Dalam film "Badarawuhi Di Desa Penari", yang disutradarai Kimo Stamboel, konsep Dawuh menjadi landasan utama memperkuat plot serta atmosfer cerita. Dawuh merupakan orang-orang pilihan Badarawuhi, siapa yang terpilih akan menghuni Angkara Murka selamanya bersama Badarawuhi dan menari untuk Sang Ratu Penari.
Dawuh, dalam prosesnya pada “Badarawuhi di Desa Penari”, dilingkupi sebuah praktik tradisional masyarakat (Desa Penari) yang dipengaruhi suatu kepercayaan, dan juga ritual penting dalam menjaga kedamaian dan keberkahan Desa Penari (kasarnya, bisa dianggap tumbal alias jadi budak Badarawuhi)
Ritual Dawuh melibatkan pemilihan tujuh perempuan yang dianggap layak oleh Badarawuhi untuk menari. Perempuan-perempuan berjumlah tujuh, itu mewakili simbolisme spiritual dan kesucian. Namun, hanya satu di antara mereka akan dipilih sebagai Dawuh, yang kemudian akan meninggalkan dunia manusia untuk mengabdi kepada Badarawuhi. Proses pemilihan ini menjadi momen penuh ketegangan, di mana keputusan akhir Badarawuhi akan menentukan nasib salah satu dari mereka. Meskipun penuh dengan rasa sakit dan kehilangan, perempuan yang terpilih mau nggak mau harus siap untuk mengorbankan segalanya demi kedamaian Desa Penari.
Dan pemilihan Dawuh menjadi momen sangat krusial. Kandidat Dawuh, kendatipun belum tentu terpilih, sudah harus rela meninggalkan keluarga dan kehidupan mereka di dunia asalnya, untuk menghuni Singgasana Angkara Murka bersama Badarawuhi. Makanya, saat menjalani ritual, banyak dari kandidat Dawuh menangis. Mereka semua sudah tahu, yang terpilih nggak akan bisa kembali alias mati. Meskipun ritual itu jelas-jelas salah dan dosa, tapi masyarakat Desa Penari nggak punya pilihan lain untuk melindungi desa dari amukan dan bencana, yang mungkin datang dari Badarawuhi.
Konsep Dawuh juga menimbulkan pertanyaan moral tentang nilai-nilai pengorbanan dan keadilan. Bagi perempuan-perempuan terpilih sebagai kandidat Dawuh, memutuskan untuk maju (mengorbankan diri mereka sendiri) demi kebaikan bersama menjadi konflik internal yang kompleks. Mereka harus berjuang antara panggilan pengabdian kepada Badarawuhi atau melawan demi tetap bersama keluarga dan kehidupan mereka yang ditinggalkan. Sementara bagi masyarakat desa, pemilihan Dawuh menjadi pertaruhan besar yang memengaruhi nasib desa secara kolektif.
Selain menghadirkan ketegangan horor mencekam, film ini juga menyelipkan pesan-pesan moral dan spiritual mendalam. Pengorbanan menjadi tema utama yang menghantui dalam cerita, sehingga menciptakan narasi nggak dangkal dan menyentuh simpati penonton.
Oh, iya. Pengorbanan dilakukan oleh Dawuh terpilih, nggak hanya tentang menyerahkan hidup mereka kepada entitas supranatural. Mereka bisa saja dianggap seseorang yang telah menjaga kestabilan dan kedamaian desa bagi generasi mendatang. Terlepas dalam filmnya ada scene terkait keinginan untuk berhenti melakukan ritual Dawuh dan mengirimnya untuk Badarawuhi, tetapi nyatanya itu bukan perkara mudah.
Nah, sekarang kalian sudah tahu, ya. Dalam film 'Badarawuhi Di Desa Penari', Dawuh ada sebagai kebutuhan cerita. Informasi yang aku sajikan sepenuhnya bersumber dari film yang sudah kutonton. Namun, opini dan pandangan lain tentang Dawuh bisa jadi bakalan ada. Maka dari itu, kuharap perbedaan persepsi terkait Dawuh, itu akan memperkaya pemahaman kita tentang konsep Dawuh lebih dalam lagi. Karena setiap sudut pandang akan membantu kita memahami detail-detail lain yang mungkin luput ketika nonton filmnya.
Sudahkah kamu nonton Film Badarawuhi di Desa Penari? Buruan ditonton sebelum turun layar, ya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
3 Hari Tayang, Film Badarawuhi di Desa Penari Raih Lebih dari 1 Juta Penonton
-
Profil dan Biodata Claresta Taufan, Pemain Film Badarawuhi yang Dulunya Atlet Karate
-
Mengapa Horor Slowburn Sekarang Lebih Memikat Ketimbang Horor Jumpscare?
-
Adu Penonton Film Badarawuhi vs Siksa Kubur, Selisihnya Hampir 100 Ribu
Ulasan
-
Film Greenland 2: Migration, Resiliensi Pasca Hantaman Komet Clarke
-
Memahami Manusia Lewat Biologi di Buku Behave karya Robert Sapolsky
-
Ulasan Buku The Magic of Thinking Big: Motivasi yang Tak Lekang oleh Zaman
-
Ulasan Buku Zona Produktif Ibu Rumah Tangga: Berdaya Meski di Rumah Saja
-
Ulasan Buku I Do: Kiat Memutus Luka Batin Warisan Leluhur dalam Pernikahan
Terkini
-
4 Body Serum Anti-Aging Harga Rp40 Ribuan, Rahasia Kulit Kencang dan Cerah
-
Gema Langkah di Lorong yang Tak Pernah Ada
-
Kisah Transformasi Tas Anyaman Jali, Produk UMKM yang Tembus Pasar Paris dan Tokyo
-
Bina Marga Percepat Pemulihan Akses Jalan di Aceh Pascabencana
-
Jay Idzes dan Beban Ekspektasi: Menguji Kedewasaan Suporter Indonesia