Melaksanakan ibadah haji, merupakan sebuah impian bagi para umat Islam. Namun, pelaksanaan ibadah haji telah diatur dalam syari’at, merupakan kewajiban bagi mereka yang mampu untuk melaksanakannya. Namun sayangnya, di realita kehidupan masyarakat Indonesia, mereka masih memaksakan diri untuk melaksanakan ibadah haji. Sebuah hal yang positif memang. Namun, jika hal tersebut dilakukan hanya demi sebuah status dan pandangan masyarakat, maka tentu akan mengurangi esensi ibadah yang terkandung dalam pelaksanaan haji.
Hal tersebut tampaknya diangkat menjadi sebuah film komedi satire oleh Hanung Bramantyo berjudul Mekah, I’m Coming. Dalam film yang dibesutnya pada tahun 2020 tersebut, Hanung mengangkat fenomena yang berkembang di masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah haji agar memiliki derajat yang lebih tinggi di masyarakat. Iya, dalam film ini, ibadah haji yang dilakukan lebih cenderung karena predikat duniawi semata, bukan berorientasi pada keikhlasan beribadah kepada yang Maha Kuasa.
Pokok utama dalam film ini adalah kisah antara Edy, diperankan oleh Rizky Nazar, seorang anak muda yang memiliki bengkel di desa, yang tengah menjalin cinta dengan Eni, diperankan oleh Michelle Ziudith. Hubungan mereka berdua terancam kandas karena Eni dijodohkan oleh bapaknya dengan Pietoyo, diperankan oleh Dwi Sasono, seorang saudagar yang kaya raya dari kota.
Untuk mengamankan hubungannya dengan Eni, Edyy menemui orang tua Eni dan mengatakan akan berangkat haji tahun ini juga. Tentu sebuah perkataan yang agak sembrono dan kurang matang. Pasalnya, untuk keberangkatan haji jalur regular dan resmi sendiri, setidaknya Eddy harus masuk daftar tunggu hingga setidaknya 10 tahun.
Tentu saja hal tersebut membuat Eddy bingung, sehingga memutuskan untuk menjual bengkel satu-satunya yang dia miliki untuk menempuh jalur kilat. Namun sayangnya, dirinya tertipu oleh penyedia jasa layanan haji abal-abal, sehingga harus terdampar di Tanah Abang yang selama ini dikenal sebagai sentra oleh-oleh haji.
Terbersit pikiran untuk pulang ke kampung. Namun, jika hal tersebut dilakukan, maka bisa dipastikan dirinya akan menuai malu dan hubungannya dengan Eni bisa terancam karena dirinya tak memiliki status haji. Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Eddy? Bisakah dia mengatasi semua permasalahan yang menimpanya demi menyelamatkan hubungannya dengan sang pujaan hati? Temukan jawabannya di film Mekah, I’m Coming yang berdurasi 96 menit ini ya.
Sejatinya, secara alur, film ini lumayan menarik untuk disimak. Terlebih, komedi-komedi yang diselipkan merupakan sebuah satire bagi kejadian-kejadian yang biasa kita alami dalam kehidupan bermasyarakat. Mungkin kekurangan film ini hanya satu, yakni efek CGI yang masih sangat terasa sekali di mata. Namun, tentu saja hal tersebut tak mengurangi esensi film ini yang mewakili realita ibadah haji di masyarakat Indonesia. Selamat menonton!
Baca Juga
-
Bagi Sebagian Warga Rembang Asli, Gaji UMR adalah Sebuah Impian dan Pencapaian Prestasi
-
Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
-
Penerapan UU Transfer Daerah dan Nasib Remang Masa Depan PPPK: Efisiensi Berujung Eliminasi?
-
April Mop: Selain Bukan Budaya, Juga Tak Cocok dengan Rakyat Indonesia yang Nanggung Literasinya
-
Maaf Pendukung Timnas Indonesia! Kali Ini Saya Sepakat dengan Komentar Bung Towel
Artikel Terkait
Ulasan
-
Sensasi Makan Indomie di Bawah Bayangan Kapal Raksasa: Mengulik Dermaga Pelabuhan Cirebon
-
Di Balik Panas dan Jalan Berlubang: Menemukan 4 Sudut Syahdu di Kota Udang Cirebon
-
Kisah Ikal dalam Edensor: Dari Lorong Sorbonne hingga ke Padang Sahara
-
Nestapa Gregor Samsa Si Manusia Kecoa dalam Metamorfosis Franz Kafka
-
Tidak Ada Kampus yang Sempurna! Membaca Catatan Hati Seorang Mahasiswa
Terkini
-
Segelas Air dari Jantung Kekasihku
-
Rumah Kontrakan Nomor 7
-
Semalam Malas Nikah, Pagi Malah Ingin: Bagaimana FYP TikTok Mengacak Standar Kebahagiaan Kita
-
Headphone Retro "Kalcer" di Bawah 500 Ribu: Mengulik Moondrop Old Fashioned
-
Di Lereng Merbabu, Saya Menemukan Rumah yang Tak Pernah Saya Cari Sebelumnya