Ilustrasi kobaran api. (Shutterstock)
Berjalan merangkak merintih kesakitan
Rintihan tiada berhenti kian menyiksaku
Tertatih-tatih perlahan demi perlahan
Berjalan lurus meraih ampunan dan syafaat-Mu
Hanya Engkaulah Tuhan satu-satunya kugantungkan jiwaku
Serasa tersiksa dengan azabmu yang kian pedih
Yang lebih pedih dari tajamnya mata pedang
Azabmu yang kian lama kian membuatku tak tahan
Komentar
Berikan komentar disini >
Baca Juga
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Bertabur Bintang! Kim Yeon Koung, Lee Junho, dan Kazuha Resmi Jadi Staf Baru di Kian's Bizarre B&B 2
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
-
Lawan Kulit Kering! 4 Hydrating Mist Jaga Wajah Tetap Lembap Sepanjang Hari
-
Tayang Oktober, Drakor Final Table Bagikan Keseruan Pembacaan Naskah