Novel horor karya Sarah Ann ini, memiliki premis menarik dan dieksekusi dengan tidak kalah menarik pula.
Etha, seorang siswa kelas XI, menerima boneka cantik dalam acara tukar kado di perayaan ulang tahun sekolah.
Tidak berselang lama setelah mendapatkan kado tersebut, keganjilan demi keganjilan menghampiri dia dan Bu Faras, guru Matematika yang sekaligus menjadi teman akrabnya. Mulai dari dihadang tiba-tiba oleh bangkai ayam hitam dan gagak ketika pulang bersama naik sepeda motor, ada bangkai kepala ayam cemani dalam bagasi motor yang terkunci, air bak mandi berubah darah dan muncul sosok berambut panjang dari dalamnya, barang-barang kamar yang mendadak rusak berantakan padahal ditinggal dalam keadaan pintu terkunci, dan seterusnya.
Awalnya Etha menampik keterkaitan antara boneka cantik dengan rentetan kejadian aneh yang menimpanya dengan sang guru. Hantu dan segala macam "kekuatan" mistis maupun klenik, baginya adalah nonsense, bullshits! Namun, rangkaian peristiwa berikut, berangsur-angsur meyakinkannya betapa sumber malapetaka yang kemudian mengancam nyawa dia dan Bu Faras, berasal dari boneka yang dihuni banyak makhluk gaib.
Etha dan Bu Faras lalu berjibaku mencari tahu, siapa yang memberi kado itu? Tentu tidak gampang, sebab pembagian kado dilakukan secara random dan tidak ada nama tersemat di pembungkusnya.
Ketika identitas pemberi kado terkuak, persoalan berikut segera menerkam, membuat nyawa Etha dan Bu Faras sebagai taruhan.
Secara pengaluran, penulis menyajikan novel ini tanpa plot linear, tiap babak menyuguhkan kisah yang bisa berbeda-berpindah-berganti, namun dapat membangun kronologi di dalam benak pembaca (satu sama lain berkesinambungan).
Asyiknya, tiap babak berakhir menggantung dengan lubang cerita menganga dan mengisap pembaca untuk terus dikejar penasaran: Kejadian apa lagi yang bakal menimpa Etha dan Bu Faras? Bagaimana nasib murid-guru itu selanjutnya?Seperti kuda pacu, pembaca terus dicambuk penulis agar semakin intens menyusuri halaman demi halaman.
Secara substansi, novel ini berupaya mengusung topik: betapa pun berbahaya dan keji suatu tindak perdukunan, kepada Tuhan semata-mata kita wajib bersandar dan menggantungkan pinta. "Kekuatan" magis lewat bantuan dukun, hanya akan mendatangkan malapetaka saja.
Substansi lain, pembaca dapat mencerap; betapa dedikasi total guru terhadap murid, potensial meminimalisasi atau bahkan mengenyahkan persoalan anak didik. Komunikasi dua arah dan bantuan nyata yang diulurkan sungguh berarti bagi perkembangan murid di tahap berikutnya.
Dalam hal ini, penulis amat meyakinkan saat menggambarkan kepribadian Bu Faras, kegigihan dan ketulusannya dalam membangun hubungan positif dengan Etha dan siswa-siswa lain. Sungguh inspiratif dan meyakinkan bahwa guru seperti Bu Faras nyata adanya, walaupun mungkin langka.
Namun, dua bagian yang agak "mengganggu", karena kurang greget. Pertama, bagian akhir bab Dua Belas ketika Etha dan Bu Faras berhasil menemukan abu jenazah keluarga "pemilik" boneka setan. Ketegangan hubungan kedua pihak berseberangan seperti sekonyong-konyong mengendor hanya karena penemuan abu tersebut? Kenapa begitu cepat? Kenapa ketegangan tidak dibuat melandai atau mengendor perlahan, sehingga tidak terkesan ujug-ujug?
Kedua, bagian pertemuan Etha dan Bu Faras dengan keluarga "pemilik" boneka setan di bab Tiga Belas. Ini masih berkaitan dengan kekurang-gregetan di akhir bab Dua Belas. Hubungan dua pihak tersebut di atas, langsung cair, setelah ketegangan yang bahkan mengancam nyawa? Satu pihak dengan pihak lain dapat (seolah-olah) percaya satu sama lain sehingga enak saja bertukar cerita rahasia?
Kendati begitu, dua ganjalan tersebut dapat terselamatkan dengan ending cerita yang cukup meyakinkan dan melegakan, sekaligus ending ini berkaitan dengan ikhtiar salah satu "pewaris" boneka setan itu.
Oleh karena itu, secara keseluruhan (kira-kira 90%), novel ini memiliki bangunan dan alur cerita yang solid serta meyakinkan.
Tak boleh terlewat, perlu disampaikan juga, novel ini memiliki tuturan cerita yang filmis. Membayangkan jika isi novel diangkat ke layar lebar, tentu seru sekali.
Tag
Baca Juga
-
Pelajaran Tekad dari Buku Cerita Anak 'Pippi Gadis Kecil dari Tepi Rel Kereta Api'
-
Cerita-Cerita yang Menghangatkan Hati dalam 'Kado untuk Ayah'
-
Suka Duka Hidup di Masa Pandemi Covid-19, Ulasan Novel 'Khofidah Bukan Covid'
-
Akulturasi Budaya Islam, Jawa, dan Hindu dalam Misteri Hilangnya Luwur Sunan
-
Pelajaran Cinta dan Iman di Negeri Tirai Bambu dalam "Lost in Ningxia"
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bulughul Maram: Kitab Monumental Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fikih Hadis
-
Mengapa Film Tabula Rasa Masih Relevan Kita Tonton di Bulan Syawal?
-
Memaksimalkan Potensi di Tengah Keterbatasan, Belajar dari Novel Rasa
-
Review The Defects: Ketika Anak Bisa 'Diretur' seperti Barang Rusak
-
Ulasan Novel 86, Membedah Akar Budaya Korupsi dalam Birokrasi
Terkini
-
Monster Baterai 9.020 mAh, iQOO Z11 Siap Mengguncang Pasar China Mulai 26 Maret 2026
-
John Herdman, FIFA Series 2026 dan Lini Tengah Skuat Final yang Tak Lagi Jadi Dapur Pacu Serangan
-
Dream to You: Hwang In Yeop dan Hye Ri Hadapi Cinta dan Mimpi yang Tertunda
-
4 Brightening Moisturizer Jumbo di Bawah Rp74 Ribu, Bikin Cerah Bebas Kusam
-
Jadi Sorotan Publik, Doyoung NCT Hadir di Acara Pemerintahan saat Wamil