'Four Eids and a Funeral' adalah sebuah novel yang mengisahkan tentang cinta dan persahabatan yang terjalin di antara dua karakter utama, Said Hossain dan Tiwa Olatunji. Novel ini dimulai dengan kembalinya Said ke kampung halamannya, New Crosshaven, setelah meninggalnya pustakawan favoritnya, Ms. Barnes. Said yang kini bersekolah di asrama, harus kembali untuk menghadiri pemakaman Ms. Barnes dan menghabiskan musim panas di rumah.
Said yang sedang menghadapi dilema antara keinginan menjadi seniman dan harapan orang tuanya yang menginginkannya menjadi dokter, harus berhadapan dengan mantan sahabatnya, Tiwa. Tiwa sendiri tidak mengerti mengapa Said mulai mengabaikannya, tetapi ia yakin hal itu berkaitan dengan sekolah asrama tempat Said belajar. Selama musim panas, Tiwa berusaha mengabaikan kehadiran Said dan fokus pada kegiatan lainnya, termasuk membantu ibunya mempersiapkan perayaan Eid di Pusat Islam yang sangat berarti baginya.
Masalah mulai timbul ketika Pusat Islam tersebut mengalami kebakaran, dan walikota berencana untuk menghancurkannya sepenuhnya. Meski hubungan mereka masih tegang, Tiwa memerlukan bantuan Said untuk mengubah keputusan walikota. Said, yang diam-diam membutuhkan proyek untuk mendaftar ke sekolah seni, setuju untuk membantu. Dengan berjalannya waktu, keduanya bekerja sama untuk menyelamatkan Pusat Islam, menyelamatkan perayaan Eid, dan perlahan-lahan memperbaiki hubungan mereka yang retak.
Novel ini menggambarkan dengan sangat baik bagaimana hubungan yang pernah rusak bisa diperbaiki dengan kerja sama dan pengertian. Faridah Àbíké-Íyímídé dan Adiba Jaigirdar berhasil membawa pembaca ke dalam dunia Said dan Tiwa, menunjukkan dinamika hubungan mereka yang kompleks namun realistis.
Menurut saya, 'Four Eids and a Funeral' adalah sebuah bacaan yang sangat menyentuh dan menyenangkan. Penggambaran karakter yang kuat dan alur cerita yang menarik membuat novel ini layak untuk dibaca. Meskipun ada beberapa bagian yang terasa kurang mendalam, keseluruhan cerita memberikan pesan yang kuat tentang pentingnya persahabatan, cinta, dan identitas budaya. Novel ini juga menyajikan isu-isu penting seperti rasisme dan Islamofobia dengan cara yang sensitif dan penuh empati. Ulasan saya terhadap buku ini adalah sangat positif, dan saya merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang mencari cerita yang hangat dan penuh makna.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Ulasan Novel Romansa Opium, Kejahatan, Kekuasaan, dan Cinta di Era Kolonial
-
Ulasan Novel Pusaka Candra: Kisah Politik, Mitos, dan Cinta Keraton Abad 17
-
Intrik Kuasa dan Cinta Terlarang dalam Novel Kaisar
-
Ulasan Sweet Disguise, Perjalanan Menguak Korupsi Lewat Penyamaran
-
Perjuangan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Novel Senja di Sudut Rumah Sakit
Artikel Terkait
-
Diledek Numpang Hidup, Suami Muzdalifah Kini Melenggang ke DPRD Banten
-
Dulu Diledek Numpang Hidup Muzdalifah, Fadel Islami Balas Menohok usai Jadi Anggota DPRD
-
Segera Dilantik Jadi Anggota DPRD Banten, Suami Muzdalifah Kenang Perjuangan Kampanye
-
Ulasan Novel 'Six More Months of June', Cinta dan Persahabatan di Akhir SMA
-
Liburan Seru di Novel Beach Cute, Kisah Cinta dan Persahabatan Tiga Gadis
Ulasan
-
Review Novel Kubah Ahmad Tohari: Kisah Menyentuh Tentang Kesempatan Kedua
-
Review Film It Was Just an Accident: Kritik Rezim Lewat Thriller yang Tajam
-
Dilema dan Konflik Batin Tokoh Kolonial dalam Buku Semua untuk Hindia
-
Mengenal Filsafat dengan Cara yang Menyenangkan lewat Novel Dunia Sophie
-
Di Antara Tembang dan Perang: Membaca Cerita Panji Nusantara