Barbie, yang sering diidentikkan dengan boneka mainan anak perempuan dengan warna pink yang khas, sering kali dianggap sebagai tontonan untuk perempuan dan anak-anak. Namun, film Barbie membuktikan bahwa stereotipe semacam itu agaknya perlu dipertimbangkan.
Meskipun film ini memiliki unsur-unsur girly yang kuat pada awalnya sebagai representasi Barbie, cerita yang diangkat jauh lebih dalam dan universal, tidak hanya ditujukan untuk perempuan, apalagi hanya untuk anak-anak.
Review Film Barbie
Film Barbie menghadirkan pengalaman bernostalgia, terutama bagi penggemar setia boneka Barbie sejak kecil. Barbie, dalam film ini, menghadirkan segala aktivitas yang kita kenal dari bonekanya: makan dan minum "bohongan," mandi dengan air "bohongan" (karena sebenarnya tidak ada air sungguhan), bahkan mengemudikan mobil tanpa mesin.
Semua ini mengekspresikan kesederhanaan dan imajinasi yang akrab bagi siapa pun yang pernah bermain dengan boneka Barbie.
Namun, film ini menunjukkan kedalaman pada paruh kedua ceritanya ketika Barbie memasuki dunia manusia. Film mulai menggali masalah serius yang berkaitan dengan identitas diri, feminisme, patriarki, masalah kesehatan mental, hingga pertanyaan mendasar tentang eksistensi dan perbedaan gender.
Tema-tema ini, walaupun disajikan dengan cara yang menyenangkan, membuat film tidak lagi cocok untuk anak-anak karena kompleksitasnya.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa Barbie adalah karakter yang kuat dalam film ini.
Dalam perjalanan Barbie, kita melihat perkembangan karakter yang mendalam. Mulai dari krisis diri hingga pertanyaan mendalam tentang makna kehidupan dan perbedaan, Barbie menjadi representasi dari pembelajaran dan pertumbuhan pribadi yang bisa dirasakan oleh penonton dari berbagai usia dan latar belakang.
Selain kontennya yang kuat, visual dan set dalam film ini layak diacungi jempol. Para aktor, termasuk Margot Robbie dan Ryan Gosling yang memerankan Barbie dan Ken, memberikan penampilan yang memukau.
Film ini juga mengambil pendekatan unik dengan mengganti Barbie dan Ken dengan karakter perempuan dan laki-laki dari berbagai latar belakang etnis, mengingatkan kita bahwa "Barbie" dan "Ken" adalah nama yang dapat dikenakan oleh siapa saja.
Sutradara Greta Gerwig telah berhasil mengemas film ini dengan begitu cerdas dan menyenangkan. Dia menghadirkan tema yang dalam dengan kesenangan yang tidak dapat disangkal.
Plot twist tipis di dalam cerita menambah daya tarik film, dan trailer film yang merahasiakan sebagian besar agenda film mempertahankan kejutan bagi penonton.
Dalam skala 10, skor film ini adalah 8/10. Film Barbie adalah contoh nyata bahwa kisah tentang identitas, eksistensi, dan pertumbuhan bisa disajikan dengan cara yang menarik dan mendalam tanpa kehilangan kesenangan.
Film ini merupakan persembahan yang berani dan berbeda dari apa yang biasanya diharapkan dari merek Barbie, dan ia berhasil menyajikan pesan yang lebih mendalam dan universal. Dengan demikian, film ini pantas mendapatkan tempat dalam daftar tontonan yang memberikan pemikiran lebih dalam kepada penonton.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
4 Rekomendasi Film Horor Slasher di Netflix yang Bikin Merinding, Ada Favoritmu?
-
Sinopsis The Hunger Game: The Ballad of Songbirds & Snakes, Awal Mula Kekejaman Snow
-
Sinopsis Drama Trigger, Serial Action Kim Nam Gil dan Kim Young Kwang yang Segera tayang
-
Bakal Tayang di Bulan November, Intip 8 Adu Peran Pemain Drama Vigilante
-
5 Rekomendasi Film Indonesia yang Tidak Kalah Keren dari Versi Novel
Ulasan
-
Film Malam 3 Yasinan: Drama Horor Keluarga yang Penuh Ketegangan!
-
Film Uang Passolo: Ketika Pernikahan Jadi Ajang Gengsi
-
Drama China Will Love in Spring: Saling Hormat, Bentuk Cinta Paling Dewasa
-
Buku Teamwork 101, Keberhasilan Datang dari Kerja Sama
-
Seni Memikat Hati di Buku How to Win Friends & Influence People
Terkini
-
5 Rekomendasi Charger 25W, Aman dan Tidak Bikin Baterai Cepat Rusak
-
5 Router Dual Band Terbaik 2026: Internet Ngebut Tanpa Bikin Kantong Jebol
-
Dikritik Meski Belum Bekerja di Timnas, PSSI dan John Herdman Sudah Berada di Jalur yang Benar?
-
Kawasan Tanpa Rokok, Tapi Mengapa Asap Masih Bebas Berkeliaran?
-
Pertemuan Rasa yang Baru Dimulai