Sekar Anindyah Lamase | Eunike Dewanggasani
Harry Springer dari band Moon Walker (Instagram/moonwalkerbandofficial)
Eunike Dewanggasani

“Tindakanmu terhadap orang tua kelak akan dibalaskan kepadamu lewat anakmu.” Pernah tidak mendengar nasehat seperti ini ketika kita berbuat nakal?  Melalui laguRegular People”, band indie Moon Walker menyatakan fakta bahwa seluruh generasi yang ada di muka bumi saat ini sesungguhnya adalah produk dari fenomena generational trauma.

Mungkin band ini masih terasa asing di telinga. Merujuk ke laman situs resmi mereka, band indie aliran rock yang digawangi oleh vokalis sekaligus gitaris bernama Harry Springer ini baru mulai berkarier di masa pandemi beberapa tahun lalu.

Karya-karya mereka berhasil mendapatkan jumlah pendengar yang fantastis berkat popularitas dari aplikasi TikTok.  Terhitung dari laman Spotify Moon Walker, total pendengar bulanan mereka mencapai angka 229 ribu orang.  “Regular People” menjadi salah satu dari lima besar lagu populer mereka.

Rilis pada 22 Maret 2024, “Regular People” menceritakan perlakuan lintas generasi yang menyindir dan erat dengan kehidupan manusia dewasa. Dengan struktur lagu normal layaknya lagu band pada umumnya (verse-chorus-verse-chorus-bridge-chorus) serta unsur instrumen pengiring yang sederhana; lagu ini seolah sengaja dibuat untuk menitikberatkan makna yang disampaikan melalui liriknya.

Seluruh bagian verse dan chorus merujuk kepada sosok penyanyi yang membicarakan generasi di bawah mereka (anak-anak).  Mirisnya, dulu kita yang memberontak dan tidak senang terhadap perlakuan orang tua terhadap diri sendiri, kini justru melakukan hal yang sama terhadap anak-anak kita.  

Ada pula justifikasi bahwa kita berpikir cara mendidik ini adalah cara yang benar karena dengan pembelaan “Hal ini sudah biasa terjadi, karena aku dulu juga dibesarkan seperti ini,” padahal jelas-jelas hal tersebut belum tentu baik.

The children never talk
We finally shut them up
Always talking over those they only should obey
They can't leave home too soon
We locked them up in their room
So they can think it over every time they misbehave

But some things shouldn't have to change
It's how we both were raised
It's how regular people were made
We might be all the same
But you'll be better off this way
Aah

The children think too much
They've hardly a fear of god
Always asking questions they should only wish away
Sundays every week
With father Montgomery
As they've gotten older, they can hardly stay awake

But everybody has to pray
It's how we both were raised
It's how regular people were made
We might be all the same
But you'll be better off this way

Bagian klimaks terdapat di bridge dan jeda vokal yang diisi oleh lantunan gitar elektrik solo yang memainkan melodi chorus, seolah-olah memberikan waktu bagi pendengar untuk merenungkan sejenak lirik yang barusan mereka dengar.

Bagian anti-klimaks yang menyentuh terdapat di outro setelah chorus terakhir yang mengungkapkan kesadaran sang penyanyi bahwa cara didikan mereka hanyalah perpanjangan dari rantai trauma antargenerasi yang gagal diputus.

The children never call
How could they just cut us off
I guess that’s twenty years we should have never gave away
People shouldn’t have to change

Dengan kunci dasar A dan pitch lagu standar tanpa ada teknik vokal yang berlebihan seperti nada tinggi, lagu ini mudah untuk dinyanyikan dan dihayati.  

Bagian yang paling ‘nendang’ dari lagu ini adalah lirik yang relatable dalam kehidupan antara orang tua dan anak: orang tua yang tidak mau mendengarkan anaknya dan lebih milih menyuruh mereka diam; serta anak yang menjalankan kegiatan ibadah karena dipaksa oleh orang tua alih-alih karena panggilan hati.

Melalui lagu ini, kita bisa bercermin sejenak untuk melihat apakah selama ini kita sering kali playing victim dan masih terus meneruskan kebiasaan buruk yang diturunkan oleh generasi sebelum kita ke generasi yang ada di bawah kita.  Bagimana pendapat pribadimu mengenai lagu ini?

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS