Sebagai seorang cerpenis, Hamsad Rangkuti mengaku dirinya merupakan pelamun yang parah. Ia suka duduk berjam-jam di atas pohon demi membiarkan pikirannya pergi ke mana ia suka. Saat seperti itu, Hamsad merasa nikmat yang luar biasa. Ia merasa berada di dunia lain, yaitu dunia imajinasi.
Saat di bangku sekolah rendah, Hamsad Rangkuti tidak langsung pulang ke rumahnya pada jam pulang. Ia masih mampir ke kantor Wedana. Berdiri selama berjam-jam di bawah papan tempel, tempat koran-koran yang terbit di ibu kota provinsi ditempel.
Di bawah papan tempel itulah Hamsad Rangkuti mulai mengenal karya fiksi. Ia mengenal dunia fiksi melalui koran-koran yang tertempel tersebut, bukan dari buku-buku fiksi, sebab ia tidak memiliki buku. Di koran Minggu yang ditempel hari Senin, Hamsad Rangkuti menemukan cerpen Anton Chekov, Gorky, Hemingway, O. Henry, dan berbagai karya terjemahan lainnya.
Bermula dari kegemarannya tersebut, Hamsad Rangkuti menjadi pengarang terkenal seperti yang kita kenal sekarang. Sangat banyak buku kumpulan cerpen karyanya, salah satunya berjudul Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? ini.
Terdapat 16 cerita yang tertuang dalam buku bercover warna ungu ini, antara lain bertajuk Pispot, Dia Mulai Memanjat, Nyak Bedah, Palasik, Petani Itu Sahabat Saya, Hukuman untuk Tom, Ketupat Gulai Paku, Teka-teki Orang Desa, Wedang Jahe, Kunang-Kunang, Sebuah Sajak, Antena, Saya Sedang Tidak Menunggu Tuan, Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?, dan Lagu di Atas Bus.
BACA JUGA: Ulasan Buku Lelaki Buta Melihat Kabah: Cerita Haji dari Berbagai Sisi
Dalam cerpen berjudul Lagu di Atas Bus ini, berkisah tentang para penumpang yang sama-sama beda selera dengan lagu yang dikumandangkan oleh supir di atas bus. Mulanya si supir menyetel lagu dari tape recorder. Tiba-tiba terdengar penumpang yang berteriak agar lagunya ditukar sebab ia suka mendengarkan lagu jazz. Baru saja lagu jazz didendangkan, penumpang lain minta diganti dengan lagu disko.
Terus demikian, dari lagu disko ditukar ke lagu keroncong, lalu dangdut, pop Indonesia, gending Jawa, kecapi Sunda, irama Minang, Tapanuli modern, kemudian mars perjuangan, dan yang terakhir adalah lagu Indonesia Raya.
Permintaan lagu terakhir tersebut dari lelaki berseragam hijau yang lantang berbicara kepada penumpang lain, "Lagu 'Indonesia Raya' ini harus mengumandang sampai tujuan akhir. Kalau kau tidak suka, kau boleh keluar dari dalam bus ini! Tak ada tempat bagi yang tidak suka lagu kebangsaannya sendiri."
Begitulah Hamsad Rangkuti dalam bermain kata; halus dan santun, tapi mengena. Cerpen tersebut masih sesuai dengan kondisi negara sekarang yang beberapa kelompok penduduknya sering bersilang pendapat dengan kelompok lainnya. Bahkan, terang-terangan hendak mengganti sistem pemerintahan negara.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Vivo S2 5G Resmi Hadir, Usung Baterai 7.050 mAh dan Bodi Tangguh untuk Aktivitas Ekstrem
-
Jangan Asal Cas! Ketahui 9 Tips Jitu Bikin Baterai Android Awet Seharian
-
Membaca Sejarah Nama Bahasa Indonesia: Bahasa yang Mencerminkan Pikiran
-
Melihat Pengarang Tidak Bekerja: Ketika Musuh Terbesar Penulis Adalah Dirinya Sendiri
-
5 Rekomendasi HP Rp5 Jutaan: Performa Ngebut, Kamera Jernih, dan Memori Lega
Artikel Terkait
Ulasan
-
Menyaksikan Lahirnya Sebuah Peradaban dari Buku Bara di Atas Demak Bintara
-
Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah: Kisah Cinta, Perjuangan, dan Makna Kehidupan
-
Si Anak Pemberani, Novel yang Diam-Diam Meracuni Orang untuk Membaca
-
Big, Buku Anak yang Mengingatkan Bahaya Body Shaming Sejak Dini
-
The 5 Second Rule: Buku yang Wajib Dibaca Mahluk Overthinking!
Terkini
-
4 Low pH Cleanser Beta Glucan, Kunci Kelembapan Maksimal pada Kulit Kering
-
4 Ide OOTD Eclectic Retro-Chic ala Momo TWICE untuk yang Suka Eksplor Gaya!
-
Di Balik Kemudahan AI: Ancaman Krisis Listrik, Air Bersih, dan E-Waste Data Center di Indonesia
-
Gagal di Pasaran, Sony Pictures Kapok Bikin Film Spin-off Spider-Man?
-
Perempuan dan Kebiasaan Overthinking: Sesulit Itukah Memerdekakan Pikiran?