Hidup bahagia menjadi impian setiap orang. Maka menjadi sesuatu yang sangat lumrah ketika banyak orang berusaha meraih kebahagiaan dengan beragam cara. Mulai dari cara-cara yang baik (terpuji) hingga cara-cara yang bertentangan dengan norma dan aturan agama.
Bicara tentang hidup bahagia, kita bisa menyimak penjelasan menarik dalam buku “Meraih Kemenangan” karya Febry Elbi Saputra. Dalam buku ini dijelaskan bahwa potensi kesuksesan seseorang lima atau sepuluh tahun yang akan datang dapat dilihat dari kebiasaan yang ia miliki saat ini. Setiap orang tentu memiliki kebiasaan masing-masing. Ada orang yang biasa bangun sebelum subuh, kemudian berangkat ke pasar untuk berbelanja karena ia memiliki warung makan atau catering. Ada pula orang terbiasa bangun siang karena mereka pengangguran.
Ada orang yang terbiasa mengatakan hal-hal kotor, marah-marah, dan berteriak-teriak dengan sangat emosional setiap harinya, ada juga orang yang terbiasa berkomunikasi dengan sopan dan santun kepada orang lain. Ada orang yang terbiasa datang terlambat, menunda-nunda pekerjaan, bolos sekolah, kuliah atau kerja, dan sering berbohong. Ada pula orang yang terbiasa selalu disiplin, tepat waktu dan taat akan aturan serta jujur (hlm. 16).
Dapat disimpulkan, kebiasaan-kebiasaan positif yang kita lakukan saat ini akan membantu kesuksesan kita di masa depan. Sebaliknya, kebiasaan buruk yang kita lakukan saat ini menjadi penghambat yang sangat besar bagi kesuksesan kita ke depannya.
BACA JUGA: 4 Manfaat dari Journaling sebagai Medium Pelepas Stres
Jadi, bagi kalian yang saat ini masih banyak melakukan hal-hal yang negatif, alangkah lebih baiknya mulai mengubahnya dengan memperbanyak melakukan hal-hal positif, terutama kegiatan yang berkaitan dengan profesi yang digelutinya agar kelak dapat meraih kehidupan yang sukses dan bahagia.
Benar apa kata Febry Elbi Saputra, bahwa orang-orang yang berhasil dalam hidupnya selalu membiasakan dirinya untuk hidup dengan cara yang positif, menghadapi berbagai persoalan dengan langkah yang efektif, berinteraksi dengan sesama manusia dengan cara yang bijak, dan membiasakan dirinya untuk melakukan segala sesuatu dengan visi yang tepat dan tindakan yang profesional.
Satu hal penting yang tak boleh diabaikan bahwa ketika kita memiliki cita-cita atau impian, maka harus kita buktikan dengan tindakan nyata. Berikhtiar untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah hal yang niscaya agar bisa segera terwujud. Kalau kita hanya memiliki cita-cita tapi enggan berusaha untuk mewujudkannya, tentu cita-cita tersebut tidak akan bisa tercapai.
Keberhasilan untuk mencapai sesuatu bukan terletak di alam rencana, tapi keberhasilan terletak di alam nyata yang membutuhkan tindakan untuk merealisasikannya. Mimpi memudahkan kita menemukan tujuan, sedangkan tindakan menjadi kendaraan yang akan mengantarkan kita pada tujuan tersebut (hlm. 96).
Bagi Anda yang ingin meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup, ada baiknya membaca buku motivasi karya Febry Elbi Saputra yang diterbitkan oleh penerbit Quanta (2017) ini. Sebuah buku yang inspiratif dan mencerahkan. Selamat membaca.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
Artikel Terkait
Ulasan
-
Kisah Ajaib Desa Macondo di Serial One Hundred Years of Solitude: Part 1
-
5 Centimeters Per Second: Ketika Cinta Pertama Bertemu dengan Kenyataan
-
Rahasia Bisnis Orang Cina, Arab, dan India: Dagang itu Gak Mudah Lho!
-
Review Film Mutiny: Ketika Jason Statham Terjebak di Kapal Neraka, Masih Bisa Selamat?
-
Review Drama Beyond Evil, Misteri Hilangnya Warga Munju
Terkini
-
Indonesia Masuk 6 Negara dengan Obesitas Rendah di Dunia, Apa Rahasianya?
-
Sinopsis Insidious: Out of the Further, Kisah Baru Elise dengan Teror Seram
-
Rektor Ditangkap KPK: Maba Korban Pemerasan Harus Diselamatkan?
-
Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Ini Dampaknya bagi Iklim
-
Tarif Parkir Rp60 Ribu Jakarta: Bukan soal Angka, tapi Kepercayaan