Novel 7 Sayap Kematian karya Jienara menghadirkan kembali kisah penuh ketegangan dari kelompok 7 Sayap Pendosa. Setelah insiden penggulingan kepala sekolah Daniel Arjianta, lima anggota yang tersisa terpaksa mengikuti kegiatan kemping LDK sebagai bagian dari seleksi Pramuka Garuda. Apa yang seharusnya menjadi kegiatan pembinaan, justru berujung menjadi mimpi buruk yang dipenuhi teror, konflik, dan misteri yang terus meningkat seiring berjalannya waktu.
Cerita ini dibuka dengan latar pasca kejatuhan Daniel, di mana pihak sekolah dan yayasan mulai melakukan investigasi menyeluruh untuk mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas pemberontakan tersebut. Namun, kondisi di sekolah semakin memburuk dengan adanya skandal kebocoran kunci jawaban ujian serta peredaran obat-obatan terlarang yang melibatkan beberapa pihak. Di tengah kondisi ini, anggota 7 Sayap Pendosa, yang sudah tidak lengkap lagi, dipaksa menghadapi tantangan baru yang tidak kalah berbahaya.
Ilham, salah satu anggota yang masih berjuang dengan trauma mendalam akibat pengalaman-pengalaman sebelumnya, menjadi pusat perhatian dalam cerita ini. Trauma dan mimpi buruk yang menghantui Ilham membuat suasana semakin mencekam, dan perkembangan karakter Ilham menambah lapisan emosional yang membuat pembaca lebih terikat dengan tokoh tersebut.
Kemping LDK yang mereka ikuti awalnya dirancang sebagai kegiatan pembinaan yang menantang, tetapi berubah menjadi pengalaman mengerikan yang dipenuhi teror dan ketidakpastian. Di balik tenda-tenda kemping, muncul ancaman-ancaman baru yang membahayakan tidak hanya keselamatan, tetapi juga persahabatan mereka. Jienara menambahkan elemen misteri melalui tokoh-tokoh baru yang muncul di kemping, yang memunculkan pertanyaan apakah mereka adalah sekutu atau justru musuh baru bagi kelompok Sayap Pendosa.
Dengan narasi yang dinamis, Jienara berhasil membangun atmosfer yang mencekam. Setiap bab penuh dengan ketegangan yang terus meningkat, memaksa pembaca untuk terus bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Penulis juga mengemas twist yang mengejutkan di bagian akhir cerita, memberikan akhir yang sulit ditebak dan memuaskan rasa penasaran pembaca.
Menurut saya, 7 Sayap Kematian adalah sebuah novel yang menyajikan kisah penuh intrik dan ketegangan yang tak henti-hentinya. Walaupun intensitas konflik mungkin sedikit lebih ringan dibandingkan novel sebelumnya, suasana mencekam yang diciptakan dalam kemping LDK tetap memberikan pengalaman membaca yang memikat. Misteri-misteri yang tersimpan di balik setiap peristiwa dan teror yang terus menghantui para tokoh memberikan daya tarik tersendiri bagi para penggemar cerita yang sarat suspense dan drama.
Baca Juga
-
Ulasan Novel Romansa Opium, Kejahatan, Kekuasaan, dan Cinta di Era Kolonial
-
Ulasan Novel Pusaka Candra: Kisah Politik, Mitos, dan Cinta Keraton Abad 17
-
Intrik Kuasa dan Cinta Terlarang dalam Novel Kaisar
-
Ulasan Sweet Disguise, Perjalanan Menguak Korupsi Lewat Penyamaran
-
Perjuangan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Novel Senja di Sudut Rumah Sakit
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel 'Love From Mecca to Medina', Ketika Cinta Diuji di Tanah Suci
-
Ulasan Novel Wajah Abu-Abu: Kisah Gadis Perias Jenazah yang Ditentang Keluarganya
-
Ulasan Novel Welcome to the Hyunam Dong Bookshop, Kisah Inspiratif dari Toko Buku Kecil
-
Ulasan Buku Vermilion Rain: Saat Desa Diguyur Hujan yang Tak Kunjung Berhenti dan Warga Mulai Terbunuh
Ulasan
-
Review Film It Was Just an Accident: Kritik Rezim Lewat Thriller yang Tajam
-
Dilema dan Konflik Batin Tokoh Kolonial dalam Buku Semua untuk Hindia
-
Mengenal Filsafat dengan Cara yang Menyenangkan lewat Novel Dunia Sophie
-
Di Antara Tembang dan Perang: Membaca Cerita Panji Nusantara
-
Almarhum: Teror Kematian yang Tak Pernah Benar-benar Pergi
Terkini
-
Sinopsis Pavane, Film Korea Romansa Baru Moon Sang Min dan Go Ah Sung
-
Profil Rayn Wijaya, Biodata dan Kisah Cintanya dengan Ranty Maria
-
Krisis Empati dan Menakar Batas Etika Saat Mendengar Kabar Duka
-
4 Makanan yang Membantu Meningkatkan Kualitas Tidur
-
Hangout Style Antiribet, Ini 4 Ide OOTD Minimalis ala Seulgi Red Velvet