Buku Yel ini memuat 87 cerpen karya Putu Wijaya. Tak seperti buku kumpulan cerpen lainnya. Biasanya judul cerpen yang menjadi judul sampul buku dipilih dari cerpen terbaik, atau dipilih sebab terdiri dari kata yang mengundang rasa penasaran bagi pembaca.
Tapi, tidak berlaku demikian dengan Putu Wijaya. Selain hanya satu kata: YEL, dari 87 cerpen di dalam buku kumpulan cerita ini saya tak menjumpai cerpen yang berjudul Yel. Inilah keunikan yang terdapat pada sosok cerpenis Putu Wijaya.
Judul-judul cerpen pada buku ini mayoritas hanya terdiri dari satu kata. Contoh Mulut, Demokrasi, Coro, Tempe, Hero, Pamit, Tidak, Siapa, Nakal, Mau, Pistol, Target, Lebaran, Mimpi, Babe, Miskin, Status, Anak, Cucu, Langit, Gol, Rumah, Merica, Bencana, Bunga, Pendidikan, Sekolah, Ben, Menang, Nol, Proses, Mis, Walkman, PHK, 1981, 1983, 1984, 3000, Aids, Nilai, Cinta, King, PPN, Puasa, Kartini, Sayang, Pesta, Dewa, Togog, Hak, Kondom, Dedengkot, Apa, Bahagia, XXI, Menang, Pon, dan lain sebagainya.
Membaca cerpen-cerpen ini mendapat kesan yang kuat bahwa Putu Wijaya adalah seorang tukang cerita profesional dan ahli ngobrol yang piawai. Nyaris apa yang dilihat, didengar dan dirasakan oleh Putu Wijaya dapat dijadikan bahan cerita atau obrolan yang memikat.
Daya tarik cerpen-cerpen ini bukanlah lantaran jalan ceritanya, tetapi terutama karena Putu Wijaya bisa menggabungkan beberapa hal yang tampak saling bertentangan menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga tak dapat dipisahkan.
Saya suka gaya Putu Wijaya yang bermain-main kata dengan tanpa beban, kalimatnya yang lugas dan tegas, diangkat dari peristiwa yang remeh-temeh, dan membuat surprise pada bagian akhirnya, sekaligus juga dibuat tertawa oleh keisengan yang tiba-tiba dan segar.
Pada cerpen Mulut misalnya, dikisahkan seorang wanita ditangkap gara-gara tak punya mulut. Sebab tak memiliki mulut, ia dianggap cacat. Wanita itu cantik, tapi mengerikan. Keisengan yang tiba-tiba dimunculkan oleh Putu Wijaya, ia berpikir apakah di mulutnya yang terkatup itu terdapat barisan gigi dan lidah?
Di kota saya ada seorang tidak punya mulut. Di bawah hidungnya tidak muncul sepasang bibir. Saya tidak tahu apakah ia punya dua baris gigi dan lidah di balik bawahnya yang terkatup itu. Tapi dalam keadaan tuna mulut itu, ia menimbulkan keadaan yang khusus. Warga mempersoalkan kehadirannya tak habis-habis. (Halaman 47).
Cerita mulut ini kemudian dilanjutkan, bahwa wanita tadi diberi mulut oleh seorang pembesar yang ternyata menjadi senjata makan tuan. Saat diberi mulut, wanita itu mengoceh tiada henti. Bahkan, meski dalam keadaan tidur, juga terus ngomong. Karena kebanyakan mulut, para hansip ditugaskan untuk menangkap wanita tersebut.
"Tapi, katanya mulutnya itu Bapak yang memberikan?"
"Memang. Tapi, maksud kita bukan untuk dipakai ngoceh begitu. Memang susah tidak punya mulut tiba-tiba punya mulut, jadi kacau begini. Main gosip, memfitnah, membakar-bakar. Ayo, cepat selamatkan dia!" (Halaman 55).
Inilah yang saya maksud dengan menggabungkan dua hal yang saling bertentangan. Dari tidak ada menjadi ada. Berawal dari tenang menjadi kacau. Semula tidak punya mulut, tiba-tiba punya mulut. Mulanya kehidupan warga tenang sebab tidak ada gosip dan fitnah, tapi seketika berubah menjadi gempar gara-gara wanita tak bermulut mendadak banyak mulut.
Selamat membaca!
Identitas Buku
Judul: Yel
Penulis: Putu Wijaya
Penerbit: Basabasi
Cetakan: I, Februari 2022
Tebal: 528 Halaman
ISBN: 978-623-305-263-4
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Buku Hakim Sarmin Presiden Kita: Membaca Politik Lewat Tawa dalam Dua Lakon
-
Intip Spek Huawei Mate 90 RS Ultimate: Kamera Periskop 200 MP dan Zoom Optik 12x Jadi Sorotan
-
HONOR Pad V9 Resmi Hadir: Tablet Tipis dengan Layar 144Hz dan Baterai Jumbo 10.100 mAh
-
HUAWEI MatePad Air 2026: Tablet Tipis dengan Layar OLED 144Hz dan AI untuk Kerja Lebih Cerdas
-
iQOO Pad Ultra Segera Rilis: Bawa Kipas Pendingin Internal dan Touch Sampling 5.000Hz
Artikel Terkait
-
Novel Tokyo Ever After: Kisah Gadis Amerika-Jepang dalam Menemukan Ayahnya
-
Resensi Buku 'Goodbye, Things', Hidup Bahagia dengan Sedikit Barang
-
Menggiring Imajinasi Pembaca dalam Buku Cerpen Lidah Karya Ni Komang Ariani
-
Ulasan Buku The Magic of Creativity, Kiat Meraih Kreativitas dalam Berkarya
-
'Psikologi Keluarga', Rekomendasi bagi Pewaris Karakter Sistem Sosial
Ulasan
-
Buku All The Bright Places, Meruntuhkan Stigma Negatif Isu Mental Health
-
Review Skenario Sang Jenderal: Kupas Kasus Sensitif yang Mengguncang Publik
-
Review Terbelah Jadi Dua dan Alasan Kita Senang Menyiksa Diri Lewat Lagu
-
Review Film Hope, Teror Makhluk Misterius di Desa Terpencil
-
Ulasan Film Agensi Rumah Tangga: Angkat Isu Sosial Lewat Tawa Menyegarkan
Terkini
-
Menikmati Sejuknya Jogja dengan Nuansa Jepang di Onsen Resort Kaliurang
-
Sinopsis 100 Days of Deception: Misi Rahasia di Era Penjajahan Jepang
-
Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai
-
Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi
-
Resmi di Indonesia! Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai Jumbo 10.000 mAh