Berserah memang kerap terasa tidak mudah. Seringkali, muncul gugatan-gugatan dalam diri terhadap takdir, bahkan hingga mempertanyakan keadilan Allah. Dalam hal ini, sebuah novel dari Sony Ade yang berjudul “Kepada-Mu Aku Berserah” menunjukkan kepada kita bagaimana takdir menjawab semua pertanyaan kita saat kita sungguh-sungguh berserah kepada-Nya.
Novel Kepada-Mu Aku Berserah diterbitkan oleh Penerbit Hikmah dengan tebal 232 halaman. Novel karya Sony Ade ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Teja. Ia bertemu dengan seorang gadis yang seketika membuatnya jatuh cinta pada pandang pertama.
Pertemuan itu terjadi ketika Teja sedang mengamen. Namun, ia melakukannya bukan sebagai pekerjaan, melainkan sebagai hobi sekaligus media uji coba lagu-lagu ciptaannya, karena dalam darahnya mengalir jiwa seni yang ia warisi dari sang ayah, Guritna. Ia bertemu dengan gadis itu pun, karena kedatangannya ke Kota Jakarta untuk turut menghadiri pameran lukisan ayahnya.
Begitu terkesima Teja pada gadis itu, sampai-sampai ia terpikirkan sebuah rangkaian bait lagu yang lantas ia nyanyikan spontan saat itu juga di hadapan sang gadis. Gadis itu benar-benar mengira Teja adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai pengamen, tapi Teja lantas menjelaskan bahwa mengamen hanyalah hobinya, karena ia senang menciptakan lagu.
Teja ingin berada lebih lama dengan gadis itu. Namun, hujan lantas turun, sedangkan ia sudah berjanji untuk menghadiri pameran ayahnya yang akan segera dibuka. Sebagai tanda terima kasih, gadis itu memberikan sebuah payung kepada Teja untuk ia pakai pulang.
Teja tak sempat bertanya nama gadis itu. Lamunan tentang gadis itu terus menggodanya hingga akhirnya ia menyematkan sebuah nama yang mendadak terlintas dalam benaknya: Lala. Hanya nama itu dan payung kenang-kenangan yang menjadi penawar kerinduannya pada gadis yang tiba-tiba memunculkan rasa cinta begitu dalam di hatinya itu. Dari sinilah petualangan kisah cinta Teja dimulai.
Novel Kepada-Mu Aku Berserah sesungguhnya sangat kocak dan menghibur. Sony Ade menyampaikan kisah Teja dengan ringan dan penuh humor-humor segar. Melalui buku ini, Sony Ade mengajarkan pendalaman nilai-nilai agama dan kehidupan dengan gaya penceritaan yang unik, romantis dan berkesan kuat. Tak hanya itu, novel ini juga menyajikan hubungan sesama manusia yang begitu dalam dan bermakna, penuh haru dan pastinya sayang untuk dilewatkan.
“Mendidik, tapi tidak menggurui. Kita akan mendapatkan secercah pencerahan setelah membacanya.” (Testimoni Joe Tafkien, novelis)
Baca Juga
-
Wajib Tahu! Ini 3 Alasan Pentingnya Riset bagi Penulis
-
Selamat! Go Ayano dan Yui Sakuma Umumkan Pernikahan Mereka
-
Selamat! Keita Machida Resmi Menikah dengan Aktris Korea-Jepang Hyunri
-
4 Manfaat Membuat Kerangka Karangan dalam Kegiatan Menulis
-
NiziU Nyanyikan Lagu Tema Film Animasi 'Doraemon: Nobita's Sky Utopia'
Artikel Terkait
-
Kenali Penyebab Sakit Hati dalam Buku sebelum Luka Menjadi Duka
-
Memaknai Hidup dengan Rasa Syukur, Ulasan Buku Chicken Soup for the Soul
-
Ulasan Buku 'Tradisi-Tradisi Islam Nusantara': Mengenal Tradisi di Indonesia
-
Ulasan Buku 'Negeri 5 Menara' Karya A.Fuadi
-
Selain Rajin Membaca, Ini 7 Cara untuk Membuatmu Semakin Pintar!
Ulasan
-
Episode 3 dan 4 Drama Gold Land Terasa Semakin Gelap dan Mendebarkan
-
Di Balik Sorotan Kamera: Pertarungan Moral dalam Novel Take Four
-
Rewang Sebagai Perekat Hati, Menilik Tradisi Masak Basamo di Muaro Jambi
-
Trauma Masa Kecil dan Topeng Sosial dalam Novel Andreas Kurniawan
-
Seraut Kenangan dalam Secangkir Kopi di Kedai Tempo Doeloe Kalisat Jember
Terkini
-
Gen Z dan Keputusan Tunda Pernikahan: Pilihan Pribadi atau Tekanan Zaman?
-
Desainer Buka Suara, Jisoo BLACKPINK Bebas dari Dugaan Pengembalian Outfit
-
Baeksang Arts Awards 2026 Resmi Digelar, Ini Daftar Lengkap Pemenangnya
-
Dari Sangkar ke Rekening: Jalan Sunyi Side Hustle Jual Beli Burung
-
Pocong yang Membesar sambil Menyeringai Gila di Kebun Pisang