Novel Mendung di Atas Casablanca ini menceritakan perjuangan seorang gadis yang ditinggal mati ibunya, sementara ayahnya beristri lagi dan tinggal di tempat yang jauh. Gadis itu bernama Tyas. Ia sangat semangat untuk melanjutkan hidup dan terus belajar di sekolah meski hidup berdua hanya dengan neneknya.
Tyas bukan gambaran gadis metropolitan yang hidup terseret arus kemajuan zaman. Ia adalah anak yatim piatu. Ia gadis perkasa, yang mencoba menaklukan hidup dengan tetesan keringat dan helaan nafasnya, walau di balik semua itu hatinya bagai bejana retak. Sepeda tuanya yang sarat beban setiap pagi dikayuhnya dengan susah payah untuk mengais uang.
Tyas digambarkan sebagai anak yang tabah dan penuh semangat menghadapi hidup yang pahit. Berapa pun uang yang didapat, ia akan bersyukur dan ikhlas. Tawanya menghapus semua keringat dan rasa letih.
Saat mendung di pagi hari yang libur itu, Tyas bertemu dengan cowok yang sedang istirahat mengayuh sepeda di atas Jembatan Casablanca. Namanya Bernie.
Baru saja rombongan bebek itu berlalu, mata Bernie menangkap sosok semampai dengan penampilan lain, mandi peluh di samping sepedanya yang sarat muatan. Mungkin perlu pertolongan, pikir Bernie, saat melihat gadis itu seolah kehabisan tenaga. (Halaman 11).
Itulah awal pertemuan Tyas bersama Bernie. Selanjutnya, mereka saling berkenalan dan janjian untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya. Tyas akhirnya mengungkapkan kepada Bernie siapa dia sebenarnya.
"Ibu meninggal waktu umurku lima tahun, tiga tahun kemudian ayahku menikah lagi, lalu tinggal di Manado karena istrinya mengajak mengolah perkebunan kelapa sawitnya ketimbang hidup di sini susah. Sekarang sudah punya empat anak lagi, hampir-hampir tak pernah menjengukku karena repot. Terakhir aku bertemu dengannya lima tahun yang lalu. Dia kadang-kadang mengirim uang walau tak seberapa, aku mengerti untuk hidup sendiri saja susah." (Halaman 29).
Tyas pernah diajak untuk tinggal bersama mereka di Manado, namun ia tidak mau, sebab kasihan kepada neneknya yang hidup seorang diri.
"Mana tega meninggalkan Eyang Putri sendirian? Eyang hidup sendiri sejak muda, membesarkan ibuku, anak satu-satunya, dan aku juga cucu satu-satunya. Jadi hanya aku milik terakhirnya." (Halaman 29).
Bernie sangat senang bisa kenal dan berteman dengan Tyas. Bernie kagum kepadanya, karena hidup Tyas penuh dengan semangat.
Tyas mengaku dirinya memang harus selalu semangat dan berjuang keras. Ia ingin terus sungguh-sungguh dalam belajar, bukan sekadar ingin pandai, namun ia berharap suatu saat dapat beasiswa sehingga dapat meringankan beban Eyang putrinya.
Setiap pagi bakda Subuh Tyas rutin mengantarkan kue buatan para tetangganya itu kepada para pemesan. Ia berangkat sangat pagi, sebab sekolah Tyas juga masuk pagi. Hasil mengantarkan kue-kue itu, ia tabung untuk biaya hidup dan melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi.
Dengan membaca buku novel ini, pembaca akan tersentuh hatinya untuk semakin bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah, serta kian semangat untuk belajar demi menyongsong kehidupan yang kelak lebih baik.
Selamat membaca!
Identitas Buku
Judul: Mendung di Atas Casablanca
Penulis: Tika Wisnu
Penerbit: Kutubuku Sampurna Jakarta
Cetakan: I, Juli 2009
Tebal: 227 Halaman
ISBN: 978-602-95010-8-7
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Honor Robot Phone Hadir: HP dengan Sistem Gimbal 4DoF dan Sensor Kamera 200MP
-
Cerpen Putik Safron di Sayap Izrail: Kematian Sang Marbut di Tengah Pandemi
-
5 Rekomendasi HP Xiaomi RAM 8 GB Performa Terbaik 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Bocor! Motorola Razr 70 Siap Gempur Pasar HP Lipat: Spesifikasi Kamera dan RAM Gahar Terungkap!
-
Realme Narzo Power 5G Resmi Meluncur dengan Baterai Raksasa 10.001mAh
Artikel Terkait
-
Kisah Cinta Dua Insan yang Tak Terungkap dalam Novel Habibie Ya Nour El Ain
-
Ulasan Buku Lentera Buku, Menghidupkan Kembali Semangat Baca di Era Digital
-
Ulasan Buku 'Perantau' Karya Gus tf Sakai, Butuh Baca Ulang untuk Memahami
-
4 Rekomendasi Novel Klasik Indonesia yang Wajib Dibaca Sekali Seumur Hidup
-
Belajar dengan Suasana Bebas dalam Novel Sekolahku Bukan Sekolah
Ulasan
-
Novel Perempuan Bersampur Merah: Kisah Nyata Dukun Suwuk yang Difitnah
-
"Hidup Hanya Menunda Kekalahan": Jejak Filosofis Chairil Anwar dalam Aransemen Musik Banda Neira
-
Menelisik Satir Horor yang Unik meski Nggak Sempurna dalam Film Setan Alas!
-
Politik Pembangunan dan Marginalisasi Warga Pesisir dalam Si Anak Badai
-
Teka-teki Rumah Aneh: Misteri Kamar Tanpa Jendela dan Pergelangan Tangan yang Hilang
Terkini
-
Idulfitri Jalur Zen: Strategi Ibu-Ibu Hadapi Pertanyaan "Mana Calon Menantunya?".
-
Bukan Sekadar Ruam Merah: Ini Bahaya Fatal Campak yang Diabaikan Setelah Pandemi
-
Bingung Pilih Skincare? Yoursay Class Bareng Mydervia Punya Jawabannya
-
Bye Kulit Kering! 4 Cleanser Glycerin Bikin Lembap Tahan Lama Selama Puasa
-
Ramadan Connect by Yoursay: Diskusi New Media Jogja soal Niche dan Cuan