Dalam sebuah kelompok, desa, daerah, bahkan negara butuh seorang pemimpin. Yang mana hadirnya pemimpin adalah sebagai pemandu, pengelola, dan pelaksana sistem maupun kebijakan. Pemimpin ideal merupakan dambaan semua insan. Betapa pun awamnya penduduk sebuah desa atau daerah, pemimpin sejati menjadi dambaan mereka.
Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang bisa mengendalikan dan mengatur bawahannya menuju arah atau perubahan yang lebih baik. Sosok pemimpin sangat dituntut untuk disiplin, bertanggung jawab, sabar, dan ikhlas dalam menjalankan tugasnya.
Berbicara soal pemimpin, di dalam buku yang disusun oleh KH. Husein Muhammad yang berjudul Lisanul Hal, terdapat beberapa cermin pemimpin yang layak menjadi rujukan untuk kita semua, baik yang sedang memimpin atau yang akan memimpin.
Dalam buku terbitan Qaf Media Kreativa ini disebutkan salah satu pemimpin sejati yang patut kita teladani bersama. Tersebutlah Ibrahim bin Adham, seorang putra bangsawan yang kaya raya. Rumahnya bagai istana raja, luas dan megah. Namun, ia lebih suka mengembara dari pada tinggal di rumah megahnya. Pengembaraannya tersebut untuk berguru kepada ulama-ulama terkemuka di Irak, Suriah dan Hijaz.
Ketika ia berada di Kilikiya, seorang hamba sahaya ayahnya datang memberitahukan bahwa ayahnya meninggal dunia sambil menyerahkan uang warisan ratusan ribu dirham. Ibrahim kemudian memerdekakan budak itu dan memberikan semua uangnya kepada budak tersebut.
Sahl at-Tustari pernah bercerita tentang Ibrahim bin Adham, "Aku dan seorang temanku pernah bersama-sama melakukan perjalanan jauh bersama Ibrahim bin Adham. Di tengah jalan aku jatuh sakit. Untuk mengobati sakitku perlu biaya yang cukup besar. Ibrahim kemudian menjual barang-barang miliknya. Bahkan, keledai kesayangan yang dipakai untuk perjalanan itu pun ikut dijualnya. Ketika aku sembuh, aku menanyakan keledainya ke mana. Ibrahim menjawab bahwa keledainya telah dijual."
"Lalu, dengan apa kita meneruskan perjalanan ini, padahal perjalanan kita masih berkilo-kilo meter lagi?" tanya Sahl.
"Naiklah di kedua bahuku," jawab Ibrahim (halaman 103).
Membaca buku ini kita dapat memetik ilmu berharga tentang keamanahan seorang pemimpin. Kita menjadi tahu terkait kisah seorang pemimpin yang harus rela berkorban, terutama korban tenaga, harta dan pikiran.
Baca Juga
-
OPPO Reno16 Pro 5G Hadir dengan Dimensity 8550 SUPER, Seberapa Menarik?
-
Yurizal, BPJS, dan Harga Sebuah Empati
-
Jutaan Buku Dihancurkan, AI Bertambah Pintar: Haruskah Kita Merayakannya?
-
Merdeka Bukan Sekadar Bebas: Menyelami Makna Kemerdekaan Lewat Novel Karya Putu Wijaya
-
5 HP Paling Hot Agustus 2026: Vivo, Honor, Google, Oppo, hingga Poco Siap Sikat Pasar!
Artikel Terkait
-
Ormas Islam dan Satpol PP di Kota Santri Amankan Dua Ribu Lebih Botol Miras dalam Empat Hari
-
Keren! WNI di Jepang Tulis Buku Doa Islami Pakai Tiga Bahasa, Rampung Selama Setahun
-
Sikap Muslim Sejati dari Buku 'Beginilah Seharusnya Menjadi Seorang Muslim'
-
Review Buku 'Selalu Ada Pesan Untuk Saling Menguatkan' Karya M. Shafar Alhadi
-
Inilah Delapan Kampus UIN yang Masuk 50 Universitas Islam Terbaik di Dunia Versi UniRank 2022
Ulasan
-
Review Almarhum: Sinematografi Thriller Misteri Bernyawa Kearifan Lokal
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
Review Dream To You: Romansa Hangat Cinta Pertama, Luka dan Impian
-
The Last House: Pesan Moral Mendalam tentang Hubungan Manusia dan Alam
-
Novel Kisah Pi: Perjuangan Bertahan Hidup Bersama Harimau di Tengah Laut
Terkini
-
Gen Z Fasih Bahasa Inggris, tapi Makin Asing dengan Bahasa Ibu, Mengapa?
-
Anti-Geser! 4 Chemical Sunscreen Lokal yang Nyaman Dipakai di Bawah Makeup
-
4 OOTD Vacation Chic ala Yeri Red Velvet, Nyaman dan Tetap Stylish!
-
Gaet 35 Ribu Fans, aespa Sukses Buka Tur Konser SYNK: COMPLaeXITY di Seoul
-
Ulasan 'Kapan Kau Bilang Wo Ai Ni?' : Jodoh Ada di Tangan Ibu dan Camer