Bagi mahasiswa antropologi atau yang sedang belajar bidang antropologi tentu tidak asing dengan istilah catatan lapangan. Menulis catatan adalah salah satu hal yang wajib dilakukan oleh antropolog saat melakukan penelitian.
Catatan lapangan tersebut dapat memuat data, informasi hingga perasaan terhadap kondisi lapangan yang dialami. Mereka biasa menuliskan catatan di buku catatan khusus, atau langsung diketik di perangkat elektronik seperti laptop atau ponsel.
Menjadi hal yang menarik, apabila kita bisa ikut mengambil pelajaran dari catatan lapangan milik antropolog lain. Hal itu yang akan ditemukan dalam buku berjudul Catatan Lapangan Antropolog yang disunting oleh Frieda Amran. Buku ini merupakan kumpulan catatan lapangan kurang lebih 60 antropolog berpengalaman lulusan Universitas Indonesia.
Buku setebal 332 halaman ini menyajikan keanekaragaman kehidupan sosial budaya dengan segala permasalahannya di seluruh tanah air. Keunggulan buku terletak pada keragaman pendekatan dari para penulisnya. Setiap catatan lapangan memberikan perspektif yang berbeda-beda namun tetap terhubung dengan tema utama antropologi.
Buku Catatan Lapangan Antropolog juga memberikan kompleksitas kehidupan sosial budaya masyarakat di tanah air. Langsung dari pengalaman si peneliti, pembaca diajak mengetahui bagaimana masyarakat bertahan hidup, mengorganisir kehidupan mereka serta bagaimana sikap mereka sebagai subyek yang diteliti.
Selain itu, buku ini juga memberikan gambaran pentingnya keterlibatan personal dalam penelitian antropologi. Setiap catatan lapangan tidak hanya menyajikan data dan analisa, namun juga cerita pengalaman pribadi penulis yang menjalankan penelitian lapangan. Disini sisi emosional pembaca bisa bangkit mengikuti alur cerita antropolog.
Salah satu yang berkesan bagi saya saat membaca buku ini adalah mengenai relevansi konsep participants observation (pengamatan berpartisipasi). Salah seorang antropolog menceritakan bahwa ia berniat “mendekati’ masyarakat yang ia teliti dengan mengikuti segala kegiatan mereka.
Namun, saat tiba kesempatan tersebut, ia urung melakukan niat lantaran harus ikut naik pohon. Saya merasa bahwa untuk berpartisipasi di tengah-tengah masyarakat, tidak selalu harus melakukan hal yang justru menyulitkan kita. Konsep pendekatan terhadap masyarakat memang penting agar kita bisa melakukan penelitian dengan baik.
Meski menawarkan banyak wawasan dan pengalaman langsung dari para penulis, tetap ada kekurangan. Beberapa catatan lapangan terlalu menyajikan konsep teknis atau spesifik. Namun ini bisa menjadi pemantik untuk mengetahui lebih dalam.
Secara keseluruhan buku Catatan Lapangan Antropolog adalah salah satu buku yang direkomendasikan bagi siapa pun yang tertarik untuk belajar antropologi atau sedang belajar melakukan penelitian di tengah masyarakat. Selain itu, buku ini tidak hanya memberikan wawasan yang mendalam dalam disiplin antropologi, tetapi juga para pekerja di bidang kemasyarakatan dan advokasi.
Baca Juga
-
Tren Foto AI: Antara Hak Orang Lain dan Risiko Privasi yang Mengintai
-
Soimah dan Ospek Pacar Anak: Realita Tersembunyi Drama Mertua-Menantu
-
Surga Terakhir di Bumi yang Hilang: Ketika Raja Ampat Dikepung Tambang
-
Pengangguran Terdidik di Indonesia: Potret Buram Pendidikan dan Lapangan Kerja
-
Semangkuk Mie Instan di Kosan: Cerita Persaudaraan yang Tak Terlupakan
Artikel Terkait
-
Kisah Kelam Tiga Perempuan dalam Novel 'Basirah'
-
4 Tahap Evolusi Manusia dari Buku 'Asal Usul Manusia'
-
Ubah Pola Pikir: Rahasia Berpikir Besar dari Buku The Magic of Thinking Big
-
Ulasan Novel Narnia 'Keponakan Penyihir': Awal Mula Terbentuknya Narnia
-
Ulasan Buku Yes to Life, Bertahan di Situasi Paling Sulit dalam Kehidupan
Ulasan
-
Romansa Enemies to Lovers di Novel Act of Money Karya Dinda Delvira
-
Keteguhan Perempuan dalam Sunyi: Membaca Realisme Sosial dalam Novel Mirah
-
Sianida di Balik Topeng Kesopanan Bangsawan Inggris dalam An English Murder
-
Jeng Yah dan Perlawanan Sunyi Merebut Ruang Sejarah dalam 'Gadis Kretek'
-
Terluka Bertubi-tubi di Novel Asavella Karya Alfida Nurhayati Adiana