Luka paling menyakitkan terkadang hadir dari orang-orang paling dekat, dan kendatipun ‘mungkin telah tiada’ masih saja ada yang mengorek luka itu, terlepas apa pun motif di baliknya.
Inilah yang disuguhkan Film Sentimental Value buatan sutradara asal Norwegia, Joachim Trier yang tayang perdana di Festival Film Cannes pada 15 Mei 2025.
Joachim Trier sendiri sebelumnya menuai pujian mengejutkan lho dalam Film The Worst Person in the World. Dan kali ini menghadirkan drama keluarga yang tajam, menyakitkan, tapi juga diselingi humor getir. Dan ya, sang sutradara kembali menggandeng aktris andalannya, Renate Reinsve.
Berkisah tentang apa sih? Sini deh kepoin bareng!
Review Film Sentimental Value
Dikisahkan Gustav Borg (Stellan Skarsgård), sutradara flamboyan yang dulu pernah jadi nama besar. Sayangnya, masa kejayaannya sudah lewat, dan sekarang dia hanya tinggal legenda tua yang mencoba tetap relevan.
Gustav, dengan segala keegoisannya, memutuskan membuat film biopik tentang ibunya sendiri, yang mengakhiri hidupnya setelah mengalami trauma akibat disiksa di masa perang. Dan lebih ‘serunya’ lagi, lokasi syuting yang dia pilih adalah rumah masa kecilnya, yang hendak dijual kedua anak perempuannya: Nora (Renate Reinsve) dan Agnes (Inga Ibsdotter Lilleaas).
Nora tuh aktris teater sukses, tapi sedang berada di titik rapuh. Dia sering mengalami serangan cemas dan bahkan minta ditampar sebelum naik panggung sama lawan mainnya sendiri.
Sementara Agnes terlihat lebih stabil, hidup tenang bersama suami dan anaknya. Namun, masa kecilnya juga nggak luput dari luka. Dulu dia pernah jadi aktris cilik di film ayahnya, lalu ditinggalkan begitu saja setelah produksi selesai. Jadi wajar kalau keduanya marah besar saat Gustav tiba-tiba muncul membawa proyek film yang terasa sentimental dan personal ketimbang karya sinematik.
Seperti belum cukup kacau, Gustav kemudian memohon agar Nora memerankan neneknya sendiri (alias ibunya Gustav) dalam film.
Bayangkan betapa aneh dan menyakitkannya itu. Harus memerankan sosok wanita yang hidupnya tragis, sekaligus ibu dari pria yang pernah mengabaikan Nora. Gustav juga ingin memakai cucunya Agnes sebagai aktor cilik, seperti yang dulu Gustav lakukan pada Agnes.
Namun Nora, yang masih menyimpan luka dari masa lalu, menolak mentah-mentah. Sayangnya, Gustav bukan orang yang gampang menyerah. Dia malah menggandeng aktris Hollywood bernama Rachel Kemp (Elle Fanning), yang terpikat pesona Gustav dan membawa serta dana produksi besar. Hasilnya? Nora nggak hanya kecewa, tapi juga cemburu. Luka lama kembali terbuka!
Gustav dalam sekilas kisahnya pun sudah terasa sangat egois. Lalu, bagaimana dengan filmnya? Sini kupas bareng!
Review Film Sentimental Value
Menurutku Gustav sakit jiwa sih!
Dan adegan paling ganggu tuh saat Gustav memberikan hadiah ulang tahun ke cucunya berupa DVD film-film ‘kurang pantas’ seperti: ‘Irreversible dan The Piano Teacher’. Tentu dong, itu hadiah sangat nggak pantas untuk anak 10 tahun. Nah, di balik absurdnya, ada ironi, mereka tuh bahkan nggak punya pemutar DVD. Zaman berubah, dan film-film yang dulu dianggap ‘berbahaya’ ini jadi ‘artefak’ yang nggak bisa diputar.
Film ini, menurutku, banyak referensi sinematiknya lho, dan nggak malu menyindir dunia film itu sendiri. Terkait bagaimana sineas bisa jadi sosok yang haus pengakuan, bahkan dari anak-anaknya sendiri. Gustav tuh ibarat potret tragis dari sosok yang mencintai sinema lebih dari keluarganya, dan kini mencoba menebus semuanya dengan satu proyek yang sebenarnya cuma buat dirinya sendiri.
Film ini meski dibuka dengan humor dan situasi absurd, film ini lambat laun berubah jadi cerminan yang lebih tenang dan dingin terkait kehilangan, penyesalan, dan bagaimana menyusun narasi hidupi.
Akhir film mungkin terasa sedikit lunak bagi sebagian penonton yang mengharapkan adanya ledakan emosi atau penyelesaian yang dramatis. Namun, semua terbayar tuntas dengan keseluruhan hasil akhirnya. Dan bila Sobat Yoursay suka film dengan dinamika keluarga yang kompleks, Film Sentimental Value jelas wajib masuk watchlist.
Skor: 4/5
Baca Juga
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
-
Review The Disciple: A Wu-Tang Fable dan Ironi Album Eksklusif Wu-Tang Clan
-
Review Film Clayface: Saat Wajah Hilang, Jati Diri Ikut Hancur Total
Artikel Terkait
-
Cara Dapat Tiket Gratis Nonton Film The Fantastic Four: First Steps, Cuma Bayar 2 Dapat 4!
-
Lebih Sadis dan Tragis, Film Kitab Sijjin & Illiyyin Guncang Horor Indonesia
-
Bukan Horor Biasa, Kitab Sijjin & Illiyyin Disebut Film Paling Sadis dan Dramatis Tahun Ini
-
Sinopsis Film Tanvi The Great, Dibintangi Shubhangi Dutt dan Anupam Kher
-
Film Sore: Istri dari Masa Depan Guncang Bioskop, 9 Hari Langsung Pecah Rekor
Ulasan
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Insidious: Out of the Further, Petualangan Baru Melintasi Dua Dimensi
-
Beautiful Pain: Kisah Nyata Perjuangan Perempuan Bangkit dari Luka KDRT
-
Mengapa Pikiran Memengaruhi Keadaan Kita? Review Buku The Law of Attraction
-
Review Film Henry's First Date: Misteri Ingatan yang Tereset Setiap Pagi
Terkini
-
Bingung Mulai Investasi? New BIONS by BNI Sekuritas Bikin Semua Jadi Mudah
-
Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi
-
Romantis! Alpha Drive One Bahas Koneksi Emosional di Lagu Baru, Talk To Me
-
Pemerintah Gemar Solusi Instan, Siapa yang Menyelesaikan Akar Masalah?
-
Sisi Gelap Tren Thrifting: Niat Kurangi Limbah, Malah Nimbun Baju Bekas