Keberagaman memang bukan hal baru yang terjadi di sekitar saya. Tidak hanya dalam keluarga, di tempat saya bekerja juga memiliki banyak perbedaan. Mulai dari perbedaan agama, hingga bahasa.
Selama ini, saya tidak pernah mempermasalahkan kedua hal ini, dan segala bentuk perbedaan yang ada di sekitar saya. Namun, ketika saya mulai masuk ke dunia kerja, keberagaman ini betul-betul terasa.
Di kantor, saya berada dalam lingkungan minoritas. Meski tinggal di Lombok, tetapi saya memiliki latar belakang keluarga yang berasal dari Jawa. Sehingga dalam keseharian, saya lebih akrab dengan Bahasa Jawa sebagai bahasa daerah, serta Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.
Sehingga, ketika mayoritas teman, bahkan bos dan menejer saya di kantor bercakap-cakap dengan Bahasa Bali, membuat saya benar-benar kewalahan untuk berbaur, beradaptasi, dan ikut berkomunikasi dengan mereka.
Meskipun, ketika mereka berbicara personal dengan saya, mereka tetap menggunakan Bahasa Indonesia, tetapi saya tetap terasa berbeda karena mayoritas bahasa yang digunakan di lingkungan kerja adalah Bahasa Bali.
Hal ini bukan tanpa alasan. Suku dan agama mayoritas di Lombok memang Sasak dan Bali. Sasak sebagai suku asli Pulau Lombok yang mayoritas beragama Islam. Sedangkan, pendatang dari pulau tetangga, yaitu Bali yang menetap di Lombok untuk bekerja maupun menikah, beragama Hindu.
Sehingga, bekerja di lingkungan dengan mayoritas masyarakatnya beragama Hindu dan Suku Bali, membuat saya berada dalam minoritas tidak hanya ketika berkomunikasi, tetapi juga dalam hal beragama.
Karena bos saya di kantor menganut Agama Hindu, di tempat tersebut tidak difasilitasi dengan mushola atau ruang khusus untuk shalat. Awalnya, saya menjadi was-was dan ragu akan hal ini.
Namun, karena saat wawancara beliau menunjukkan toleransi dan saling menghargai untuk kegiatan beribadah, saya menjadi tidak ragu untuk tetap bekerja. Hal ini terbukti ketika waktu shalat tiba, baik bos maupun manajer saya dengan leluasa mempersilakan para karyawannya yang muslim untuk beribadah.
Kebetulan, di dekat kantor juga ada masjid. Sehingga, kantor saya diapit oleh dua rumah ibadah agama besar yang ada di Indonesia, yaitu pura dan masjid. Melihat hal ini, saya merasa takjub akan indahnya keberagaman ini.
Meski berada dalam lingkungan minoritas, tetapi tidak ada perpecahan dan permusuhan di antara kami. Selama masih ada rasa saling menghargai dan tidak saling mengusik, kerukunan akan tetap terjaga.
Baca Juga
-
Tak Hanya Sesama Teman, Saat Guru dan Dosen Juga Jadi Pelaku Bully
-
Kisah Relawan Kebersihan di Pesisir Pantai Lombok
-
Viral Tumbler KAI: Bahaya Curhat di Medsos Bagi Karier Diri dan Orang Lain
-
Ricuh Suporter Bola hingga War Kpopers, Saat Hobi Tak Lagi Terasa Nyaman
-
Budaya Titip Absen: PR Besar Guru Bagi Pendidikan Bangsa
Artikel Terkait
Rona
-
Menyambut Natal Lebih Bijak, Ini Cara Merayakan secara Ramah Lingkungan
-
Bukan Tren Sesaat, Industri Hijau Kini Jadi Keharusan
-
Banjir Aceh: Bukan Sekadar Hujan, tapi Tragedi Ekologis Hutan yang Hilang
-
Kisah Akbar, Disabilitas Netra yang Berkelana di Ruang Sastra Tukar Akar
-
Warriors Cleanup Indonesia: Gerakan Anak Muda Ubah Kegelisahan Akan Lingkungan Jadi Aksi Nyata
Terkini
-
Review Film Lilim: Teror Sunyi tentang Dosa, Trauma, dan Iman yang Retak
-
4 Cleansing Water Brand Korea Tea Tree Ampuh Hapus Makeup dan Lawan Jerawat
-
Selepas Maghrib, Ada Anak Kecil yang Memanggilku dari Arah Kuburan Tua
-
CERPEN: Tombol Lift ke Lantai Tiga
-
5 Inspirasi OOTD Pakai Boots ala Blue Pongtiwat, Tampil Trendi tanpa Ribet!