori sosiologi dari R.W. Connell tentang maskulinitas hegemonik jadi terasa nyata. Istilah keren ini sebenarnya cuma mau bilang kalau masyarakat kita punya standar "cowok ideal": harus kuat, mandiri, dominan, kebal tekanan, dan haram hukumnya kelihatan sedih. Masalahnya, standar ini bikin momen saat cowok lagi rapuh malah dicap sebagai kegagalan.
Padahal, kalau kita mau buka mata lihat data kesehatan mental, urusan ini sama sekali bukan lelucon. Laporan WHO bertajuk Suicide Worldwide in 2021 mencatat perkiraan angka bunuh diri laki-laki di Indonesia tembus 2.076 kasus, jauh di atas perempuan yang berada di angka 1.257 kasus.
Meski angka ini sifatnya perkiraan global, kesenjangannya sudah cukup bikin kita merinding. Logikanya begini: kalau cowok diklaim sebagai makhluk yang paling perkasa, kenapa justru mereka yang paling banyak tumbang oleh tekanan mental?
Efek domino dari beban sosial ini berlanjut ke urusan curhatnya. Survei I-NAMHS dan UGM mencatat ada hampir 35% remaja Indonesia yang mentalnya sedang tidak baik-baik saja. Tapi mirisnya, cuma 2,6% dari mereka yang akhirnya mau menyentuh layanan konseling. Sisanya? Memilih memendamnya sendirian.
Satu riset ilmiah pun membenarkan fenomena ini. Menurut tinjauan sistematis Seidler dkk. (2016) terhadap puluhan penelitian, norma maskulinitas punya peran toksik dalam mendikte cara cowok menyikapi depresi. Aturan tak tertulis di masyarakat membuat para lelaki merasa bahwa mencari pertolongan medis adalah sebuah aib yang bisa meruntuhkan harga diri mereka sebagai pria.
Di sinilah gerakan Men Support Men menemukan urgensinya. Saling dukung sesama laki-laki itu tidak perlu drama curhat kesedihan dua jam nonstop. Bentuknya bisa sesimpel nanya, “Lu kenapa, Bro?” “Mau cerita?” atau “Gue temenin, ya.” Bahkan, sekadar ngajak makan, ngopi, main futsal, atau nemenin bengong sampai subuh tanpa maksa dia numpahin seluruh isi kepalanya juga sudah lebih dari cukup.
Gerakan ini juga bukan ajang kompetisi buat bersaing dengan Woman Support Woman. Ini bukan lomba balap siapa yang paling menderita. Laki-laki cuma perlu belajar membangun ruang aman buat emosinya sendiri. Biar apa? Biar solidaritas tongkrongan tak melulu mentok di urusan traktir kopi dan patungan bensin.
Sebab, ada ironi besar bahwa laki-laki selalu dituntut jadi pelindung, mesin ATM, pemecah masalah, dan pahlawan serba bisa. Tapi giliran mentalnya sendiri yang butuh diselamatkan, dia malah ditinggal sendirian dalam tekanan mental.
Barangkali, sudah saatnya kita memperbarui definisi tentang apa itu "laki-laki sejati".
Laki-laki sejati adalah dia yang punya keberanian untuk jujur saat hatinya sedang babak belur. Dia adalah tipe teman yang mau pasang kuping buat mendengarkan rapuhnya sahabat sendiri, tanpa pernah menjadikannya bahan cengengesan atau modal buat ngecengin di tongkrongan.
Sebab pada akhirnya, seorang laki-laki yang lagi ambruk tidak butuh dikhotbahi pasal-pasal tentang cara menjadi kuat. Dia cuma butuh satu orang teman yang menepuk pundaknya sambil berbisik, “Gue ada di sini. Cerita aja, Bro. Santai.”
Baca Juga
-
Bikin Suguhan Segar, Adili Idola Bawa Warna Baru Stand Up Comedy Indonesia
-
Dicibir Netizen karena Tanya Target Nikah ke Marsha Aruan, Evelyn Chrestella Akhirnya Minta Maaf
-
Pamerkan Inovasi, Dua Siswa SMP Presentasikan Inovasi Beras di FIJ 2026
-
Lama Menghilang, Sosok Legendaris Lebah Ganteng Akhirnya Ungkap Alasan Berhenti Bikin Subtitle
-
Perpres Ojol dan Problem Kemitraan: Saat Negara Lepas dari Kewajiban Buruh
Artikel Terkait
-
Vasektomi Bukan Pengorbanan Pria, tapi Bentuk Berbagi Tanggung Jawab
-
Beban Menjadi Pria Perkasa: Mengapa Toxic Masculinity Menggerus Laki-Laki?
-
Aliansi Laki-Laki Baru: Membangun Ruang bagi Laki-Laki untuk Belajar tentang Kesetaraan
-
Weaponized Incompetence di Rumah: Mengapa Laki-laki Perlu Belajar Mengurus Pekerjaan Domestik?
-
Jasad Bayi Laki-Laki Diseret Anjing di Sumedang
Kolom
-
Ekonomi RI Dipuji IMF: Mengapa Kantong Kelas Menengah Tipis?
-
Metallica, Palestina, dan Ironi Sebuah Band Anti-Perang
-
Ketua Komite FFI 2026 Ikut Kaget, Publik Pertanyakan Transparansi Seleksi Piala Citra
-
Ironi Guru di Indonesia: Tunjangan Tak Kunjung Cair Sampai Harus Ngutang Bensin buat Mengajar
-
Rekonstruksi Makna YOLO: Hidup Cuma Sekali, tapi Masa Depan Butuh Biaya
Terkini
-
Bikin Suguhan Segar, Adili Idola Bawa Warna Baru Stand Up Comedy Indonesia
-
Anime Adaptasi Webtoon The Boxer Bagikan PV, Ungkap 4 Pengisi Suara Utama
-
Review Film Whalefall: Pengalaman Menegangkan Berada di Perut Mamalia Laut
-
Kulit Dehidrasi? Ini 4 Krim Malam Hyaluronic Acid Penyelamat Skin Barrier
-
Dicibir Netizen karena Tanya Target Nikah ke Marsha Aruan, Evelyn Chrestella Akhirnya Minta Maaf