Memiliki anak spesial yang berbeda dari anak-anak kebanyakan memang dibutuhkan kesabaran ekstra. Sabar dalam merawat, menjaga, serta mendidiknya. Sabar menghadapi hal-hal di luar dugaan yang kerap membuat orangtuanya stres dan depresi.
Tantrum adalah salah satu hal yang biasa terjadi pada anak spesial. Definsi tantrum bila merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kemarahan dengan amukan karena ketidakmampuan mengungkapkan keinginan atau kebutuhan dengan kata-kata. Dari definisi tersebut, terlihat bahwa tantrum pada umumnya terjadi pada anak-anak. Paling sering dialami oleh anak berusia dua tahun (hlm. 16).
Bagi orangtua yang tidak memiliki pengetahuan tentang tantrum dan cara mengatasinya, mungkin akan merasa panik, stres, bahkan depresi ketika melihat kenyataan bahwa anaknya menderita tantrum. Terlebih ketika si anak tiba-tiba menjerit-jerit dan berguling-guling di tempat umum dan menjadi perhatian banyak orang.
Dalam buku ini diungkap bahwa drama tantrum mengusik sebagian orang. Namun, sebagian lainnya cukup kebal karena mengetahui bahwa tantrum adalah sebuah proses yang harus dilewati oleh anak.
Menjadi orang tua memang tidak pernah mudah. Drama tantrum menjatuhkan kewarasan orang tua ke titik terendah. Pilihannya ada tiga, yakni cuek, menyerah, atau introspeksi. Mana yang Ayah dan Bunda pilih? (hlm. 20).
Tugas orang tua adalah berusaha mengenali jenis-jenis tantrum sekaligus mencari penyebab anak mengalami tantrum. Dian Farida menguraikan, penyebab anak tantrum sesungguhnya berasal dari orang tua. Anak-anak melihat bagaimana orang tua menyalurkan emosinya. Bila orang tua saja belum bisa mengontrol emosi bagaimana mungkin kita berharap anak-anak dapat melakukannya?
Dalam sebuah pelatihan KPA (Komunikasi Pengasuhan Anak) yang pernah diikuti Dian Farida, dia mendapatkan informasi dari pemateri yang juga seorang psikolog, bahwa inti dari pengasuhan atau pendidikan anak adalah memasukkan konsep. Maksudnya, seorang anak membutuhkan waktu untuk memahami berbagai hal, termasuk emosi.
Orang tua atau dewasa di sekitar anak yang secara sadar atau tidak memasukkan konsep terssebut. Dengan kata lain, semua perilaku anak tak lepas dari peran orang tua. Pembiasaan yang diajarkan sekaligus dicontohkan orang tua menjadi sebuah konsep yang akan melekat di dalam kepala anak. Proses pembiasaan yang akhirnya menjadi konsep atau dogma ini tidak hanya berlangsung selama satu atau dua tahun, melainkan dalam waktu lama (hlm. 30).
Bagi para orang tua yang kebetulan anaknya mengalami gejala tantrum, saya sarankan untuk membaca buku ‘Anti Stres Hadapi Tantrum pada Anak’ karya Dian Farida Ismyama (Noktah, Yogyakarta).
Di dalam buku ini, penulis menjelaskan banyak hal tentang anak yang menderita tantrum dan cara jitu menghadapinya. Penulis begitu piawai menjelaskan materi yang disampaikan, karena dia pernah mengalami sendiri bagaimana repotnya memiliki anak yang tantrum. Selamat membaca.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
-
Memahami Arti Perjuangan dan Keberanian Bersama Buku 'Murtagh' Karya Christopher Paolini
-
Menemukan Kebahagiaan dan Passion Bersama Buku 'Grit: The Power of Passion and Perseverance'
-
I Don't Understand But I Luv U, Lagu Dance SEVENTEEN yang So Sweet Abis!
-
Siapa Ayah Gonzalo Al-Ghazali? Bukan Orang Sembarangan, Masih Ada Hubungan dengan Raja Salman
-
The Animal Kingdom: Kisah Keluarga yang Bertahan di Dunia yang Berbahaya
Ulasan
-
Membongkar Sisi Kelam Orde Baru dalam 'Larung': Sastra yang Menolak Dibungkam
-
Novel Misteri Kota Tua, Petualangan Beno Menyusuri Sejarah Kota Tangerang
-
Man on Fire, Series yang Sibuk Jadi Thriller Politik Sampai Lupa Rasa
-
Dibalik Pesona F4: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengagungkan Hubungan Gu Jun Pyo dan Geum Jan Di?
-
Menyusuri Jambi Kota Seberang: Saat Rumah Kayu "Mengapung" di Atas Sungai
Terkini
-
Turun Stasiun, Langsung Jalan-Jalan! 5 Rekomendasi Destinasi Wisata Praktis di Purwakarta
-
Berhenti Merasa Nyaman dalam Ketidaktahuan: Mengapa Istri Wajib Tahu Keuangan Keluarga
-
Jebakan Asmara Digital: Mengapa Love Scamming Harus Membuka Mata Hati Kita
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya
-
Membongkar Peluang Skuad Garuda di Grup F Piala Asia 2027: Ujian Mental Menuju Pentas Dunia