Cerita-cerita yang terhimpun dalam buku kumpulan cerpen Menanti Lelaki dari Surga ini tidaklah diragukan lagi kadar kualitasnya. Sebab, cerita-cerita tersebut dilahirkan dari hasil pemikiran seorang lelaki bernama Eko Hartono yang pengalaman menulisnya telah malang melintang.
Eko Hartono merupakan lelaki produktif yang karya-karyanya bertebaran di media massa. Begitu pun dengan karya buku-bukunya, juga banyak diminati para pembaca, dan laku keras di pasaran. Kerap kali ia juga menjadi langganan juara dalam setiap event dan sayembara penulisan cerita dan skenario film.
Buku Menanti Lelaki dari Surga ini memuat 12 karyanya yang mayoritas telah dipublikasikan oleh media-media besar di Indonesia. Salah satu cerita yang menarik untuk diulas yang terdapat dalam buku ini bertajuk Menanti Lelaki dari Surga yang kemudian dipilih menjadi judul buku.
Menanti Lelaki dari Surga mengisahkan seorang perempuan bernama Raisya yang setia menunggu kedatangan lelaki dari surga. Siang malam dia bermunajat kepada Allah agar doanya dikabulkan. Walau hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, harapan itu terus disemainya.
Beberapa teman dan saudara Raisya telah banyak yang mengingatkan agar dia tidak mengkhayal terlalu tinggi, tetapi dia tetap teguh pendirian. Dia yakin suatu saat lelaki dari surga itu pasti akan datang melamarnya. Pasalnya, ia telah pernah bertemu dalam mimpinya.
Ketika temannya bertanya, seperti apa lelaki dari surga itu? Raisya menjawab wajahnya tampan hampir mendekati ketampanan Rasulullah. Dari wajahnya memancar cahaya. Raisya begitu yakin bahwa Allah tidak akan menolak doa-doanya. Dia akan dipertemukan dengan lelaki dari surga itu. Dia betul-betul terobsesi memilikinya.
Usia Raisya sudah dua puluh tiga tahun. Banyak temannya yang sudah berumah tangga. Raisya tinggal berdua bersama neneknya dari pihak ibu yang bernama Saodah, di rumah sederhana peninggalan almarhum kakeknya. Dia ikut sang nenek setelah ibu kandungnya meninggal dunia saat usianya masih lima tahun. Sementara ayah kandungnya juga sudah tiada saat dia masih bayi.
Di saat yang lain melemahkan keinginan Raisya, sang nenek di usia yang semakin renta itu terus memberi semangat kepada Raisya.
"Kamu bisa mendapatkan laki-laki dari surga, Raisya!" ujar Saodah membesarkan hati cucunya.
"Tapi orang-orang menganggap aku terlalu muluk-muluk, Nek. Mereka tak percaya bahwa lelaki dari surga itu ada," ucap Raisya mengadu.
"Kamu tidak usah dengarkan omongan orang-orang. Mereka tak tahu siapa diri kamu. Mereka tak punya keyakinan kuat pada kekuasaan Allah, padahal Allah sudah menjanjikan bahwa wanita salihah akan mendapatkan lelaki salih. Kamu adalah gadis yang baik dan salihah. Insya Allah kamu akan mendapatkan jodoh lelaki yang baik, lelaki dari surga." (halaman 54).
Saat suasana hening dicengkeram kebisuan, tiba-tiba terdengar suara salam dari luar rumah.
"Assalamu'alaikum..."
"Saya ke sini untuk melamar Raisya. Dia adalah jodoh saya."
Semua kaget.
"Bagaimana kamu yakin kalau Raisya adalah jodohmu?"
"Saya mendapat petunjuk dari Allah!" (halaman 66).
Baca Juga
-
Mata Istri
-
Sastra, Mesir, dan Cinta yang Tak Kasatmata
-
4 HP dengan Kualitas Kamera Terbaik Setara Flagship 2026, Harga Mulai Rp 3 Jutaan
-
4 Rekomendasi HP dengan Chipset Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Cocok untuk Gaming
-
Oppo Find X9 Ultra akan Rilis Maret 2026, Usung Kamera Utama Sony Lytia 901 Resolusi 200 MP
Artikel Terkait
Ulasan
-
Film Uang Passolo: Hadirkan Kritik Sosial yang Lucu, Kocak, dan Menyentuh
-
Drama China When I Fly Towards You: Belajar Menerima Diri Sendiri
-
Analisis Konflik Batin dan Kekerasan Seksual dalam Novel Lelaki Harimau Eka Kurniawan
-
Film Beauty and the Beat: Harmoni di Balik Rivalitas Diva yang Menghibur!
-
Ulasan Novel Pengantin Remaja: Membuka Tabir Realita Pernikahan Dini
Terkini
-
Hangat dan Menyentuh, I Lost My Adventurer's License Dapat Adaptasi Anime
-
Anatomy of Curiosity: Saat Kemalangan Orang Lain Menjadi Kepuasan Otak Kita
-
4 Sunscreen Lokal Green Tea untuk Kulit Sehat Bebas Sunburn dan Jerawat
-
Seteguk Kopi di Tengah Peluh, Jeda Singkat Seorang Pekerja
-
Analisis Film Dirty Vote II O3: Antara Pasal KUHP dan Krisis Demokrasi