Bahagia. Satu kata ini menjadi impian banyak orang. Ya, setiap orang tentu mendambakan kehidupannya diwarnai dengan kebahagiaan. Saya sangat yakin, tak ada satu orang pun di muka bumi ini yang rela hidup dalam lingkaran penderitaan.
Setiap orang ingin bahagia dan berhak meraih kebahagiaannya dengan cara masing-masing. Tentunya, cara untuk meraih kebahagiaan yang saya maksudkan di sini adalah cara-cara yang tepat dan benar, tidak berseberangan dengan norma dan syariat.
Bicara tentang kebahagiaan, sebenarnya ada begitu banyak hal-hal yang bisa membuat hidup kita terasa lebih membahagiakan. Bersikap ramah atau memperlakukan orang lain dengan baik adalah termasuk hal yang bisa membuat hidup kita terasa lebih bermakna. Hidup bermakna akan mengantarkan kita pada kebahagiaan.
Dalam buku ‘Psikologi Kebahagiaan’ (Merawat Bahagia Tiada Akhir) diungkap bahwa dalam diri setiap manusia terdapat dorongan laten untuk menjadi sang altruis, yaitu perasaan bahagia melihat dirinya bermakna ketika sanggup membahagiakan orang lain.
Sosok altruis ini sangat menonjol dalam diri orangtua. Mereka rela bekerja keras dan berkorban demi kemajuan dan kebahagiaan anak-anaknya. Namun, lebih tinggi lagi tingkatannya jika sikap altruisme diperluas untuk bangsa dan masyarakat yang tidak memiliki hubungan kekerabatan sehingga yang muncul benar-benar dari semangat cinta kasih terhadap sesama manusia.
Hal yang perlu kita waspadai bahwa dalam menjalani kehidupan ini, banyak juga hal atau perilaku yang bisa menjadi penyebab kita tidak bisa merasa tenang dan akhirnya kebahagiaan akan sulit kita rasakan.
Salah satu hal yang bisa menjadi penyebab hilangnya rasa bahagia adalah ketika kita terlilit utang piutang. Hidup dengan memiliki banyak utang, apalagi jika utang tersebut memiliki bunga yang tinggi, akan membuat hidup kita tidak tenang.
Dalam buku ini dijelaskan bahwa siapa pun sepakat, hidup terjerat utang akan merampas kebahagiaan. Hidup dibuntuti ancaman dan tekanan juga akan merampas ketenangan. Hal tersebut berlaku, baik dalam konteks pribadi, keluarga, institusi, maupun negara. Berbahagialah masyarakat dan negara yang hidup terbebas dari berbagai ancaman utang luar negeri, syukur-syukur jika malah jadi negara pendonor.
Oleh karenanya, menghindari utang adalah hal yang mestinya selalu kita upayakan. Apalagi jika utang tersebut hanya untuk menuruti kesenangan yang sifatnya semu, misalnya untuk membeli kendaraan bagus atau mengikuti gaya hidup orang lain.
Buku ‘Psikologi Kebahagiaan’ (Merawat Bahagia Tiada Akhir) karya Komaruddin Hidayat yang diterbitkan oleh Noura Books ini sangat layak dijadikan sebagai bacaan yang akan memotivasi para pembaca untuk menjalani hidup dengan lebih bahagia.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Artikel Terkait
-
Nathalie Holscher Singgung Soal Kebahagiaan, Netizen: Emang Pas Jadi Istri Sule Tidak Bahagia?
-
Merenungkan Arti Hidup dengan 4 Anime Slice of Life yang Inspiratif
-
Baca Buku Bikin Hidup Bahagia? 5 Alasan Ini Wajib Kamu Tahu!
-
Ulasan Buku 'Growing Pains', Kisah Inspiratif untuk Menerima Rasa Luka
-
Communiverse: Misi Kelas Semesta Membangun Komunikasi Efektif di Organisasi
Ulasan
-
Why You Should Read Children's Books: Pengingat untuk Orang Dewasa
-
Ulasan Drama Dinner Mate: Menemukan Ruang Pulih setelah Patah Hati
-
Ulasan Culture Shock: Perjalanan Riko Menghadapi Dunia Baru di Jakarta
-
Review Runner: Aksi Simpel tapi Menghibur Banget, Keren!
-
Ulasan Do Do Sol Sol La La Sol: Tentang Harapan yang Tumbuh dari Kehilangan
Terkini
-
Perjalanan Hidup 'Si Leher Beton' Dibongkar dalam Serial Dokumenter TYSON
-
Hadir 15 Oktober, Kate Wyler Hadapi Krisis Politik di The Diplomat Season 4
-
Di Balik Kecanggihan AI: Ada Tagihan Listrik dan Air Bumi yang Membengkak
-
Rakyat Harus Beradab, Mengapa Penguasa Bebas Berkata Kasar di Ruang Publik?
-
Sinopsis Dive Into You: Cinta Lintas Waktu, Tayang 26 September