Hikmawan Firdaus | Sam Edy
Gambar Buku ‘Psikologi Kebahagiaan’.[iPusnas]
Sam Edy

Bahagia. Satu kata ini menjadi impian banyak orang. Ya, setiap orang tentu mendambakan kehidupannya diwarnai dengan kebahagiaan. Saya sangat yakin, tak ada satu orang pun di muka bumi ini yang rela hidup dalam lingkaran penderitaan. 

Setiap orang ingin bahagia dan berhak meraih kebahagiaannya dengan cara masing-masing. Tentunya, cara untuk meraih kebahagiaan yang saya maksudkan di sini adalah cara-cara yang tepat dan benar, tidak berseberangan dengan norma dan syariat.

Bicara tentang kebahagiaan, sebenarnya ada begitu banyak hal-hal yang bisa membuat hidup kita terasa lebih membahagiakan. Bersikap ramah atau memperlakukan orang lain dengan baik adalah termasuk hal yang bisa membuat hidup kita terasa lebih bermakna. Hidup bermakna akan mengantarkan kita pada kebahagiaan.

Dalam buku ‘Psikologi Kebahagiaan’ (Merawat Bahagia Tiada Akhir) diungkap bahwa dalam diri setiap manusia terdapat dorongan laten untuk menjadi sang altruis, yaitu perasaan bahagia melihat dirinya bermakna ketika sanggup membahagiakan orang lain. 

Sosok altruis ini sangat menonjol dalam diri orangtua. Mereka rela bekerja keras dan berkorban demi kemajuan dan kebahagiaan anak-anaknya. Namun, lebih tinggi lagi tingkatannya jika sikap altruisme diperluas untuk bangsa dan masyarakat yang tidak memiliki hubungan kekerabatan sehingga yang muncul benar-benar dari semangat cinta kasih terhadap sesama manusia.

Hal yang perlu kita waspadai bahwa dalam menjalani kehidupan ini, banyak juga hal atau perilaku yang bisa menjadi penyebab kita tidak bisa merasa tenang dan akhirnya kebahagiaan akan sulit kita rasakan.

Salah satu hal yang bisa menjadi penyebab hilangnya rasa bahagia adalah ketika kita terlilit utang piutang. Hidup dengan memiliki banyak utang, apalagi jika utang tersebut memiliki bunga yang tinggi, akan membuat hidup kita tidak tenang. 

Dalam buku ini dijelaskan bahwa siapa pun sepakat, hidup terjerat utang akan merampas kebahagiaan. Hidup dibuntuti ancaman dan tekanan juga akan merampas ketenangan. Hal tersebut berlaku, baik dalam konteks pribadi, keluarga, institusi, maupun negara. Berbahagialah masyarakat dan negara yang hidup terbebas dari berbagai ancaman utang luar negeri, syukur-syukur jika malah jadi negara pendonor.

Oleh karenanya, menghindari utang adalah hal yang mestinya selalu kita upayakan. Apalagi jika utang tersebut hanya untuk menuruti kesenangan yang sifatnya semu, misalnya untuk membeli kendaraan bagus atau mengikuti gaya hidup orang lain.

Buku ‘Psikologi Kebahagiaan’ (Merawat Bahagia Tiada Akhir) karya Komaruddin Hidayat yang diterbitkan oleh Noura Books ini sangat layak dijadikan sebagai bacaan yang akan memotivasi para pembaca untuk menjalani hidup dengan lebih bahagia. 

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.