Siapa sih yang tidak mengenal Pantai Losari? Destinasi wisata berikut menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi apabila sedang berada di Kota Makassar.
Dengan berbagai fasilitas serta ornamen-ornamen yang unik, Pantai Losari cocok dikunjungi dengan teman maupun anggota keluarga untuk berfoto ria.
Penasaran dengan hal menarik apa saja yang dimiliki destinasi tersebut? Berikut ini ulasan lengkap mengenai Pantai Losari yang wajib disimak sebelum datang langsung berkunjung ke lokasi wisata.
BACA JUGA: Bugis Waterpark, Berenang hingga Coba Beragam Wahana Seru di Kota Makassar
Daya Tarik Pantai Losari
Salah satu keunikan dari pantai Losari adalah terdapatnya beberapa anjungan yang diberi nama sesuai dengan nama-nama suku yang ada di Makassar, mulai dari suku Bugis, Makassar Toraja dan Mandar. Setiap anjungan memiliki ciri khasnya masing-masing dan kerap kali dijadikan sebagai spot untuk mengabadikan momen liburan.
Selain anjungan, wisatawan juga dapat menemukan keberadaan patung-patung pahlawan Sulawesi Selatan, seperti Sultan Hasanuddin, Arung Palakka, Sultan Alauddin, dan masih banyak lagi.
Apabila berkunjung di sore hari dan kondisi langit sedang cerah, wisatawan juga dapat menikmati sunset Pantai Losari yang begitu memukau dengan perpaduan langit orange dan biru yang indah.
Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat menyaksikan kemegahan Masjid Amirul Mukminin yang menjorok ke lautan dan jadi ikon Pantai Losari.
Jangan lupa juga untuk berburu kuliner di Pantai Losari dengan sajian khasnya, yakni pisang epe yang merupakan olahan dari pisang raja dengan cara dibakar dan dibuat pipih.
Dengan cita rasa manis yang nikmat berasal dari gula merah, pisang epe kerap kali dijadikan pilihan takjil ketika berbuka puasa oleh masyarakat Kota Makassar.
BACA JUGA: Menginap di Hotel Salak The Heritage, Ramah Anak dan Dekat Kebun Raya Bogor
Alamat dan Harga Tiket Masuk Pantai Losari
Sama halnya dengan kebanyakan destinasi wisata populer lain, Pantai Losari berada di kawasan yang sangat strategis, mampu dijangkau kendaraan pribadi maupun angkutan umum.
Bagi wisatawan yang berangkat dari Bandara Hasanuddin, Makassar, dapat melakukan perjalanan menuju Pantai Losari selama kurang lebih 60 menit.
Adapun Pantai Losari dibuka setiap hari selama 24 jam sehingga wisatawan dapat leluasa berkunjung kapan saja, baik di siang maupun malam hari dengan suasana pantai yang pastinya terasa sangat berbeda.
Jadi, tunggu apalagi? Ayo ajak teman dan keluarga untuk mengunjungi Pantai Losari yang berada di Jalan Metro Tanjung Bunga, Maloku, Ujung Pandang, Makassar, Sulawesi Selatan, dengan harga tiket masuk gratis.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Pantai Sawangan, Surga Tersembunyi di Nusa Dua Bali
-
Pantai Samuh, Wisata Gratis dengan Panorama Menawan di Nusa Dua Bali
-
Bukit Pengilon, Spot Healing dengan View Laut Lepas di Jogja
-
The Lost World Farm, Wisata dengan Konsep Peternakan ala Belanda di Jogja
-
Pantai Geger, Pesona Wisata Murah Meriah di Nusa Dua Bali
Artikel Terkait
-
Bugis Waterpark, Berenang hingga Coba Beragam Wahana Seru di Kota Makassar
-
Belajar Dari Kasus PSM, PT LIB Harus Terapkan Sistem Financial Fairplay
-
Gaji Ditunggak PSM Makassar, Victor Mansaray: Saya Merasa Dikhianati dan Dibohongi
-
Ambisius Incar Top 4 BRI Liga 1 Bareng Persik, Irfan Bachdim: Semua Laga seperti Final sampai Akhir Musim
-
Gaji Tersendat, Rekrutan Anyar PSM Victor Mansaray Resmi Tinggalkan Klub
Ulasan
-
Bedah Makna Video Musik 'Masih Ada Cahaya': Saat Kegelapan Bertemu Harapan
-
Denyut Tradisi Bali dalam Bait-Bait 'Saiban' Karya Oka Rusmini
-
10 Momen Kece yang Wajib Kamu Tahu sebelum Nonton Spider-Man: Brand New Day
-
Review House of the Dragon Season 3: Hancurnya Moralitas Para Penguasa!
-
Keinginan Remaja vs Orang Tua dalam How Could You Do This to Me, Mum?
Terkini
-
Sering Diabaikan, 4 Kebiasaan Sepele Ini Bikin Laptop Cepat Rusak!
-
Kontradiksi Era Digital: Mau Merdeka Finansial tapi Masih Pakai Paylater
-
Trailer Utama Film Made in Abyss Part 1 Ungkap Lagu Tema dan Karakter Baru
-
4 Acne Micellar Water Bebas Alkohol, Rawat Kulit Berjerawat Tanpa Iritasi
-
Menjaga Tradisi, Menggerakkan Desa: Perjalanan Kang Edai di Kemiren