Hayuning Ratri Hapsari | Sam Edy
Gambar Buku Sang Pemanah (Dokumen pribadi/Sam)
Sam Edy

Sang Pemanah merupakan salah satu novel menarik yang patut dibaca, karya Paulo Coelho, novelis dunia yang cukup masyhur di kalangan para sastrawan.

Buku-buku karyanya telah dialihbahasakan ke dalam 83 bahasa dan sudah terjual lebih dari 320 juta eksemplar di lebih dari 170 negara.

Novelnya yang berjudul Sang Alkemis (1998) telah terjual lebih dari 85 juta eksemplar dan telah dikutip sebagai inspirasi oleh berbagai orang seprti Malala Yousafzai dan Pharrell Williams. Tahun 2007, Paulo Coelho ditunjuk sebagai Duta Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pada novel berjudul Sang Pemanah ini, kita bisa memungut kebijaksanaan hidup lewat rangkaian kisahnya yang ringkas tapi tertata begitu apik. Adalah Gandewa, lelaki yang memutuskan berhenti dari dunia manah-memanah yang telah mengangkat namanya menjadi pemanah andal dan begitu terkenal.

Gandewa kemudian memilih menekuni dunia perkayuan. Ia lebih menikmati profesinya sebagai tukang kayu, sesuai dengan bidang yang diminatinya. Ia sangat menyukai pekerjaannya sebagai tukang kayu.

Hingga pada suatu hari, seorang lelaki pemanah yang begitu sombong dan merasa dirinya sudah jago memanah, merasa penasaran dengan sosok Gandewa yang seolah lenyap ditelan bumi. Ia pun berupaya mencari keberadaan Gandewa. Ia ingin menantang Gandewa bermain panah. Lewat bantuan bocah lelaki, ia pun berhasil menemukan kediaman Gandewa.

Kepada si bocah lelaki, lelaki pemanah sombong itu berkata, “Mungkin dia memutuskan berhenti, mungkin dia sudah kehilangan nyali, itu tidak penting bagiku. Tapi dia tidak pantas dianggap pemanah terbaik di seluruh negeri, kalau dia telah meninggalkan kebolehannya itu. Itu sebabnya aku bepergian berhari-hari untuk menantangnya dan merebut reputasi yang tak layak disandangnya lagi.”

Gandewa menghadapi tantangan lelaki asing sombong itu dengan sikap tenang. Ia membiarkan lelaki asing itu melakukan aksi memanahnya. Dari jarak empat puluh meter, ia berhasil memanah sebutir buah ceri. Selanjutnya, giliran Gandewa yang beraksi dengan busur dan panahnya. Ia mengajak lelaki asing itu menuju pegunungan. Di sanalah ia akan memperlihatkan aksi memanahnya.

Siapa yang mengira bila Gandewa memilih tempat memanah di tempat yang sangat ekstrem: berdiri di atas limban tali usang di antara dua bukit cadas yang dilalui sungai deras. Dengan posisi sangat tenang, Gandewa berhasil memanah dengan sangat memukau. Sebutir sawo masak berhasil dibidiknya.

Gandewa lantas meminta lelaki sombong itu untuk menirukan aksi memanah seperti dirinya. Namun ia gagal. Bidikan panahnya luput. Ketika kembali ke tepi sungai, wajah lelaki asing itu pucat pasi.

Gandewa lantas berkata, “Anda memiliki kemampuan, kesungguhan, dan postur. Teknik Anda bagus dan Anda sangat menguasai busur Anda. Tetapi Anda belum menguasai pikiran Anda. Anda tahu cara memanah pada saat situasinya serba mendukung. Tetapi begitu Anda dikepung bahaya, Anda tidak dapat mengenai sasaran. Pemanah tidak bisa selalu memilih medan pertempurannya, jadi mulailah berlatih kembali dan bersiaplah menghadapi berbagai situasi sulit...,”

Lelaki asing itu pun akhirnya kembali pulang ke tempat asalnya. Kesombongannya kalah telak dengan sikap tenang dan kepiawaian Gandewa dalam bermain busur dan panah. Secara tak langsung, Gandewa mengajarkan kebijaksanaan hidup yang bisa jadi tak pernah terpikirkan oleh lelaki asing dan sombong itu. Tetap tenang saat berhadapan situasi sulit adalah salah satu kebijaksanaan hidup yang ia peroleh. Dengan ketenangan, segala kesulitan akan terlewati dengan baik.

Identitas Buku

Judul Buku: Sang Pemanah

Penulis: Paulo Coelho

Ilustrasi: Martin Dima

Alih Bahasa: Rosi L. Simamora

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Jakarta)

Tahun terbit: 2021

ISBN: 978-602-06-5134-7