Sakit hati merupakan hal yang lumrah dan dialami oleh umumnya orang. Biasanya, sakit hati timbul karena apa yang diharapkan tidak tercapai atau tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang merasa sakit hati. Denieda Fanun dalam buku ‘Sebelum Luka Menjadi Duka’ (Araska 2011) menjelaskan perkara yang menyebabkan luka. Dengan mengetahui penyebab-penyebab ini diharapkan kita nantinya dapat memahami dengan benar, bagaimana kita mengantisipasi agar tidak terluka dan juga bagaimana kita mengambil langkah untuk mengobati luka atau sakit hati tersebut.
Berikut ini penyebab-penyebab luka yang dimaksud yang saya uraikan secara ringkas dan sedikit penambahan keterangan:
Pertama, apa yang diharapkan tidak didapatkan. Semua orang pasti akan terluka apabila mengalami kenyataan ini. Mengharapkan sesuatu tetapi tidak memperoleh yang diinginkan. Misalnya, ketika seorang pemuda menyatakan cintanya pada gadis idamannya, tetapi si gadis menolak untuk menjadi pasangan hidupnya dan hanya ingin berteman saja. Cinta bertepuk sebelah tangan memang terbukti menyisakan luka di hati.
Kedua, mendapat kritik yang pedas. Kritik sebenarnya sebuah pernyataan yang menilai baik buruk sesuatu dengan tujuan memperbaiki yang buruk dan menyempurnakan yang baik. Namun, kadang kala orang tidak bisa menyampaikan kritik dengan benar. Karenanya, tak heran bila menimbulkan sakit hati orang yang dikritik. Dari sini kita belajar bahwa dalam mengkritik sesuatu itu haruslah dengan cara santun dan tidak mempermalukan orang di depan umum.
Ketiga, tidak ditolong ketika membutuhkan bantuan. Semua orang pasti membutuhkan orang lain dalam mencukupi kebutuhannya. Ketika seseorang tak mampu atau berhalangan untuk mencukupi kebutuhannya, maka ia akan meminta pertolongan orang lain. Ketika seseorang dimintai tolong, ia akan mengupayakan atau tidak membantu sama sekali.
Nah, ketika orang lain tidak mau menolong, biasanya kita akan merasa kecewa bahkan kesal dan sakit hati, apalagi bila cara ia menolak (tidak memberikan pertolongan) dengan cara yang ketus atau wajah tak bersahabat.
Penyebab luka atau sakit hati lainnya yang dipaparkan dalam buku ini adalah saat dikhianati. Yang namanya pengkhianatan memang akan meninggalkan luka di hati siapa pun.
Semoga dengan mengenali penyebab-penyebab luka hati tersebut, dapat menjadi renungan yang berharga bagi kita. Berusahalah untuk meredam sakit hati dengan menyadari bahwa tidak semua orang yang ada di sekeliling kita itu menyukai keberadaan kita. Yang terpenting, berusahalah untuk tetap bersikap baik pada siapa pun.
Baca Juga
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Artikel Terkait
-
Memaknai Hidup dengan Rasa Syukur, Ulasan Buku Chicken Soup for the Soul
-
Ulasan Buku 'Tradisi-Tradisi Islam Nusantara': Mengenal Tradisi di Indonesia
-
Ulasan Buku 'Negeri 5 Menara' Karya A.Fuadi
-
Melihat Kehidupan Remaja Autisme dari Buku 'My Aspie Girl'
-
Tak Terima Dituduh Tak Masuk Kerja, Seorang Teknisi Bacok Pegawai Sekolah di Cipayung
Ulasan
-
A Separation: Ketika Urusan Rumah Tangga, Agama, dan Kemiskinan Berubah Jadi Teror yang Nyata
-
Mengingat Kembali Pentingnya Pendidikan Lewat Novel Ronggeng Dukuh Paruk
-
Juni and the Anything Tree, Suara Kecil Anak-Anak untuk Menyelamatkan Alam
-
Membongkar Mitos: Benarkah Pemimpin Harus Galak dan Toksik Agar Perusahaan Sukses?
-
Mencermati Arti Kehidupan: Buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon
Terkini
-
PIH dan Kusam Auto Hempas! 4 Pelembap Pencerah Kemasan Tube Lebih Higienis
-
Sweet Child O' Mine Guns N' Roses: Cinta Axl Rose dan Kenangan Masa Remaja
-
Bye-Bye Lapar Mata! Saat Pajak E-Commerce Bikin Anak Muda Otomatis Jadi Minimalis
-
Sinopsis Rock Paper Landmine, Drama Misteri Jepang Mori Nana di Prime Video
-
Dari Bjorka ke Penyadapan Presiden, Seburuk Itukah Keamanan Data Negara?