"You Are the Apple of My Eye" adalah adaptasi film Mandarin tahun 2011 dari novel dan film Taiwan terkenal karya Giddens Ko. Disutradarai oleh Yasuo Hasegawa, versi film ini masih mempertahankan inti cerita yang menyentuh tentang cinta pertama, tetapi dengan pendekatan visual dan interpretasi yang sedikit berbeda. Film ini berhasil menangkap kehangatan, kepolosan, dan kesedihan yang melekat pada kenangan masa muda.
Cerita ini berfokus pada Mizushima Kosuke (Yuki Yamada) dan rekannya Hayase Mai (Asuka Saito), yang memulai hubungan unik saat masih duduk di bangku SMA. Mai adalah siswa teladan yang cerdas, sementara Kosuke adalah pemuda yang ceria tetapi sering bermasalah. Interaksi mereka berkembang dari ketidaksukaan menjadi persahabatan yang akrab, dan akhirnya, perasaan cinta yang terpendam.
Chemistry antara Yuki Yamada dan Asuka Saito adalah salah satu kekuatan utama film ini. Mereka berhasil menggambarkan dinamika cinta pertama yang penuh kehangatan dan kecanggungan. Hubungan mereka terasa alami, mulai dari pertengkaran kecil, momen-momen manis, hingga ketegangan emosional yang muncul saat mereka mulai menyadari perasaan masing-masing.
Salah satu elemen yang menonjol dalam film ini adalah penggambaran masa muda yang begitu relatable. Film ini menangkap kegembiraan, kebodohan, dan kesalahan yang sering terjadi selama masa sekolah. Momen-momen kecil seperti bercanda dengan teman sekelas, menyalin pekerjaan rumah, hingga rahasia yang dibagikan hanya dengan orang tertentu memberikan sentuhan otentik pada cerita.
Namun, yang membuat You Are the Apple of My Eye begitu mengena adalah pesan emosionalnya tentang cinta pertama. Film ini menunjukkan bahwa cinta pertama tidak selalu berakhir bahagia, tetapi tetap memiliki tempat istimewa di hati setiap orang. Meskipun Kosuke dan Mai saling menyayangi, mereka akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa cinta saja tidak selalu cukup untuk mempertahankan hubungan.
Sinematografi film ini juga patut diapresiasi. Latar belakang sekolah, musim semi yang indah, dan pemandangan kota kecil memberikan nuansa nostalgia yang kuat. Penggunaan cahaya alami dan komposisi sederhana menciptakan suasana yang hangat dan menyentuh, memperkuat pengalaman emosional penonton.
Meski begitu, beberapa penonton yang akrab dengan versi aslinya mungkin merasa bahwa adaptasi ini kurang memiliki kedalaman emosional yang sama. Beberapa adegan terasa dipercepat, sehingga tidak memberikan ruang yang cukup untuk membangun ketegangan emosional. Selain itu, alur cerita yang terlalu mirip dengan versi tahun 2011 membuat beberapa momen terasa kurang segar.
Namun, keunggulan adaptasi Jepang 2018 ini terletak pada kemampuan sutradara untuk memberikan pendekatan yang berbeda melalui budaya dan setting Jepang. Meskipun ceritanya hampir sama, penonton dapat merasakan perspektif baru melalui cara karakter berinteraksi dan bagaimana nilai-nilai lokal tercermin dalam cerita.
Secara keseluruhan, "You Are the Apple of My Eye" (2018) adalah film yang indah tentang cinta pertama dan nostalgia masa muda. Meski tidak sepenuhnya lepas dari bayang-bayang versi aslinya, adaptasi ini tetap layak untuk ditonton, terutama bagi mereka yang ingin merasakan kembali manis-pahitnya cinta pertama.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Novel Saman: Pendobrakan Tabu Sosial di Tengah Politik Indonesia
-
Membedah Sisi Gelap Keadilan Manusia di Ulasan Novel The Hellbound
-
Novel Pukul Setengah Lima, Mencari Pintu Keluar dari Realitas Kehidupan
-
Ulasan Buku Empowered Me, Menjadi Ibu Berdaya Tanpa Kehilangan Identitas
-
Ulasan Novel The Bride Test, Ketulusan Mencintai dalam Ketidaksempurnaan
Artikel Terkait
-
Sutradara Konfirmasi Film The Substance Tak Akan Memiliki Sekuel
-
Hambar dan Monoton, Kekecewaan Setelah Nonton Film Utusan Iblis
-
Pelangi di Mars: Kolaborasi Imajinasi dan Teknologi yang Memukau Penonton
-
Mengintip Bayang-Bayang Anak Jahanam: Kisah Horor Sekte dan Anak Jahanam!
-
Ulasan Novel XOXO: Perpaduan Budaya Amerika dan Korea Selatan
Ulasan
-
Novel Jangan Bercerai, Bunda: Sebuah Cermin Retak Rumah Tangga
-
Novel Le Petit Prince: Potret Kehidupan Dewasa dari Kacamata Pangeran Cilik
-
Review Film Utusan Iblis: Saat Kesunyian Menjadi Senjata Horor Psikologis Terbaik
-
Novel Saman: Pendobrakan Tabu Sosial di Tengah Politik Indonesia
-
Seri Kedua Novel Na Willa: Konflik dan Kisah Lama Masa Kanak-Kanak
Terkini
-
4 Ide Daily OOTD ala Jennie BLACKPINK, Classy Look Sampai Street Style!
-
Bukan Sekadar Hiburan, Pop Culture Juga Mekanisme Bertahan Hidup Manusia Modern di Era Digital
-
Prof. Zainal Arifin Mochtar: Menjaga Akal Sehat di Tengah Kemunduran Demokrasi
-
Comeback BTS Cetak Sejarah! Pre-Order Album ARIRANG Tembus 4 Juta Kopi dalam Seminggu
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?