Membaca sajak-sajak Tere Liye, bagi saya terasa mengesankan dan sarat makna. Buku kumpulan sajak karya Tere Liye ini berisi 24 sajak dengan ilustrasi terbaik dari sang penulis. Tentunya dengan tema-tema yang beragam: sajak tentang memiliki, pun tentang melepaskan; sajak tentang pertemuan, juga tentang perpisahan; sajak tentang kebahagiaan, juga tentang kesedihan. Juga ada sajak bergurau, bercanda dengan perasaan.
Salah satu sajak bertemakan cinta yang menarik dan sarat dengan makna berjudul “Sajak UN”. Berikut petikan sebagian sajaknya:
Jika cinta adalah pilihan, maka dia persis soal pilihan ganda.
Jika cinta adalah alasan, maka dia persis soal esai.
Jika cinta adalah kesempatan, maka dia persis soal “benar” atau “salah”.
Jika cinta adalah kecocokan, maka dia persis soal mencocokkan daftar A dengan daftar B.
Manusia adalah makhluk yang lemah dan gemar berkeluh kesah. Sekuat apa pun dia, tentu ada momen-momen di mana dia merasa lelah, bosan, bersedih, dan perasaan-perasaan sejenisnya.
Tidak perlu berpura-pura menjadi manusia superkuat dan hebat yang tidak pernah merasakan sakit, sedih, atau galau. Ketika sedang merasa sedih atau lelah menghadapi hidup, tidak mengapa bila kita menangis sejenak, atau mencurahkan perasaan kepada orang-orang terdekat.
Menangislah bila memang dengan menangis bisa meredakan gejolak jiwa dan membuat perasaan menjadi lega. Bahkan, bila kita ingin berteriak sekalipun, lakukanlah di tempat sepi agar segala keresahan terluapkan. Terkait hal ini, kita bisa menyimak beberapa petikan acak dari sajak Tere Liye berjudul “Saat Hujan” yang termaktub di buku ini:
Berteriaklah di depan air terjun tinggi,
berdebam suaranya memekakkan telinga
agar tidak ada yang tahu kau sedang berteriak.
Dan, menangislah saat hujan,
ketika air membasahi wajah
agar tidak ada yang tahu kau sedang menangis, Kawan
Perasaan adalah perasaan,
Hidup bersamanya bukan kemalangan
Hei, bukankah dia memberikan kesadaran
betapa indahnya dunia ini?
Hanya orang-orang terbaiklah yang akan menerima
kabar baik
Hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan
menerima hadiah indah
Sajak bertemakan keindahan alam yang sarat makna dan perenungan dapat disimak dalam puisi karya Tere Liye berjudul “Sajak Embun dan Perasaan”. Berikut petikan sebagian sajaknya secara acak:
Kenapa embun itu indah?
Karena butir airnya tidak menetes
Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun
Kenapa purnama itu elok?
Karena bulan balas menatap di angkasa
Sekali dia bergerak, tidak ada lagi purnama
Aduhai, mengapa sunset menakjubkan?
Karena matahari menggelayut malas di kaki langit
Sekali dia melaju, hanya tersisa gelap dan debur ombak
Di dunia ini,
Duhai, ada banyak sekali momen-momen terbaik
Meski singkat, sekejap,
Yang jika belum terjadi langkah berikutnya
Maka dia akan selalu spesial
Buku kumpulan sajak ini bisa dikatakan spesial. Pesan penulis agar menghadiahkan sajak-sajak di buku ini untuk orang yang paling kita sayangi agar mereka paham tentang perasaan, karena sungguh “Dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta.”
Identitas Buku
- Judul Buku: Dikatakan atau Tidak Dikatakan Itu Tetap Cinta
- Penulis: Tere Liye
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan ke-6: November 2016
- Tebal: 104 halaman
- ISBN: 978-602-03-3283-3
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
-
Sutradara Beri Cinta Waktu Ngamuk Dituding Bikin Adhisty Zara Mundur
-
Merenungi Sajak Cinta Tere Liye di Buku 'Sungguh, Kau Boleh Pergi'
-
Ngobrol Berdua, Jatuh Cintanya Sendirian: Potret Ngenes Cinta Tak Terbalas
-
Adhisty Zara Cabut dari Sinetron, Sentilan Amanda Manopo Soal Alur 'Ngawur' Viral Lagi
-
Prioritaskan Kesehatan, Adhisty Zara Mundur dari Sinetron Beri Cinta Waktu
Ulasan
-
Menonton Pesta Babi di Sidrap: Tentang Literasi dan Larangan yang Ironis
-
Dari Budaya Pop ke Kesadaran Publik: Kuasa Media di Indonesia
-
Layak Tonton atau Hanya Eksploitasi Mitos? Kupas Tuntas Film Horor Tumbal Proyek
-
Bukan Sekadar Kisah Sedih: Mengapa Novel Lee Kkoch-nim Ini Justru Terasa Sangat Menghangatkan?
-
Misteri Batu Garuda di Belitung: Keajaiban Geologi yang Membuat Dunia Terpukau
Terkini
-
Thriving adalah Privilege, Surviving adalah Lifestye: Dilema Gen Z Menjalani Hidup Berkelanjutan
-
Saat Anak Dituntut Berprestasi Tanpa Diberi Ruang untuk Gagal
-
Uji Nyali Para Hantu
-
Paradoks Literasi: Mengapa Kita Banyak Membaca tetapi Sedikit Memahami?
-
Film Horor The Shrine Tayang 17 Juni, Kim Jae Joong Tampil Sebagai Dukun