Dari sekian banyak pahlawan bangsa yang secara tegas menyuarakan ajaran islam dalam perhelatan bangsa Indonesia, mungkin bisa dibilang Mohammad Isa Anshary termasuk salah satunya.
Mohammad Isa Anshary atau biasa disapa Isa Anshary, merupakan pimpinan dari Persatuan Islam (PERSIS) yang dikenal kritis dan memiliki pengaruh amat banyak. Hingga akhirnya, bersama PERSIS mendukung Partai Masyumi untuk meluaskan perjuangan di medan politik.
Mohammad Isa Anshary lahir pada tanggal 1 Juli 1916 di Maninjau, Sumatra Barat, seperti yang disebutkan dalam buku "Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan" karangan Johan Prasetya. Sejak kecil, Isa dikenal sebagai anak cerdas dan tangkas dalam berbicara, namun ia berasal dari keluarga sederhana. Tetapi dengan keunggulannya itu, hingga mengantarkannya menjadi orator ulang dan pandai memikat pendengarnya untuk membela kebenaran.
Pada saat remaja, Isa bergabung dengan Partai Sarekat Islam cabang Maninjau. Selain itu, ia juga aktif di Persarekatan Muhammadiyah. Semangat Isa Anshary untuk berorganisasi tidak berhenti sampai di situ saja, ia juga aktif di Partai Islam, Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia, Partai Islam Indonesia, Indonesia Berparlemen, dan Komite Pembela Islam.
Memasuki usia 16 tahun, Isa Anshary melanjutkan pendidikannya di jenjang sekolah menengah atas di Bandung. Di tempat itulah, ia bertemu dengan Soekarno dan tertarik dengan Persatuan Islam (PERSIS).
Saat bergabung di PERSIS, Isa Anshary tampaknya menjadi perhatian dari tokoh-tokoh pergerakan masa itu. Hal itu disebabkan karena pemikirannya dan ide-idenya tentang pemurnian ajaran islam. Hingga akhirnya, Isa menempati posisi terpenting di PERSIS dan berturut-turut terpilih sebagai pucuk pimpinan sejak 1953-1963.
Di bawah kepemimpinan Isa Anshary, ia berhasil mereorganisasi beberapa ormas islam. Di samping itu, anggota PERSIS pun ditaksir mencapai sepuluh ribuan dan cabang-cabang meluas di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah bagian Barat, Bangil Jawa Timur, dan Palembang.
Sejak reorganisasi 1948, PERSIS menerbitkan beberapa majalah yang menjadi ciri khasnya, majalah tersebut umumnya memuat tulisan-tulisan dari anggota PERSIS untuk menyoroti problem yang dihadapi umat islam Indonesia, terutama masalah keagamaan dan politik.
Dalam pandangan Isa Anshary menilai bahwa perjuangan tidak cukup hanya fiqh ritual keagamaan, tetapi harus terjun di ranah politik. Untuk itulah, bersama PERSIS mendukung sepenuhnya Partai Masyumi. Hingga kemudian, Isa Menjadi pemimpin Partai Masyumi untuk wilayah Jawa Barat.
Hal yang paling menonjol bagi Isa Anshary bersama anggota Partai Masyumi yakni perjuangan memenangkan ideologi islam untuk berhadapan dengan komunisme. Bahkan, PERSIS pun dengan sepakat mengatakan bahwa ajaran komunisme tidak bisa hidup di Indonesia.
Pada pertengahan November 1954, PERSIS membentuk "Front Anti Komunis" yang dimotori oleh Isa Anshary. Isa menjelaskan bahwa cara tersebut merupakan bentuk perjuangan membendung bahaya komunisme, fasisme, totalitarisme di Indonesia. Namun pada akhirnya organisasi itu pun dibubarkan pada tahun 1958.
Ketika Soekarno tumbang dan Orde Baru bercokol, tiba-tiba Isa Anshary jatuh sakit dan langsung dilarikan ke rumah sakit Muhammadiyah, Bandung. Tepat 11 Desember 1969, Isa Anshary menghembuskan nafas terakhirnya.
Baca Juga
-
Antara Jurnal Scopus dan Kerokan: Membedah Pluralisme Medis di Indonesia
-
Berdamai dengan Keresahan, Cara Menerima Diri Tanpa Perlu Jadi Motivator Karbitan
-
Mens Rea Pandji Pragiwaksono dan KUHP Baru: Ketika Tawa Lebih Jujur dari Hukum
-
Beli Bahagia di Toko Buku: Kenapa Novel Romantis Jadi Senjata Hadapi Kiamat
-
Dilema Fatherless di Indonesia: Ayah Selalu Sibuk, Negara Selalu Kaget
Artikel Terkait
-
Sebut Permainan Persis Solo Belum Maksimal, Gibran Minta Kaesang Pangarep Cepat Beli Pemain Asing
-
Program Muhammadiyah di Bontang, Sediakan Ambulan Gratis untuk Warga Kota Taman, Dipuji Basri Rase
-
Jadi Mantan yang Menyakitkan Bagi Persebaya, Samsul Arif: Selalu Spesial Bermain di Hadapan Bonek
-
Galeri Foto Aksi Pemain Persis Solo Sukses Bungkam Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo
-
Samsul Arif Jinakkan Persebaya Surabaya di Gelora Bung Tomo
Ulasan
-
Review Novel Kubah Ahmad Tohari: Kisah Menyentuh Tentang Kesempatan Kedua
-
Review Film It Was Just an Accident: Kritik Rezim Lewat Thriller yang Tajam
-
Dilema dan Konflik Batin Tokoh Kolonial dalam Buku Semua untuk Hindia
-
Mengenal Filsafat dengan Cara yang Menyenangkan lewat Novel Dunia Sophie
-
Di Antara Tembang dan Perang: Membaca Cerita Panji Nusantara