Pernahkah kamu merasa terjebak dalam masa lalu dan meyakini bahwa apa yang terjadi dulu benar-benar menentukan siapa kamu sekarang? Jika iya, kamu mungkin sedang berada dalam kondisi yang disebut victim mentality.
Victim mentality atau mentalitas korban adalah keadaan ketika seseorang selalu merasa dirinya adalah korban dari setiap situasi.
Pola pikir ini membuat seseorang mudah menyalahkan orang lain atau keadaan dan merasa tidak punya kendali atas masalahnya.
Konten kreator Akbar Abi mengupas masalah ini melalui buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi. Ia mencontohkan kalimat-kalimat yang sering kita dengar atau tanpa sadar kita ucapkan sendiri.
“Gue susah percaya sama orang, karena dulu pernah diselingkuhin.”
“Gue gampang marah, karena dari kecil sering dibentak bokap.”
“Gue pendiam dan pemalu, karena sering di-bully.”
Dalam unggahan video di kanal YouTube Akbar Abi pada Kamis (29/5/2025), Akbar menjelaskan bahwa kalimat-kalimat ini memang terdengar masuk akal. Kita menyimpulkan bahwa kita menjadi seperti sekarang karena perlakuan buruk di masa lalu.
Pandangan ini juga sejalan dengan teori Sigmund Freud yang meyakini bahwa pengalaman masa kecil sangat memengaruhi kepribadian kita. Tidak heran jika banyak orang mempercayai hal ini.
Teori Alfred Adler: Masa Lalu Bukan Penentu Hidup Kita Saat Ini
Akbar menyampaikan sudut pandang lain yang ia temukan di buku Berani Tidak Disukai, teori Alfred Adler, psikolog Austria yang justru bertolak belakang dengan Freud.
Menurut Adler, masa lalu tidak menentukan siapa kita hari ini. Yang menentukan adalah cara kita menafsirkan masa lalu.
Jika memakai cara pandang Adler, respons seseorang terhadap pengalaman buruk bisa menjadi lebih dewasa.
“Gue memang pernah diselingkuhin, tapi gue memilih untuk nggak bawa luka itu ke hubungan baru.”
“Gue tumbuh di lingkungan keras, tapi gue memilih buat jadi orang yang tenang.”
“Gue dulu di-bully, tapi gue memilih untuk tetap percaya diri.”
Dalam pandangan ini, kita sadar bahwa masa lalu memang menyakitkan, tetapi tetap punya ruang untuk memilih bagaimana bersikap hari ini. Namun sering kali, tanpa sadar, kita mempertahankan reaksi lama karena sudah merasa nyaman dengan alasan itu.
Pada saat itulah victim mentality muncul. Kita meletakkan tanggung jawab hidup pada masa lalu atau orang lain. Rasanya memang lebih aman, tapi membuat kita berhenti berkembang.
Lebih mudah mengatakan, “Gue gagal karena orang tua nggak dukung,” daripada jujur pada diri sendiri bahwa, “Gue gagal karena gue belum usaha maksimal.”
Akbar mengakui bahwa pandangan Adler ini bisa membuat banyak orang merasa tertantang. Namun, justru di situlah peluang untuk berubah.
Satu Pengalaman yang Sama, Dua Hasil Hidup yang Berbeda
Ada orang yang terbentuk menjadi pendiam dan pemalu setelah di-bully. Ia memilih berlindung di balik identitas introvert dan menjauh dari lingkungan sosial.
Di sisi lain, ada orang dengan pengalaman serupa justru tumbuh menjadi pribadi pemberani, membangun komunitas anti-bullying, atau berani bersuara untuk melindungi orang lain.
Pengalaman masa lalunya sama-sama berat, tetapi pilihan untuk menyikapi pengalaman itulah yang memisahkan hasil akhir hidup mereka.
Pada akhirnya, masa lalu adalah bagian dari perjalanan. Ia penting, tetapi bukan penentu masa depan. Yang benar-benar menentukan adalah keputusan yang kita ambil hari ini, di detik ini juga.
Baca Juga
-
Debut Film Horor, Michelle Ziudith AlamiSakit Misterius hingga Lima Hari
-
Sering Disalahartikan, Ini Makna Lagu Sedia Aku Sebelum Hujan dari Idgitaf!
-
Kisah Dokter Gia Pratama Keluarkan Koin di Leher Balita Pakai Kateter Urin
-
Siap Menikah, Ranty Maria dan Rayn Wijaya Siapkan Live Streaming untuk Fans
-
Antara Sayang dan Sakit: Mengapa Orang Tetap Bertahan dalam Hubungan Toxic?
Artikel Terkait
-
Review Buku Walau Jomblo Tetap Produktif: Menjadi Single Berkualitas dan Berprestasi
-
Ulasan Buku "What i Ate in One Year", Kuliner Dunia Yang Menakjubkan
-
Ulasan Buku The Art of Stoicism, Misi Pencarian Makna tentang Kehidupan
-
Ulasan Novel Pachinko, Kisah Tiga Generasi Keluarga Korea di Jepang
-
Ulasan Buku "Brothers", Kenangan Kecil untuk Mendiang Sang Adik
Ulasan
-
Tak Kenal Maka Taaruf: Film Religi Buat Kamu yang Punya Trauma Jatuh Cinta!
-
Bertabur Visual, Review Lagu BTS '2.0': Manifesto dan Transformasi Diri
-
Ulasan Novel Maya, Pencarian Hakikat Ketuhanan di Kaki Gunung Merapi
-
Ulasan Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu: Kisah Haru Mimpi dan Pengorbanan
-
Air Terjun Kapas Biru: Primadona Lumajang yang Eksotis di Lereng Semeru!
Terkini
-
Kim Se Jeong Berpeluang Jadi Pemeran Utama di Drama Korea High School Queen
-
Infinix XPAD 20 Pro: Tablet Rp 2 Jutaan Rasa Laptop Mini, Nyaman untuk Kerja dan Hiburan
-
Belajar Memaknai Kamis Putih lewat Lagu Membasuh dari Hindia
-
Anti-Putus! Intip Kekuatan Magis di Balik 7 Pasangan Shio Paling Kompak Ini
-
Kenapa Indonesia Butuh Susu Ibu Hamil, tapi Negara Lain Tidak?